Minyak Atsiri Indonesia

Warsito dkk.

REORIENTASI PROSES PENYULINGAN MINYAK KENANGA RAKYAT DALAM UPAYA MEMPEROLEH MUTU DAN EFISIENSI TINGGI

Warsito, Chandrawati Cahyani, Bambang Porwadi, Rurini Retnowati dan M.Farid Rahman (*)

(*) Pusat Kajian Kimia Fakultas MIPA Universitas Brawijaya

ABSTRAK

Minyak kenanga hasil sulingan rakyat hingga saat ini masih menjadi andalan bagi negara Indonesia, untuk memberi kontribusi pemasukan negara yang berasal dari sektor nonmigas. Namun patut disayangkan bahwa pembinaan terhadap para petani seringkali tidak berkelanjutan, sehingga produk minyak kenanga yang dihasilkan mempunyai mutu yang cenderung rendah dan akibatnya kurang memiliki nilai tawar.

Dalam upaya meningkatkan efektifitas proses penyulingan dan mutu minyak kenanga rakyat, telah dilakukan pengkajian dan perbaikan proses penyulingan minyak kenanga rakyat di kelurahan Togokan, kecamatan Srengat kabupaten Blitar. Pengkajian dilakukan dengan tinjauan lapang dan menganalisis proses penyulingan minyak kenanga yang dilakukan rakyat.

Peningkatan efektifitas proses penyulingan dan mutu minyak atsiri dilakukan dengan cara mengganti bahan baku tungku, membungkus ketel penyulingan dengan bahan isolator rockwool yang ditutup menggunakan plat stainlessteel, memonitor suhu dalam ketel menggunakan termokopel dan mem-fraksinasi penampungan destilat dengan interval 3 jam (3 jam s.d 21 jam).

Perbaikan pada proses penyulingan minyak kenanga rakyat yang meliputi peggunaan batu tahan panas sebagai bahan pengganti tungku mampu menyimpan panas dalam tungku, sehingga bahan bakar yang diumpankan lebih cepat terbakar, sedangkan penggunaan rockwool sebagai isolator panas pada ketel mampu menahan panas yang akan keluar melalui dinding ketel, akibatnya dinding. Pemasangan termokopel mampu mengontrol panas yang terdapat dalam ketel, sehingga panas dalam ketel dapat distabilkan dengan mengatur umpan bahan bakar. Penyempurnaan alat penyulingan seperti ini mampu menghemat bahan bakar mencapai 5 – 15 %.

Ditinjau dari kualitas minyak kenanga yang dihasilkan, tampak bahwa penerapan teknik penampungan destilat dapat menghasilkan fraksi-fraksi minyak kenanga yang mempunyai kualitas bervariasi. Fraksi ekstra dan utama yang memiliki aroma khas, tajam seperti bau bunga dengan indeks bias 1,495 dan berat jenis 0,925 diperoleh pada penampungan destilat 3 jam pertama dan komponen khas tersebut menurun terus hingga penampungan destilat 9 jam. Fraksi ini terdiri atas 6 komponen (tR 5,21 ; 7,09; 7,66; 11,25; 11,98 dan 14,02 menit) dengan persentase berkisar 1,23 % – 10,15 %. Kemunculan komponen yang memiliki aroma seperti kayu diperoleh maksimal pada penampungan destilat 15 jam dan terdiri atas 4 komponen (tR 16,16 ; 17,57; 18,75 dan 19,94 menit) yang memiliki persentase berkisar 2,88 % – 44,91 %. Komponen yang memiliki titik didih paling tinggi mencapai maksimal pada penampungan destilat 21 jam ke atas. Komponen ini antara lain untuk tR 23,63; 24,05 dan 27,40 menit dengan persentase berkisar 1,44 % – 6,48 %. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa penyulingan minyak kenanga dengan menggunakan model alat dan cara ini selain lebih efisien, mampu menghasilkan minyak kenanga yang lebih berkualitas dan dimungkinkan akan mampu meningkatkan nilai tawar minyak kenanga di pasaran.

Kata kunci : minyak kenanga rakyat, proses penyulingan, fraksinasi destilat.

PENDAHULUAN

Sebagai salah satu pusat mega-biodiversi-tas, Indonesia menghasilkan 40 jenis dari 80 jenis minyak atsiri yang diperdagangkan di pasar dunia. Diantara jenis minyak atsiri tersebut, ekspor minyak kenanga hasil produksi petani memiliki pangsa pasar mencapai 67%. Dalam bidang industri makanan seringkali minyak kenanga dipakai sebagai bahan flavor pada es krim, permen dan roti, sedangkan dalam industri kosmetik digunakan sebagai bahan wewangian untuk produk sampo, sabun, losion dan krim (Gaydou,1986; Leung, 1980).

Bahkan karena kemampuannya untuk menyerap sinar pada daerah ultraviolet, maka minyak kenanga dapat digunakan sebagai sunscreen dengan katagori suntan ( Warsito, 1990), sedangkan karena kemampuan komponen tertentu yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit serta memiliki aroma yang harum, akhir-akhir ini minyak kenanga digunakan sebagai bahan untuk aromaterapi ( Nurdjannah, 2006).

Secara umum komponen penyusun minyak kenanga dapat dianggap analog dengan kandungan minyak atsiri dari genus sejenis, yaitu minyak Ylang-ylang, tetapi keduanya hanya berbeda proporsi komponen penyusunnya. Minyak kenanga banyak mengandung sesquiterpen dan sesquiterpen alkohol serta kandungan esternya sedikit, sehingga memiliki aroma yang lebih berat dan sebaliknya minyak Ylang-ylang lebih banyak mengandung ester, sehingga mempunyai aroma lebih tajam, sebaliknya minyak kenenga banyak mengandung sesquiterpen. Menurut Klein (1975) dalam Gaydou (1986) minyak Ylang-ylang tersusun oleh puluhan senyawa yang dapat dikelompokkan ke dalam 6 kelompok meliputi monoterpen, terpen dan sesquiterpen alkohol, sesquiterpen hidrokarbon, senyawa-senyawa asetat, senyawa-senyawa benzoat dan fenol.

Kelengkapan komponen penyusun kedua minyak atsiri di atas sangat ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu preparasi serta keseragaman bahan baku bunga dan ketepatan proses pengolahannya. Apabila kondisi bunga terlalu muda mengakibatkan beberapa metabolit sekunder belum terbentuk, tetapi bunga yang terlalu masak mengakibatkan beberapa komponen yang bersifat sangat volatil sebagian besar hilang menguap. Sementara itu minyak atsiri yang diperoleh melalui proses penyulingan yang terlalu lama dapat mengakibatkan komponen ester terhidrolisis dan bahkan pemanasan yang berlebihan mengakibatkan warna menjadi coklat kehitaman, sehingga aroma dan tampilan fisik kurang menarik.

Selain minyak kenanga ekspor berasal dari daerah Banten, Cirebon dan Boyolali, minyak kenanga daerah Blitar mampu memasok hampir sepertiga bagian. Sejauh ini minyak tersebut diproduksi dalam skala home industry oleh rakyat yang teknologi dan skill-nya diperoleh secara turun-temurun dan tanpa mendapatkannya melalui pelatihan-pelatihan yang memadai. Keterbatasan penguasaan teknologi pengolahan minyak atsiri inilah yang mengakibatkan mutu produk minyak kenanga rendah dan tidak memiliki nilai tawar yang menjajikan. Hasil evaluasi lapang disimpulkan bahwa beberapa faktor yang mengakibatkan rendahnya mutu minyak kenanga produk rakyat Blitar antara lain (1) proses pemanasan ketel yang tidak terkontrol, sehingga tidak dapat diketahui stabilitas proses pemanasan bahan baku bunga kenanga dan bahkan dimungkinkan bunga yang menempel pada ketel terbakar yang dapat menurunkan kualitas minyak dan (2) proses penampungan destilat minyak atsiri yang dilakukan akumulatip dan tanpa mengkaitkan dengan komponen penting dalam minyak atsiri, sehingga hanya dihasilkan satu fraksi produk.

Kelemahan-kelemahan di atas dapat di atasi dengan meningkatkan pemahaman, ketrampilan tambahan dan pendampingan serta penyempurnaan peralatan untuk mengolah minyak kenanga yang telah dimiliki produsen. Dua kegiatan ini diharapkan akan mampu meningkatkan mutu minyak kenanga yang dihasilkan dan bahkan juga mampu meningkatkan rendemennya.

4 Comments »

  1. Sangat menarik kajian serta paparan diatas,saat ini saya tengah melakukan riset dan pengumpulan data untuk penyulingan kenanga dengan menggunakan katalis atau bahan aditif sehingga dihasilkan rendemen serta waktu proses yang lebih effisien.Saya ada di Blitar kalau ada info atau yang mau kerjasama dapat hub.atn samsu Hp 08563075866

    Comment by Samsu nuhan — September 29, 2009 @ 12:02 am

  2. Saya ingin tahu, apakah minyak kenanga dari Blitar yang di ekspor, dilakukan suling ulang? dan apakah memang perlu suling ulang? adakah produk turunan dari minyak kenanga? seperti cengkeh mempunyai beberapa produk turunan. Kalau ada, komponen apa saja dan apa nama merek dagangnya. Terima kasih

    Comment by eko yuwono — February 1, 2010 @ 1:27 am

  3. saya ingin melakukan penelitian tentang bunga kenanga. apakah ada metode lain selain penyulingan. thanks

    Comment by rain — September 14, 2011 @ 6:57 am

  4. Saya sangat tertarik dengan usaha bunga kenanga selain bisa di ambil bunganya bisa menjaga kestabilan tanah bisa terjaga hutan ndak gudul lagi habitat dan ekosistem bisa normal lagi,,,,, gara gara hutan gundul banyak sekali yang di rugikan ,……kami ingin sekali menanam pohon kenanga cuma awal saya bingung mulai dari mana ,,,

    Comment by Yasir rosyadi — March 6, 2012 @ 6:07 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: