Minyak Atsiri Indonesia

Diratpahgar Deptan

TEKNIS BUDIDAYA MENTHA

Oleh: Direktorat Tanaman Rempah dan Penyegar (Diratpahgar)

Mentha (Mentha Arvensis,L) merupakan salah satu tanaman herbal aromatik penghasil minyak atsiri yang mempunyai masa depan prospektif. Kebutuhan mentha Indonesia saat ini dipenuhi seluruhnya dari luar negeri. Bagaimana budidaya mentha secara utuh akan disajikan secara bertahap. Pada kesempatan ini akan disajikan sejarah dan pengembangannya.

Jenis mentha yang berpeluang untuk dikembangkan di Indonesia adalah sebagian dari jenis M. arvensis yang tidak memerlukan panjang hari tertentu untuk berbunga. M. arvensis var. Javanica merupakan varietas asli Indonesia, pertumbuhannya tegak dan rimbun, tetapi kandungan minyak dan mentholnya sangat rendah dan tidak komersial. M. arvensis mampu beradaptasi di dataran rendah dengan pertumbuhan tegak dan dapat berbunga.

Kebutuhan bahan baku untuk produk berbasis mentha seluruhnya masih diimpor. Pada tahun 2004, Indonesia mengimpor minyak permen sebanyak 242 ton/tahun dengan nilai US $ 1,756 juta dan kristal menthol 483 ton/tahun dengan nilai US $ 3,277 juta. Sementara pada tahun 2005, Indonesia mengimpor minyak permen sebanyak 345 ton/tahun dengan nilai US $ 3,99 juta dan kristal menthol 684,1 ton/tahun dengan nilai US $ 4,6 juta.

Kebutuhan minyak permen, cornmint, DMO dan kristal menthol terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga tanaman mentha berpeluang untuk dikembangkan di Indonesia. Pengembangan mentha di Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor, menghemat devisa, menambah lapangan kerja, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Minyak M. arvensis dalam perdagangan disebut cornmint oil, banyak digunakan sebagai bahan campuran dalam pembuatan permen, pasta gigi, minyak angin, balsem dan berbagai obat-obatan. Minyak cornmint mempunyai sifat mudah menguap, tidak berwarna, berbau tajam, dan menimbulkan rasa hangat diikuti rasa dingin menyegarkan. Minyak ini diperoleh dengan cara menyuling ternanya (batang dan daun).

Kandungan utama minyak M. arvensis (cornmint oil) adalah menthol, menthone dan menthyl asetat, dengan kandungan menthol tertinggi. Minyak M. arvensis (cornmint oil) sebagai sumber utama menthol. Minyak yang sudah diisolasi mentholnya disebut dementholized oil (DMO). DMO dapat digunakan sebagai substitusi minyak permen (peppermint oil) yang dihasilkan dari M. piperita.

Menthol berkhasiat sebagai obat karminatif (penenang), antispasmodik (anti batuk) dan diaforetik (menghangatkan, menginduksi keringat).

I. Sejarah dan Pengembangannya

Tanaman mentha (mentha arvensis) berasal dari daerah subtropik, sekitar Mediterania (Laut Tengah). Mentha dapat tumbuh di daerah lembab dan hutan-hutan pada ketinggian 150 m sampai 900 m dpl. M. arvensis var Javanica banyak terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Menurut sejarah, penyebaran mentha untuk daerah sekitar Asia diduga berasal dari Eropa, yang pada mulanya tanaman ini disebarluaskan oleh orang Spanyol di daerah Semenanjung Malaya dan Singapura. Sementara itu M. arvensis var Javanica, banyak tersebar di Srilangka, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Filipina dan Maluku. Di India mentha banyak ditanam hingga ketinggian 1.219 m dpl dengan suhu optimum 20-30ºc. Selain itu, mentha banyak ditanam di Jepang, Brazilia, Cina dan Argentina.

Pada tahun 1950 tanaman ini telah banyak dibudidayakan di California, Washington, Oregon, Michigan, Ohio serta negara-negara lainnya yang menghasilkan minyak atsiri seperti Romania, Inggris, Perancis, Maroko, Rusia, Argentina dan Bulgaria.

Jenis mentha yang berpeluang untuk dikembangkan di Indonesia adalah sebagian dari jenis M. arvensis yang tidak memerlukan panjang hari (± 12 jam) untuk berbunga. M. arvensis var. Javanica merupakan jenis asli Indonesia, pertumbuhannya tegak dan rimbun, tetapi kandungan minyaknya sangat rendah dan tidak komersial. M. arvensis asal Jepang, Taiwan dan Jombang mampu beradaptasi di dataran rendah dengan pertumbuhan tegak dan dapat berbunga.

M. piperita dan M. arvensis pernah dibudidayakan di Jawa Barat, terutama di Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Bandung dan Garut, sedangkan M. arvensis dibudidayakan di Jawa Timur, di kabupaten Jombang dan Tulungagung.

3 Comments »

  1. teknis budidayanya kok tidak ada??

    Comment by acep — January 21, 2011 @ 5:01 am

  2. teknik bididayanya mana???

    Comment by unni — March 13, 2012 @ 3:25 am

  3. iaya mana teknis buddayanta????

    Comment by ik — December 28, 2012 @ 6:52 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: