Minyak Atsiri Indonesia

Warsi Rahmat Atmadja

HAMA-HAMA PADA TANAMAN MENTHA DAN PENGENDALIANNYA

Oleh: Warsi Rahmat Atmadja, Balittro

Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Volume 14 Nomor 2, Agustus 2008

Hama yang hadir di pertanaman mentha di antaranya: ulat pemakan daun, ulat penggulung daun (Sylepta sp.), belalang, kutu putih (Planococcus sp.), keberadaan dilapang hama-hama tersebut populasinya sangat rendah. Hama lain di lapang yang perlu mendapat perhatian adalah rayap tanah (Coptotermes sp.), karena hama tersebut cukup tinggi populasinya dan menyerang akar tanaman mentha sehingga menjadi kering dan tanaman mati. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu hama utama tanaman mentha adalah tungau merah hama tersebut sering disebut spider mites atau red spider mites. Hama tungau merah (Tetranychus sp.), menyerang daun muda maupun daun tua, dengan cara mengisap cairan daun. Gejala serangan Tetranychus sp. ditandai dengan timbulnya bercak-bercak yang pada awalnya berwarna putih kekuningan lama-kelamaan berubah seperti karat. Bercak ini dapat meluas pada seluruh permukaan daun seiring meluasnya serangan.

Tanda serangan hama dapat dilihat dari bentuk daun menjadi berlekuk-lekuk tidak teratur akhirnya merontok. Populasi tungau merah berkembang dan tumbuh cepat pada M. piperita terutama pada kultivar dari New Zealand.

Pengendalian Hama Tanaman Mentha

1. Pengendalian hama-hama yang bukan merupakan hama penting

Populasi ulat pemakan daun, ulat penggulung daun (Sylepta sp.), belalang dan kutu putih (Planococcus sp.), biasanya rendah atau keberadaannya tidak membahayakan pertanaman mentha. Pengendaliannya dapat dilakukan sewaktuwaktu dengan menggunakan insektisida sintetis (monokrotofos) atau nabati (mimba), dengan konsentrasi masing-masing : monokrotofos 2 cc/l dan mimba 5 cc/l. Monitoring perlu dilakukan setiap bulan.

2. Pengendalian hama rayap tanah.

Pengendalian hama rayap tanah pada pertanaman mentha di lapang dilakukan dengan pengamatan hama rayap tanah setiap dua minggu. Apabila sudah ditemukan tanaman mentha yang terserang rayap maka perlu dilakukan pembongkaran tanaman yang terkena rayap dan menyemprot dengan insektisida sintetis (karbofuran atau karbamat) 2 cc/l atau insektisida nabati anti rayap.

3. Pengendalian tungau merah (Tetranychus sp.).

Komponen pengendalian yang dilakukan terhadap tungau merah (Tetranychus sp.) pada tanaman mentha adalah sebagai berikut:

Bercocok tanam

Cara bercocok tanam seperti : a) pengaturan waktu tanam dan waktu panen, b) tanam serempak, c) pengaturan jarak tanam, d) penggunaan tanaman perangkap, e) pemangkasan/ pemetikan dan f) pemupukan yang tepat waktu dan dosis.

Berdasarkan perkembangan populasi tungau merah yang tinggi pada musim kemarau, maka pengaturan waktu tanam mentha dapat ditentukan. Penanaman dilakukan pada saat terjadinya musim hujan. Hal ini disamping dapat menekan serangan tungau merah, juga pertumbuhan tanaman akan baik. Mentha adalah tanaman yang menghendaki curah hujan yang tinggi (antara 2.000 – 4.000 mm/tahun) untuk pertumbuhannya dengan hari hujan rata-rata 150 – 240 hari. Dengan pengaturan waktu tanam, maka waktu panen dapat diatur. Panen dilakukan dalam kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan tungau merah berkembang khususnya pada saat panen pertama. Panen dapat dilakukan dengan intensitas setiap 2 bulan.

Penanaman mentha dilakukan secara serempak, karena akan memudahkan pengamatan terhadap populasi dan tingkat serangan tungau merah. Jarak tanam dapat diatur sedemikian rupa, untuk menghindari perpindahan tungau merah dari satu tanaman ke tanaman lainnnya. Kultivar yang memiliki sifat lebih banyak menjalar akan lebih baik bila ditanam dengan jarak tanam yang lebar (misal M. piperita) dan sebaiknya bila memiliki sifat tegak (M. arvensis) dapat ditanam lebih rapat.

Penggunaan tanaman perangkap yang ditanam di sekitar tanaman mentha akan dapat menekan serangan tungau merah pada tanaman mentha. Studi inang alternatif tungau merah asal tanaman mentha yang ditanam dengan tanaman inang lainnya dalam skala rumah kaca, menunjukkan bahwa populasi tungau merah tertinggi terjadi pada tanaman Angelica acutiloba dan Ricinus communis, sehingga kedua jenis tanaman ini dapat digunakan sebagai tanaman perangkap di lapangan.

Pemangkasan/pemetikan daun mentha dapat dilakukan dalam upaya mencegah meluasnya serangan. Pemangkasan/ pemetikan dilakukan saat populasi tungau merah tinggi. T Kerusakan tanaman jambu mete akibat serangan Helopeltis ….. Pemangkasan dapat menyebabkan terbuangnya sebanyak mungkin telur-telur dan tungaunya. Hasil pemangkasan ini kemudian dibakar. Apabila air tersedia dalam jumlah cukup drainasenya baik pemangkasan dapat dilakukan pada musim kemarau, sehingga pada musim hujan tanaman dapat tumbuh kembali. Pemetikan jangka pendek lebih baik dari pada pemetikan jangka panjang, karena pada pemetikan jangka pendek tungau merah belum sempat meningkatkan populasinya.

Pemupukan dilakukan dengan dosis yang tepat, hal ini di samping untuk memperoleh tanaman yang tumbuh baik juga menghindari serangan tungau merah.

Penggunaan kultivar tahan.

Hasil penelitian di laboratorium dari enam kultivar mentha yang diuji yaitu : M. piperita Manoko, Black Mitcham, New Zeland, M. arvensis Tampaku, Taiwan dan Jombang, menunjukkan bahwa M. arvensis. Jombang memiliki daya tahan yang lebih baik dari kultivar lainnya.

Pengendalian secara hayati (Biologi).

Pengendalian secara hayati pada tanaman mentha dengan menggunakan musuh alami : Coccinela repanda, C. arcuata, Chilomenes sexmaculata, Verenia afficta, V. lincara dan Chilocorus sp.. Musuh alami lain adalah Phytoseiuluspermilis, P. plumifer, P. corniger, Zetzelia mali, Agistemus fanari, Euseius vivax, Iphiseius degenerans (ocari), Stethorusgilvifrons, S. bifidus, S. utilis, S. punctillum (Coleoptera), Chrysopa carnea, Olygota oviformis (Neuroptera), Seoloptrips sex maculatus (Thysanoptera).

Pengendalian secara kimiawi.

Pengendalian secara kimia dengan menggunakan akarisida. Akarisida cairan (Amitraz 1 cc/l) yang diberikan pada 2, 4, 6, dan 8 minggu setelah tanam dan kombinasi karbofuran 3% 17 kg /ha dan cairan Amitraz 1 cc/l. Akarisida diberikan pada saat , 2, 4 dan 6 minggu setelah tanam dapat menekan populasi tungau merah pada tanaman mentha.

Pengendalian hama terpadu.

Berdasarkan komponen-komponen pengendalian yang dapat diterapkan terhadap tungau merah pada tanaman mentha, maka dapat dilaksanakan sebagai berikut:

  • Bulan pertama sampai pertengahan bulan kedua persiapan tanam.
  • Bulan kedua sampai pertengahan bulan kesembilan penanaman varietas tanaman mentha yang tahan terhadap serangan hama tungau merah, penanaman tanaman perangkap.
  • Pada pertengahan bulan 3, 4, 5, 6, 7 dan ke 8 dilakukan monitoring terhadap hama tungau merah.
  • Pada bulan ketiga, kelima dan ketujuh aplikasi akarisida.

Bersamaan dengan penanaman  mentha, ditanam pula tanaman perangkap seperti: Angelica acuiloba dan Ricinus communis (jarak kepyar) di sekitar tanaman mentha. Penggunaan tanaman ini mempunyai fungsi ganda, A. acutiloba selain sebagai tanaman perangkap adalah tanaman obat yang memiliki khasiat untuk mengobati penyakit yang diderita kaum wanita antara lain : melancarkan haid, memudahkan saat melahirkan, menghilangkan rasa nyeri, dan menguatkan tubuh. Biji tanaman R. communis dapat digunakan sebagai obat pencuci perut, daunnya untuk obat pegal, bisul, bengkak keseleo, sakit kepala dan sebagai obat luar untuk membesarkan aliran air susu. Penanaman kedua jenis tanaman tersebut dapat pula dilakukan secara tumpang sari.

Selama masa pertumbuhan tanaman, kegiatan pengamatan terus dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya serangan tungau merah baik pada tanaman mentha maupun tanaman perangkap. Pengamatan dimaksudkan untuk menerapkan langkah-langkah selanjutnya dalam penanganan serangan tungau merah, seperti perlu atau tidaknya tindakan pemangkasan/pemetikan, penggunaan akarisida atau membiarkan terjadinya serangan karena dianggap populasi dan kerusakan yang ditimbulkan tidak berarti. Penggunaan akarisida dilakukan terhadap tungau merah yang pada tanaman perangkap, hal ini dimaksudkan untuk menghindari meluasnya serangan pada tanaman mentha. Aplikasi akarisida dilakukan seminggu sebelum populasi tungau merah mencapai maksimum.

Penutup

Dalam mengendalikan hama tanaman mentha yang bukan merupakan hama utama cukup dengan menggunakan insektisida sintetis dan nabati. Untuk mengendalikan hama utama tanaman mentha seperti tungau merah (Tetranychus sp.) dapat dilakukan dengan cara bercocok tanam (pengaturan waktu tanam atau panen, tanam serempak, pengaturan jarak tanam, penggunaan tanaman perangkap, pemangkasan/pemetikan dan pemupukan), penggunaan kultivar tahan, pengendalian secara hayati dan kimiawi. Pengendalian terpadu melalui perpaduan komponen pengendalian secara bercocok tanam dengan penggunaan kultivar tahan dan akarisida lebih berpeluang dalam mengatasi hama tersebut.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: