Minyak Atsiri Indonesia

Molide Rizal

PEMANFAATAN TANAMAN ATSIRI SEBAGAI PESTISIDA NABATI

Oleh:  Molide Rizal

Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

mr

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan mega-biodiversitas hayati tertinggi kedua di dunia. Diantara kekayaan flora nusantara terdapat 900 jenis tanaman atsiri yang belum digali dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan bahan tanaman atsiri, selain digunakan dalam industri parfum dan toiletteries, juga bisa dimanfaatkan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan hama-hama rumah tangga (HRT). Minyak atsiri dari tanaman cengkeh (Syzygium aromaticum), seraiwangi (Andropogon nardus), kayumanis (Cassia sp, Cinnamomum sp.), lengkuas (Alpinia galanga), mimba (Azadirachta indica), sirih (Piper sp), lada (Piper nigrum), melaleuca/kayu putih (Melaleuca sp), selasih (Occimum basilicum), jeringau (Acorus calamus) dan nilam (Pogostemon cablin) dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan OPT baik dari golongan serangga hama maupun mikroba patogen penyebab penyakit pada tanaman seperti bakteri, jamur dan nematoda. Ekstrak cengkeh, seraiwangi dan kunyit bahkan efektif membunuh keong mas (Pomacea canaliculata) dengan mortalitas mencapai 100 persen. Sementara itu, minyak atsiri tanaman cengkeh, nilam, seraiwangi, selasih, zodia (Evodia suoveolens), lavender (Lavandula angustfolia), geranium (Geranium redula), cente (Lantana camara) dan kenanga (Canangium odoratum) dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati untuk HRT khususnya sebagai pengusir nyamuk. Selain diproses menjadi produk siap pakai, tanaman atsiri, misalnya zodia, levender dan seraiwangi, juga bisa ditanam dan ditata di sekitar pekarangan dan di dalam ruangan sebagai tanaman pengusir nyamuk. Diversifikasi pemanfaatan minyak atsiri sebagai pestisida nabati merupakan salah satu upaya untuk memberikan nilai tambah bagi minyak atsiri Indonesia, sekaligus memperluas segmen pasar atsiri untuk penggunaan di dalam negeri.

Kata kunci: minyak atsiri, pestisida nabati, organisme pengganggu tanaman, hama rumah tangga, serangga hama, penyakit, pengendalian ramah lingkungan

PENDAHULUAN

Krisis finansial global yang melanda dunia beberapa bulan terakhir juga berdampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap komoditas minyak atsiri Indonesia yang sebagian besar pasarnya berorientasi ekspor. Penurunan daya beli konsumen di luar negeri menyebabkan terjadinya penurunan harga minyak atsiri, terutama nilam, sebingga berdampak terhadap penurunan penerimaan para pelaku agribisnis komoditas tersebut.

Di tengah lesunya pasar komoditas atsiri Indonesia di luar negeri, perlu dilakukan upaya untuk memperluas segmen pasar melalui promosi untuk mencari pasar baru selain pasar tradisional yang sudah ada, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Berbagai kiat dapat ditempuh dalam membuka pasar baru bagi produk berbasis atsiri, antara lain melalui diversifikasi vertikal dengan menghasilkan produk turunan dan atsiri yang sudah ada, maupun diversifikasi horizontal dengan menciptakan produk jenis baru untuk konsumen yang berbeda.

Beberapa jenis minyak atsiri sejak lama sudah dikenal memiliki khasiat sebagai anti mikroba dan pengendali hama tanaman, misalnya minyak cengkeh sebagai obat sakit gigi dan pengendali penyakit tanaman, dan seraiwangi sebagai penolak hama. Dengan berkembangnya pertanian organic guna merespon tuntutan konsumen untuk memperoleh pangan dan kosmetik alami yang aman, maka kebutuhan akan pestisida nabati yang efektif namun aman bagi konsumen dan lingkungan juga meningkat. Kalangan industri dapat memanfaatkan peluang ini untuk menghasilkan pestisida nabati berbasis atsiri guna memenuhi kebutuhan konsumen produk organik yang pasarnya meningkat 20 persen per tahun.

Tulisan ini mengemukakan prospek pemanfaatan minyak atsiri yang terdapat di Indonesia sebagai pestisida nabati.

TANAMAN ATSIRI SEBAGAI SUMBER PESTISIDA NABATI

Potensi Tanaman Atsiri Indonesia

Bumi nusantara dikenal memiliki kekayaan hayati dengan biodiversitas kedua tertinggi di dunia. Dari 30000 spesies tanaman berbunga yang sudah ditemukan diIndonesia, di antaranya terdapat 900 jenis tanaman yang dapat menghasilkan minyak atsiri. Potensi yang besar tersebut belum termanfaatkan, karena dari literatur yang ada bahwa dari sekitar 200 jenis tanaman atsiri yang telah dikenal masyarakat dunia maka baru 40 jenis diantaranya yang sudah di kenal dan dihasilkan di Indonesia, 15 jenis diantaranya telah diperdagangkan, dan hanya 4 jenis yang telah dibudidayakan masyarakatyaitu nilam, seraiwangi, akarwangi dan cengkeh. Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa minyak atsiri tersebut dihasilkan di 91 buah sentra produksi atsiri yang tersebar di seluruh Indonesia (Deperin, 2007).

Selain tanaman atsiri yang telah diperdagangkan secara konvensional, beberapa tanaman atsiri lain sudah mulai dilirik para pengusaha untuk dijadikan komoditas ekspor baru, antara lain minyak jahe (Zingiber officinale), temu mangga (Curcuma mangga), lempuyang wangi (Zingiber aromaticum), daun jati Belanda (Guazuma ulmifolia), bangle (Zingiber purpureum) dan kunyit putih (Curcuma zeodaria) (Hartono, 2008). Tanaman-tanaman tersebut umum ditemui di berbagai daerah dan relatif mudah untuk dibudidayakan, masyarakat telah memanfaatkannya sebagai rempah untuk bumbu masak dan juga sebagai bahan baku jamu.

Tanaman Atsiri Sumber Pestisida Nabati

Berkembangnya pertanian organik dengan nilai permintaan pasar dunia US$ 17.5 miliar dengan laju peningkatan permintaan 10-20 % per tahun juga secara langsung telah meningkatkan kebutuhan terhadap pestisida nabati sebagai komponen utama dalam pengendalian OPT pada sistem budidaya pertanian organik tersebut. Di Indonesia, Pemerintah sejak tahun 2002 telah mencanangkan gerakan Go Organik 2010, dengan cita-cita menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen utama pangan organik di dunia. Guna mewujudkan hal tersebut maka para operator pertanian organik di lapang membutuhkan dukungan berupa rekomendasi teknologi dan produk organik dan pestisida nabati yang bahan bakunya murah dan mudah diperoleh. SNI 01-6729-2002 yang mengatur tentang Sistem Pangan Organik (KAN, 2002) telah melarang penggunakan pestisida kimia sintetik, namun menganjurkan penggunaan pestisida alami (termasuk pestisida nabati) dan pengendalian secara mekanis.

Grainge dan Ahmed (1988) telah mendata 2400 spesies tanaman yang memiliki khasiat untuk digunakan sebagai pengendali hama dalam arti luas. Berbagai tanaman atsiri yang tumbuh di bumi Indonesia telah diketahui memiliki potensi untuk dijadikan sebagai bahan pestisida nabati untuk digunakan di lingkup pertanian untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), yang meliputi hama tanaman (serangga, mamalia), patogen penyebab penyakit tanaman (jamur, bakteri, virus, nematoda) dan gulma. Masyarakat petani di berbagai daerah umumnya sudah memiliki kearifan lokal dalam memanfaatkan tumbuhan di sekitar mereka untuk dijadikan pestisida nabati guna melindungi tanaman dan ternak mereka. Jenis-jenis tanaman atsiri yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati disajikan pada Tabel 1.

0t1

Di luar negeri (Zheng, 2008, personal communication), masyarakat China juga sudah memanfaatkan berbagai tanaman atsiri yang beberapa diantaranya sama jenisnya dengan atsiri yang ditemukan di Indonesia, misalnya mimba dan melaleuca, yang mereka manfaatkan untuk mengendalikan hama, penyakit dan gulma tumbuhan.

Selain penggunaan di lahan pertanian, pestisida nabati berbasis atsiri juga dapat digunakan di lingkungan rumah tangga. Minyak dari beberapa jenis tanaman atsiri seperti seraiwangi, serai dapur, zodia, mimba, lavender dan geranium berkhasiat sebagai penolak nyamuk. Warga masyarakat di Papua menggosokkan daun zodia ke tubuh mereka sebagai penolak nyamuk sebelum memasuki hutan untuk berburu, memungut hasil hutan atau bertani.

Selain sebagai penolak hama, minyak atsiri juga dapat digunakan sebagai senyawa pemikat (atraktan) bagi hama-hama tertentu di lapang. Formula atraktan untuk lalat buah (Bactocera hector) yang terbuat dan minyak selasih dan melaleuca telah digunakan secara luas oleh petani hortikultura di tanah air untuk pengendalian lalat buah pada belimbing, jambu biji, cabe merah, apel, nangka, pepaya, mangga, melon, dan tomat.

Di lingkungan sekitar pemukiman, beberapa tanaman atsiri bisa ditanam dan ditempatkan sedemikian rupa di pekarangan atau di dalam ruangan. Beberapa tanaman dimaksud antara lain: Meulaleuca, Selasih, Mimba, Seraiwang, Nilam dan Zodia. Masih dibutuhkan berbagai penelitian agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dengan memperhatikan aspek efektifitas, efisiensi, keamanan dan estetika.

PRODUK PESTISIDA NABATI BERBASIS ATSIRI

Beberapa produk pestisida nabati berbasis atsiri yang telah dihasilkan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) dan potensial untuk digunakan mengendalikan OPT dalam budidaya pertanian disajikan pada Tabel 2.

0t2

Dari tabel tersebut tampak bahwa minyak atsiri dari cengkeh, mimba, dan seraiwangi. merupakan bahan baku pestisida nabati berspektrum luas atau bersifat multiguna karena dapat berfungsi sebagai insektisida, fungisida, bakterisida dan anti virus. Ekstrak cengkeh, seraiwangi dan kunyit dilaporkan efektif membunuh keong mas (Pomacea canaliculata) dengan mortalitas mencapai 100 persen (Wiratno et al, 2008). Ekstrak dari tanaman cengkeh, jeringau dan piretrum juga terbukti terhadap hama lada (Dasynus piperis, Diconocoris hewetti, Aphis craccivora, A. Gossypii, Ferrisia virgata) dan nyamuk (Culex sp) (Wiratno, 2008). Dalam pengujian lapang pada tanaman jahe, fungisida nabati CEKAM ternyata mampu menekan serangan penyakit bercak daun pada tanaman jahe (Lukman, 2008). Formula ini juga efektif membunuh jentik nyamuk yang hidup di dalam air tergenang dan selokan yang airnya tidak mengalir (Supriadi, Komunikasi Pribadi).

Para peneliti di Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) juga telah menghasilkan lotion anti nyamuk “Mimba” dan “Namus” yang terbuat dan minyak mimba dan seraiwangi. Telah diproduksi pula anti nyamuk bakar cair “Naumi” yang bahan bakunya terdiri dan serai dapur, nilam, cengkeh, kayu manis, serai wangi dan pala. Produk ini semerbak wangi, aman dan cocok untuk digunakan di dalam ruangan.

Formula atraktan untuk lalat buah (Bractocera hector) yang terbuat dari minyak selasih, mimba dan zodia (ATLABU) telah digunakan secara luas oleh petani hortikultura di tanah air untuk pengendalian lalat buah pada belimbing, jambu biji, cabe merah, apel, nangka, pepaya, mangga, melon, dan tomat.

KESIMPULAN

  1. Berbagai tanaman atsiri yang tumbuh di Indonesia bisa dimanfaatkan sebagai pestisida
    nabati untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan hama-hama
    rumah tangga (HRT).
  2. Minyak atsiri dari tanaman cengkeh (Syzygium aromaticum), seraiwangi (Andropogon nardus), dan mimba dan mimba (Azadirachta indica) angi. merupakan bahan baku pestisida nabati berspektrum luas atau bersifat multiguna karena dapat berfungsi sebagai insektisida, fungisida, bakterisida, moluskisida dan anti virus.
  3. Masih dibutuhkan berbagai penelitian agar potensi atsiri Indonesia sebagai pestisida nabati dapat dimanfaatkan secara optimal dengan memperhatikan aspek efektifitas, efisiensi, keamanan dan estetika.

DAFTAR PUSTAKA

Deperin, 2007. Studi Nasional Komoditi Minyak Atsiri. Direktorat Industri Kimia dan Bahan Bangunan, Ditjen IKM, Departemen Perindustrian, Jakarta.

Grainge, M. and Ahmed S. 1988. Handbook of Plants with Pest Control Properties. New York.: John Wiley and Sons.

Hartono, S. 2008. Kebijakan Pengembangan Industri Minyak Atsiri. Direktorat Industri Kimia dan Bahan Bangunan, Ditjen IKM, Departemen Perindustrian, Jakarta. KAN, 2002. SNI 01-6729-2002 , Sistem Pangan Orgariik. Komite Akreditasi Nasional, Jakarta.

Lukman, W. 2008. Serangan Bercak Daun (Phyllocsticta Sp) Pada Tanaman Jahe Dan Cara Penanggulangannya Di Kebun Percobaan Cicurug. Lap. Hasil Penelitian, Balittro, Bogor. (Unpublished)

Wiratno. 2008. Effectiveness and Safety of Botanical Pesticides Applied in Black Pepper (Piper nigrum) Plantation. PhD Thesis, Wageningen University, Wagningen, The Netherlands.

Wiratno, M. Rizal dan I.W. Laba. 2008. Uji Potensi Ekstrak Beberapa Tanarnan Obat dan Aromatik Sebagai Pengendali Keong Mas (Pomacea canaliculata). (In press)

3 Comments »

  1. Assalamualaikum Pak Rizal … sangat menarik artikel yg bapak tulis terlebih perusahaan kami memasarkan bio aditif dgn bahan baku dasar minyak atsiri dan juga pestisida multiguna … sekiranya memungkinkan saya berkeinginan bertemu dengan bapak untuk berdiskusi. Terima Kasih Pak Rizal

    Comment by Dedi Iskandar — February 23, 2011 @ 3:01 am

  2. menarik memang tentang khasiat tanaman yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama. Pak, boleh nanya tentang minyak geranium itu berasal dari tanaman tapak dara bukan?? bapak tau dmn saya dapat membeli minyak geranium yang dapat di percaya?

    Comment by rina — March 4, 2012 @ 1:53 am

  3. Saya membuat pestisida nabati plus sebagai anti nyamuk, masalah nya base air hydrosol saya campur essential oil tidak bisa nyampur saya tidak mau menggunakan alcohol atau bahan lain mohon saran terimakasih salam

    Comment by fay Ramzi — May 11, 2014 @ 2:03 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: