Minyak Atsiri Indonesia

Abban Putri Fiqa dan Titut Yulistyarini

STUDI POPULASI DAN EKOLOGI Cinnamomum sintoc Blume DI KAWASAN HUTAN GUNUNG KELUD-JAWA TIMUR

Oleh: Abban Putri Fiqa dan Titut Yulistyarini

UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi-LIPI; Tel./Fax. : 0341-426046 ; email : 1 abbanpf@gmail.com, 2 tyulistyarini@yahoo.com

ABSTRAK

Sintok (Cinnamomum sintoc Bl.) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri pada batang dan daunnya. Sintok ditemukan di hutan-hutan primer dan sekunder dengan status keberadaan di alam yang mulai terbatas jumlahnya. Studi populasi dan ekologi sintok dilakukan di kawasan Hutan lindung Gunung Kelud dengan membuat plotplot pengamatan setelah mencapai kawasan di atas ketinggian 700 m dpl. Data yang dikumpulkan dalam analisis vegetasi di kawasan meliputi data ekologi biotik meliputi kelimpahan spesies (C. sintoc) dan komposisi vegetasi sekitarnya, serta data abiotik meliputi karakteristik habitat berupa faktor edafik, topografi dan klimatik. Hasil analisis vegetasi menunjukkan bahwa di kawasan Gunung Kelud dengan ketinggian 704-793 m dpl jumlah spesies sintok yang ditemukan dalam habitus pohon sebanyak dua spesimen, sedangkan dalam bentuk belta sebanyak satu spesimen. Beberapa jenis pohon yang ditemukan dalam jumlah tinggi di sekitar sintok adalah pohon Sterculia cf. coccinea dan Erythrina subumbrans, jenis belta adalah Tabernaemontana sphaerocarpha dan jenis tumbuhan bawah adalah Paspalum sp. C. sintoc ditemukan pada kawasan terbuka, kemiringan lahan antara 30-80°, kelembaban udara 82%, tekstur tanah pasir dengan ketersediaan unsur hara rendah.

Keywords : Cinnamomum sintoc, plot pengamatan, Gunung Kelud, studi populasi dan ekologi.

1. PENDAHULUAN

Cinnamomum sintoc Blume merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri pada batang dan daunnya. Secara luas tanaman ini dikenal dengan nama sintok, huru sintok (Jawa), huru sitok (Sunda) dan madang sangit atau madang lawang (Sumatera). Sintok ditemukan di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan (Lemmens, Soerianegara and Wong, 1995).

Pohon sintok dapat mencapai tinggi 20 – 30 m, batangnya coklat kehitaman, dengan diameter 70 cm, sedangkan kayunya berwarna coklat kemerahan, berbau harum seperti cengkih. Daun sintok melonjong dengan ukuran panjang 7 – 17,5 cm dan lebar 2,5 – 5,5 cm, tulang daun menjari tiga, daun muda berwarna merah-ungu kehijauan, permukaan daunnya mengkilat. Pohon ini memiliki perbungaan yang berbentuk malai
(Anonimous, 2008).

Selain sebagai penghasil minyak atsiri, kayu sintok juga digunakan sebagai bahan obat untuk menyembuhkan sakit encok dan digigit serangga, disentri, sariawan dan cacingan. Di Sukabumi, kayu sintok digunakan sebagai obat dengan cara ditumbuk dan dibalurkan ke daerah yang sakit (Hidayat, 2006). Kulit kayunya juga digemari sebagai obat, baunya yang khas berasal dari minyak eugenol yang dapat digunakan sebagai bahan kosmetik. Minyak atsiri yang terkandung dalam kayunya dapat memberi wangi dan juga mempunyai sifat anti bakteri (Dzulkarnain dan Wahjoedi, 1996). Di beberapa daerah, kayu sintok juga digunakan sebagai bahan bangunan.

Perbanyakan C. sintoc Bl. dilakukan dengan biji. Perkecambahan biji sintok terjadi 10-12 hari setelah tanam, dengan persentase perkecambahan mencapai 80-90%. Sebelum dikecambahkan biji dibersihkan lebih dulu dari daging buahnya. Perendaman biji ke dalam air panas sebelum tanam menyebabkan biji tidak mampu berkecambah (Yulistyarini, 2007, data belum dipublikasikan). Hasil pengamatan Irawanto dan Darmayanti (2008) menyebutkan bahwa sintok berbuah sekali dalam satu tahun, terjadi antara bulan Oktober – Desember. Siklus reproduksi (masa berbunga dan berbuah) tanaman terjadi pada awal musim hujan dan pada kisaran suhu 21,08°–30,83°C.

Sintok umumnya tumbuh di hutan-hutan pada ketinggian 700 – 1.700 m diatas permukaan laut. Biasanya ditemukan di antara perdu dan semak hutan-hutan sekunder, pada daerah yang tidak ternaungi atau terbuka (Backer and van de Brink, 1963). Tanaman ini cenderung individual, jarang ditemukan mengelompok. Hidayat (2006) menyebutkan terdapat kesenjangan antara jumlah pohon sintok dan anakannya, sehingga diduga tanaman ini menemui kesulitan dalam regenerasinya di alam. Dilaporkan bahwa keberadaan sintok di P. Jawa jumlahnya semakin sedikit, bahkan Rifai et. al. (1992) menyebutkan sintok termasuk sebagai tumbuhan obat di Jawa yang berstatus terkikis.

Dalam upaya konservasi sintok, maka perlu dilakukan studi untuk mengetahui populasi sintok di Hutan Lindung Gunung Kelud, Kabupaten Blitar. Disamping itu, ingin diketahui pula aspek-aspek ekologi yang mendukung pertumbuhan sintok di habitat alaminya. Dari hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan informasi dalam upaya pembudidayaan tanaman ini, sehingga proses kelangkaannya dapat dicegah dan pengembangan potensinya dapat dilakukan.

2. METODE

Studi populasi dan ekologi C. sintoc dilakukan dengan membuat plot-plot pengamatan 10 x 10 m dalam transek berukuran 100 x 20 m. Plot yang dibangun berbentuk bujursangkar yang berlainan ukurannya untuk setiap kelas vegetasi dengan menggunakan metode plot bersarang (nested plot method). Untuk kelas vegetasi tumbuhan bawah, plot yang dibuat berukuran 2 x 2 m, kelas belta 5 x 5 m dan kelas pohon 10 x 10 m (Gambar 3). Jumlah plot yang dibuat sebanyak 50 plot (10.000 m2). Pembuatan plot dilakukan setelah mencapai kawasan atas ketinggian 700 m dpl, yaitu dimana diperkirakan sintok dapat ditemukan.

Gambar transek pengamatan:

01

Data yang dikumpulkan meliputi data ekologi biotik dan abiotik. Data biotik yang dikumpulkan meliputi kelimpahan spesies C. sintoc dan komposisi vegetasi sekitarnya. Sedangkan data abiotiknya meliputi karakteristik habitat berupa faktor edafik berupa tekstur tanah, topografi dan klimatik (suhu dan kelembaban relatif udara). Untuk faktor edafik dilakukan pengambilan sampel tanah lapisan top soil (0-20 cm) dan subsoil (20-80 cm serta > 80 cm dengan ring sampel berdiameter 2 inci untuk memperoleh data fisika dan kimia tanah, meliputi tekstur tanah, pH, rasio C/N, serta kandungan bahan organik dan makro dan mikro elemen. Data klimatik diperoleh dari stasiun klimatologi Gunung Kelud.

Pada setiap plot, besaran yang dihitung adalah kerapatan dan frekuensi dengan menghitung jumlah individu tiap jenis yang ada dalam plot kemudian dianalisis vegetasi. Selain itu dikumpulkan juga data karakter tanaman dan diukur diameter setinggi dada, untuk kelas tiang dan pohon serta Indeks Nilai Penting (INP).

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Kondisi Umum Hutan Gunung Kelud

Gunung Kelud, secara administratif terletak di antara tiga Kabupaten, yaitu perbatasan Kab. Kediri (27 km sebelah timur Kota Kediri), Kab. Blitar dan Kab. Malang, Propinsi Jawa Timur. Puncak Gunung Kelud berada pada ketinggian 1731 m dpl yang terletak di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, sedangkan danau kawah terletak di ketinggian 1113,9 m dpl (Sayudi, 2007). Hutan lindung yang terletak di punggungan Gunung Kelud, topografinya berbukit dengan keadaan lereng yang sedang hingga curam.

Penelitian di kawasan hutan Gunung Kelud dilakukan melalui daerah Kabupaten Blitar. Lokasi yang diamati terletak di kawasan hutan lindung sebelah Barat Laut dan Timur perkebunan kopi Rotorejo, dusun Putukrejo, desa Gedangan, Kecamatan Gandusari (Gambar1). Secara umum, lokasi pengamatan memiliki suhu udara 21°C dan kelembaban udara 82 %. Kawasan hutan di daerah ini rata-rata berada pada ketinggian di bawah 1000 m dpl. Bentang alam yang dijumpai adalah berbukit-bukit dengan kelerengan bervariasi antara 30-70%.

Wilayah gunung ini banyak didominasi oleh berbagai jenis perdu dan tumbuhan merambat. Kondisi panas sangat terasa dengan suhu udara rata-rata pada pagi hingga siang hari antara 25-30°C dan kelembaban relatif udara rata-rata di bawah 90%. Meskipun demikian jenis-jenis Cinnamomum yang umumnya berpotensi obat ditemukan di sini seperti Cinnamomum burmanni, C. iners, C. cassia dan C. sintoc, (Hidayat, 2006).

0g1

Gambar 1. Peta Kabupaten Blitar

3.1 Struktur Vegetasi Hutan Gunung Kelud

Penelitian dilakukan di kawasan sebelah barat laut dan timur hutan lindung Gunung Kelud. Dari hasil pengamatan ditemukan C. sintoc sebanyak tiga spesimen, dua spesimen berhabitus pohon, sedangkan satu spesimen berhabitus belta. Hal ini sesuai dengan kondisi yang dilaporkan Hidayat (2006), bahwa di Jawa Timur, sintok ditemukan dalam jumlah sedikit (kurang dari 10 spesimen) di hutan lindung Gunung Kelud dan TN Meru Betiri.

Analisis vegetasi dilakukan untuk mengetahui komposisi spesies dan struktur komunitas pada suatu wilayah, dalam hal ini adalah habitat alami C. sintoc. Analisis yang dilakukan dengan parameter kuantitatif, yaitu pengukuran kerapatan frekuensi, untuk selanjutnya dihitung INP masing-masing spesies yang ditemukan. Menurut Indriyanto (2006), dalam analisis komunitas, sangat penting didapatkan data kuantitatif dari semua spesies yang menyusun komunitas, agar dapat mengemukakan komposisi floristik serta sifat-sifat komunitas tumbuhan secara utuh dan menyeluruh.

Dari hasil analisis vegetasi diketahui terdapat 20 spesies pohon yang menyusun komunitas di sekitar C. sintoc. Dari 20 spesies pohon tersebut yang memiliki INP tertinggi adalah Erythrina subumbrans (Fabaceae) dan Sterculia cf. coccinea (Sterculiaceae) masing-masing sebesar 17% (Gambar 2). Besarnya INP menunjukkan tingkat penguasaan dalam suatu komunitas tumbuhan, artinya spesies-spesies tumbuhan yang menguasai suatu komunitas pasti memiliki INP paling besar (Soegianto, 1994 dalam Indriyanto, 2006). Spesimen C. sintoc dalam habitus pohon yang tumbuh di kawasan ini hanya memiliki INP sebesar 4%. Dengan demikian, tumbuhan ini bukan merupakan spesies kunci yang menentukan struktur komunitas suatu kawasan.

0g2

Gambar 2. Pohon dengan INP tertinggi

Pada kawasan ini jenis belta lebih banyak ditemukan daripada jenis pohon. Jumlah belta yang ditemukan di sekitar C. sintoc sebanyak 54 jenis. Sedangkan C. sintoc dalam habitus belta, hanya ditemukan satu spesimen saja. Jenis belta yang mempunyai INP tertinggi adalah Tabernaemontana sphaerocarpha (Apocynaceae) sebesar 12%. Jenis lain yang juga memiliki INP tinggi yaitu jenis Dendrochnide stimulans (Urticaceae) sebesar 8% serta Pinanga coronata (Arecaceae) dan Trevesia sundaica (Araliaceae) masingmasing sebesar 7% (Gambar 3).

0g3

Gambar 3. Belta dengan INP tertinggi

Jenis tumbuhan bawah yang dijumpai tumbuh di sekitar sintok sebanyak 137 jenis. Tumbuhan bawah yang ditemui sebagian merupakan seedling dari pohon-pohon dan ada pula yang berhabitus herba. Pada habitus ini, tidak dijumpai spesimen yang teridentifikasi sebagai C. sintoc. Hal ini disebabkan karena cirinya hampir sama dengan genus Cinnamomum lainnya. C. sintoc dibedakan dari jenis-jenis Cinnamomum lainnya dari ciriciri kulit batang pinggir merah, akar yang juga merah dan bau seperti cengkeh serta kulit batang mengandung zat seperti lem. Dalam bentuk seedling, maka ciri-ciri seperti itu sulit untuk ditemui. Genus Cinnamomum sendiri ditemukan dalam jumlah 11 spesiemen. Jenis tumbuhan bawah dengan nilai INP tertinggi adalah jenis rumput-rumputan Paspalum sp.
sebesar 13,05. Selain itu terdapat pula Euphatorium inufolium (Asteraceae) dengan INP sebesar 11,99. Chloranthus elatior (Chloranthaceae) juga memiliki niali INP cukup tinggi yaitu 11,648, serta Pilea sp. (Urticaceae) dengan INP 11,457 (Gambar 4).

0g4

Gambar 4. Tumbuhan Bawah dengan INP tertinggi

3.2 Kondisi Lingkungan Cinnamomum sintoc Blume

Di kawasan ini, C. sintoc ditemukan pada ketinggian 704-793 m dpl, dengan kemiringan lahan antara 30-80° (Tabel 1).

0t1

Pada area sekitar plot pengamatan, suhunya adalah sekitar 21°C dan kelembaban udara adalah 82%. Sintok dijumpai pada area dengan intensitas cahaya matahari tinggi, yaitu sekitar 90-100%. Tekstur tanah di area pengamatan adalah pasir, sebagaimana tekstur tanah di area Gunung Kelud yang lain. Berdasarkan hasil analisis tanah (Tabel 2), tanah  tempat tumbuh sintok mempunyai sifat cenderung masam. Tanah-tanah di kawasan ini merupakan tanah vulkanik dan termasuk jenis-jenis tanah yang sedang dalam keadaan berkembang. Tanah-tanah demikian biasanya memiliki kesuburan tanah rendah. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya kandungan C organik, kandungan Nitrogen (N), Phospor (P), Kalium (K) rendah.

0t2

4. KESIMPULAN

Pada kawasan hutan lindung Gunung Kelud ditemukan C. sintoc sebanyak 2 spesimen pohon dan 1 spesimen belta. Jenis pohon yang ditemukan dalam jumlah tinggi di sekitar sintok adalah pohon Sterculia cf. coccinea dan Erythrina subumbrans. Sedangkan jenis belta dan tumbuhan bawah yang banyak ditemukan adalah Tabernaemontana sphaerocarpha dan Paspalum sp. C. sintoc ditemukan pada kawasan terbuka, tidak banyak ternaungi pohon dan pada kemiringan lahan antara 30-80°. Seluruh spesimen C. sintoc yang ditemukan berada pada ketinggian di atas 700 m dpl, pada kelembaban udara 82%. Habitat alami sintok di hutan Gunung Kelud memiliki tanah dengan tekstur pasir, bersifat cenderung asam, dan ketersediaan unsur hara yang relatif rendah.

5. DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2008. Artikel Tentang Kelud. http://www.kedirikab.go.id/home.php?mode= content&id=254. Akses tanggal 28 November 2008.

Anonimous. 2008. Perangko seri Lingkungan Hidup. SINTOK. Nama latin : Cinnamomun sintoc. http://www.menlh.go.id/PerangkoHLH/PerangkoHLH2004 /PerangkoHLH2004-Sintok.htm. akses tanggal 24 November 2008.

Backer, C.A. dan R.C.B. van de Brink, J.R. 1963. Flora of Java 1: 105. Noordhoff. Groningen.

Dzulkarnain, B. dan B. Wahjoedi. 1996. Kegunaan Kosmetik Tradisional. Cermin Dunia Kedokteran No. 108. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/08InformasiIlmiah KegunaanKosmetik108.pdf , diakses tanggal 24 November 2008.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid II. Yayasan Sarana Wana Jaya. Jakarta.

Hidayat, S. 2006. Tumbuhan Obat Langka di Pulau Jawa. Populasi dan Sebaran. Pusat Konservasi Tumbuhn Kebun Raya Bogor-LIPI. Bogor. Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara. Jakarta.

Irawanto, R. dan A.S. Darmayanti. 2008. Potensi Cinnamomun sintoc Bl. dan Konservasinya. Prosiding Seminar Nasional Biodiversitas II. Biodiversitas untuk Pembangunan Berkelanjutan. Departemen Biologi-Universitas Airlangga. Surabaya.

Lemmens, R.H.M.J, I. Soerianegara and W.C. Wong (ed). 1995. PROSEA (Plant Resources of South East Asia) No. 5 (2) Timber Tree : Minor Commercial Timbers. PROSEA Foundation. Bogor.

Rifai, M.A., Rugayah, E.A. Widjaja. 1992. Tiga Puluh Tumbuhan Obat Langka Indonesia. Sisipan Floribunda 2:1-28. 17 Juli 1992. Penggalang Taksonomi Tumbuhan Indonesia. Bogor.

Sayudi, D.S. 2007. Kelud: Jawa Timur. http://www.vsi.esdm.go.id/gunungapiIndonesia /kelud/umum.html akses tanggal 28 November 2008.

4 Comments »

  1. tolong ya klo pernah denger daun bethok saya minta info lengkap dan gambarnya,saya perlu buat pengobatan,saya rada kesulitan krn didaerah berbeda2 tetapi apaun daerahnya asal ada daun tersebut saya minta infonya ya sebelumnya trims…

    Comment by adeira — September 29, 2010 @ 6:53 am

  2. saya mau tanya..
    seperti apa karakteristik tanah di daerah puncak wisata g. kelud??
    tanaman apa yang cocok untuk di tanami di daerah puncak wisata g. kelud?
    mohon bantunnya,,,,saya ucapkan terima kasih atas perhatinnya

    Comment by Andresta — October 4, 2010 @ 9:23 pm

  3. Mau tanya di daerah mana banyak terdapat kayu sintok ? Terima kasih atas informasi dan penjelasannya. Wassalam

    Comment by Heru — December 1, 2010 @ 9:40 pm

  4. saya mau membudayakan c.sintok..di daerah dairi 1800 m dpl..lokasi 3 ha..apakah saya bisa beli Bibit nya..mohon petunjuk tks Sofyan sianturi 082113132956

    Comment by sofyan — April 15, 2011 @ 7:22 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: