Minyak Atsiri Indonesia

Melati

MANFAAT DAN BUDIDAYA TANAMAN MELATI

Oleh:  Melati;  Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat

(Perkembangan Teknologi TRO VOL. XV, No. 1, 2003)

ABSTRAK

Tanaman melati (Jasminum sp) termasuk famili Oleaceae adalah tanaman penghasil minyak atsiri yang dikenal dengan jasmine oil. Minyak atsiri yang berasal dari melati banyak digunakan untuk parfum dan kosmetika. Selain itu bunga melati juga dimanfaatkan dalam industri teh (sebagai pemberi rasa teh), bunga tabur, seni dekorasi dan aroma terapi. Berbagai jenis tanaman melati mudah dibudidayakan sebgai tanaman pekarangan maupun perkebunan di Indonesia, terutama jenis Jasminum sambac dan Jasminum officinale. Tanaman melati cukup berpotensi untuk dikembangkan dalam usaha agroindustri guna meningkatkan pendapatan petani dan devisa negara.

PENDAHULUAN

Pemakaian obat tradisional semakin meningkat akhir-akhir ini dengan melambungnya harga obat kimia dan adanya program nasional dari pemerintah untuk kembali ke alam, menggunakan obat asli Indonesia. Obat tradisional menyimpan peluang bisnis sangat besar karena khasiat tanaman obat telah lama dikenal masyarakat. Disamping itu, obat tradisional memiliki efek samping yang rendah dibandingkan obat kimia.

Pengetahuan tentang tanaman obat bersumber dari pewarisan nenek moyang secara turun temurun dan terus menerus. Jenis tanaman obat Indonesia ribuan jumlahnya salah satunya yaitu melati (Jasminum sambac), sering disebut jasminum. Tanaman melati lebih dikenal sebagai tanaman hias, ternyata dapat juga dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Pemanfaatan tanaman melati dalam pengobatan akhir-akhir ini semakin meningkat dengan menjamurnya spa di daerah perkotaan. Pengobatan yang ditawarkan oleh spa-spa tersebut menggunakan obat-obatan alami dan minyak atsiri, yang dikenal dengan aroma terapi.

Melati adalah tanaman asli Asia banyak dijumpai di Indonesia, Philipina dan Asia Tenggara. Di Eropa bunga ini dianggap berasal dari Arab dan dikenal dengan nama Arabian Jasmine. Tanaman melati berbentuk perdu, mempunyai tinggi 0,3 – 3 m dan hidup secara liar. Di Jawa tanaman ini telah dibudidayakan di daerah dataran rendah hingga ketinggian lebih dari 600 m diatas permukaan laut.

Hampir seluruh bagian tanaman melati dapat dimanfaatkan, tetapi bunganya merupakan bagian tanaman yang mempunyai nilai ekonomis yang paling tinggi. Bunga melati berukuran kecil (diameter sekitar 1 – 2 cm) berwarna putih, dan beraroma harum semerbak. Minyak atsiri yang berasal dari bunga melati dapat digunakan untuk pengharum dan obat-obatan. Potensi dan prospek bunga melati cukup besar dalam agroindustri dengan penyerapan terbesar saat ini pada indutsri teh, digunakan untuk pengharum rasa daun teh dan memberi citarasa khas.

CIRI-CIRI MORFOLOGI

Jenis-jenis melati yang terdapat di Indonesia, yang telah berhasil diinventarisasi oleh Balai Penelitian Tanaman Hias dapat dikelompokkan dalam Jasminum sambac, Jasminum multiforum, dan Jasminum officinale yang dapat dibedakan berdasarkan karakterisasi tanaman, daun dan bunganya.

Melati merupakan sejenis perdu memanjat atau menggantung dengan tinggi rata-rata 0,3 – 3 m, pada kebunkebun penghasil bunga potong rata-rata tingginya 1 m. Kalau tidak dipangkas tanaman melati yang sudah besar akan memanjat pada batang tanaman lain. Tanaman melati banyak ditanam orang di halaman rumah sebagai tanaman hias. Melati dapat berbunga sepanjang tahun dan dapat tumbuh subur pada tanah yang gembur pada ketinggian 600 – 800 m di atas permukaan laut bahkan sampai 1800 m di atas permukaan laut asalkan mendapat cukup sinar matahari (Soepardi, 1964).

Tanaman melati berdaun tunggal, berwarna hijau sampai hijau kelabu, helaian daun berbentuk jorong sampai bundar telur, panjang 5 – 10 cm, lebar 4 – 6 cm, ujungnya runcing, pangkal membulat, tepi rata, tulang daun menyirip menonjol pada permukaan bawah, permukaan daun mengkilap, tangkai daun pendek sekitar 5 mm, tersusun berhadapan (Heyne, 1987). Gambar 1. Melati yang tumbuh memanjat Gambar 2: Bentuk bunga dan daun melati sebagai tanaman hias.

0g1

Gambar 1. Melati yang tumbuh memanjat

0g2

Gambar 2: Bentuk bunga dan daun melati sebagai tanaman hias

BUDIDAYA

Bercocok tanam

Untuk memenuhi permintaan akan bunga melati yang terus meningkat maka diperlukan lahan yang cukup luas dan disertai dengan teknik budidaya yang mudah dan murah. Bibit bermutu yang cepat tumbuh merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi baik kualitas maupun kuantitasnya.

Tanah yang baik untuk penanaman melati adalah tanah yang agak kering, dengan sinar matahari yang cukup dan tidak terlindung, serta fasilitas irigasi yang cukup.

Melati ditanam dengan jarak 10 cm, dengan jarak antar baris sekitar 80 cm. Perbanyakan tanaman dilakukan dengan rundukan atau stek (stek ujung, tengah dan pangkal). Konsentrasi IBA 100, 150 dan 200 ppm dapat meningkatkan jumlah tunas, panjang tunas dan jumlah daun Jasminum sambac. Sedangkan Jasminum multiflorum pada konsentrasi IBA 100 ppm, 150 ppm dan rootone mampu meningkatkan panjang tunas (Wuryaningsing dan Satsiyati, 1995). Stek ujung dengan perlakuan yang diberikan mempunyai persen hidup yang tinggi, diikuti oleh stek tengah dan stek pangkal. Perlakuan dengan menggunakan zat pengatur tumbuh ternyata mampu mendorong hidupnya stek melati. Konsentrasi IBA yang mempunyai pengaruh efektif berkisar antara 200 – 300 ppm(Soedjono, 1995).

Pemupukan dan pemberian pestisida yang dilaksanakan petani sangat bervariasi. Untuk meningkatkan produksi bunga pada umumnya petani memberikan pupuk urea dan pupuk kandang setiap tiga bulan. Untuk pengendalian hama dan penyakit mudah ditanggulangi tetapi penyakit bercak kuning pada daun masih belum dapat ditanggulangi. Ulat hijau merupakan hama yang sering menyerang sehingga menurunkan produksi bunga. Belum adanya teknik pembibitan, konsentrasi dan frekuensi pemberian serta macam pupuk yang tepat menyebabkan budidaya melati sangat bervariasi di beberapa sentra produksi. Bahkan ada petani yang tidak memberikan pupuk sama sekali.

Stadia panen bunga melati adalah kuncup penuh menjelang mekar yang dicirikan dengan derajat warna putih seperti warna bunga yang telah mekar tetapi kuntum masih keras. Bunga pada stadia tersebut bila dipanen pagi hari, maka pada waktu malam di hari yang sama akan menjadi mekar dan menyebarkan aroma harum. Periode setelah panen dan bunga menjadi mekar sangat pendek dan merupakan kendala pada pengiriman antar kota dan ekspor.

Sebelum pengepakan dan pengangkutan, bunga mendapat perlakuan pendinginan untuk menurunkan panas yang dihasilkan oleh proses respirasi, yang selanjutnya mencegah pengembunan uap air pada bunga dan menurunkan jumlah etilen dalam kemasan. Pendinginan dengan hancuran es dilakukan oleh pedagang pengumpul bunga melati untuk mendinginkan rangkaian bunga dalam jarak jauh. Pendinginan diharapkan dapat menjaga mutu rangkaian, terutama kesegaran dan warna putih melati.

Hama dan penyakit tanaman

Berdasarkan hasil inventarisasi pada tahun 1994 terhadap hama melati di Pekalongan dan Tegal yang merupakan pusat tanaman melati diketahui adanya beberapa jenis hama yang mampu menimbulkan kerusakan berat. Serangan hama yang merusak tanaman melati adalah Hendecasis duplifasciali, Pulpita unionalis, Nausinoe geometralis, Thrips sp, Pseudococcus longispinus, Fusarium sp, Gloesporum sp, sedangkan penyakit Perkembangan Teknologi TRO VOL. XV, No. 1, 2003 22 yang banyak dijumpai pestalotion dan rust (cendawan karat). (Wuryaningsih, S. dan Satsiyati,1995)

Tingkat kerusakan oleh P. unionalis di tempat tempat tertentu bahkan dapat mencapai 80 %. Cara pengendalian yang hanya mengandalkan pestisida ternyata tidak memberikan hasil yang memuaskan. Berdasarkan hasil penelitian Maryam dan Purbadi (1997) ekstrak biji sirsak pada tingkat konsentrasi 10.000 ppm yang disemprotkan pada tanaman melati paling efektif mengendalikan hama Pulpita unionalis, hal ini terlihat dari rendahnya populasi hama.

Cendawan-cendawan yang bersifat patogenik yang menyerang tanaman melati adalah Fusarium sp, Gloesporium sp, Pestalotia sp dan cendawan penyebab karat.

Penanganan pasca panen

Stadia panen bunga melati adalah kuncup penuh menjelang mekar yang dicirikan dengan derajat warna putih seperti warna bunga yang telah mekar tetapi kuntum masih keras. Bunga pada stadia tersebut bila dipanen pagi hari, maka pada waktu malam di hari yang sama akan menjadi mekar dan menyebarkan aroma harum. Periode setelah panen dan bunga menjadi mekar sangat pendek dan merupakan kendala pada pengiriman antar kota dan ekspor. Untuk pengiriman jarak dekat bunga dikemas dengan karung jala plastik sedangkan untuk pengiriman jarak jauh pengemasan dilakukan dengan menggunakan karung polyethylene.

Sebelum pengepakan dan pengangkutan, bunga mendapat perlakuan pendinginan untuk menurunkan panas yang dihasilkan oleh proses respirasi, yang selanjutnya mencegah pengembunan uap air pada bunga dan menurunkan jumlah etilen dalam kemasan. Pendinginan dengan hancuran es dilakukan oleh pedagang pengumpul bunga melati untuk mendinginkan rangkaian bunga dalam jarak jauh. Pendinginan diharapkan dapat menjaga mutu rangkaian, terutama kesegaran dan warna putih melati.

MANFAAT

Pemanfaatan secara umum

Jasminum mempunyai peran yang tak terpisahkan bagi masyarakat Indonesia. Bagian tumbuhan yang digunakan adalah akar, daun dan bunga (Soepardi, 1964). Bunganya sangat berperan bagi kehidupan modern maupun tradisional masyarakat Indonesia. Dalam kehidupan masyarakat yang memegang erat adat istiadat, melati banyak digunakan pada berbagai upacara. Di Indonesia melati terpilih sebagai bunga unggulan bangsa. Di Philipina bunga melati dinobatkan sebagai identitas negara. Melati menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan rakyat India, Thailand dan Cina. Di Hawai melati dikenal dari zaman dahulu karena ratu bangsa Hawaii menyenanginya. Selain sebagai bunga kesayangan dewa juga sebagai tanaman hias, wewangian, juga sebagai campuran teh di Cina (Sastrapradja dan Rifai, 1997). Dalam kehidupan modern masyarakat Indonesia banyak digunakan dalam hiasan dekorasi pada upacara resmi dan jamuan pesta (Sukendar, 1990).

Minyak atsiri yang berasal dari melati banyak digunakan untuk parfum berkualitas tinggi dan industri kosmetika. Kebutuhan konsumen terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk dan peningkatan penghasilan. Selain itu masyarakat juga lebih menyukai minyak alami daripada minyak sintetis. Aroma minyak atsiri ternyata dapat menyembuhkan stress dan akhir-akhir ini banyak digunakan dalam pengobatan berupa terapi yang dikenal sebagai aroma terapi.

Pemanfaatan sebagai obat

tradisional Dalam pengobatan tradisional, bagian tanaman yang biasanya digunakan adalah akar, daun dan bunga dan bagian batangnya bersifat menyejukan (Zhang et al., 1995). Hampir seluruh bagian tanaman memiliki khasiat dalam menyembuhkan berbagai penyakit (Tabel 1) (Thomas, 1993; Heyne, 1987; Soepardi, 1964).

0t1

Pemanfaatan dalam industri

Bunga merupakan bagian tanaman yang paling tinggi nilai ekonomisnya. Di Indonesia pemakaian bunga melati dalam jumlah yang besar biasanya digunakan sebagai pewangi teh (Effendi, K. et al., 1995) untuk mengurangi rasa asli daun teh. Kebutuhan melati dari pabrik industri teh wangi berkisar 2 – 6 ton per hari (Wuryaningsih S. dan Satsiyati, 1995). Pabrik teh tidak mampu menyerap seluruh produksi melati pada saat panen raya. Industri lain yang menggunakan melati sebagai bahan baku seperti industi minyak wangi jasmine, sabun, cat, tinta, karbol, semir sepatu, kain dan pestisida. Industriindustri tersebut diharapkan dapat menyerap dan meningkatkan harga melati. Jenis melati yang mengeluarkan aroma harum dan banyak dimanfaatkan sebagai pewangi diantaranya adalah Jasminum sambac dan Jasminum officinale (Wuryaningsih, 1994).

Bunga melati yang disuling untuk diambil minyak atsirinya banyak digunakan dalam industri parfum, sabun, kosmetik, farmasi dan penyegar ruangan. Jenis melati yang digunakan untuk produksi parfum di India adalah Jasminum auriculatum, Jasminum grandiflorum dan Jasminum sambac (Gupta and Chandra, 1957). Di Negaranegara Perancis, Mesir dan Monako minyak melati digunakan sebagai bahan bermutu tinggi (Guenther, 1952).

Pemakaian dalam seni dekorasi

Penggunaan bunga melati dalam seni dekorasi sangat luas, sebagai bagian dari sebuah rangkaian, melati tidak hanya memberikan keindahan tetapi juga menciptakan suasana agung dan khidmat yang berasal dari warna putih dan keharumannya. Wangi bunga melati memberikan rasa senang dan tenang bagi yang menghirupnya.

Bunga Melati yang digunakan untuk rangkaian adalah Jasminum sambac (Soejono, S. dan Dedeh, 1994). Banyak bentuk rangkaian melati hasil kreasi para perangkai bunga menghiasi ruangan pesta perkawinan, upacara keagamaan maupun acara resmi kenegaraan dan upacara peresmian di Indonesia, karena melati merupakan Puspa Bangsa. Berbagai acara tersebut telah meningkatkan kebutuhan bunga melati rangkaian (Effendi et al, 1995).

Pemanfaatan sebagai aroma terapi

Permintaan akan bunga melati akhir-akhir ini semakin meningkat dengan berubahnya gaya hidup masyarakat perkotaan dan berkembangnya spa. Bunga melati yang awalnya dimanfaatkan hanya sebagai tanaman obat, kini berkembang jadi salah satu komoditas yang dimanfaatkan dalam aroma terapi. Terapi tersebut dipercaya dapat menghilangkan stress dan menenangkan pikiran.

Penggunaan melati dalam aroma terapi juga merupakan pengobatan tetapi tidak menggunakan organ tanaman langsung seperti yang dikemukakan sebelumnya. Metode penyembuhan aroma therapi memanfaatkan minyak atsiri melati. Metode tersebut sebenarnya sudah dikenal sejak Perang Dunia I. Ketika itu banyak serdadu yang terluka jadi sehat kembali setelah menjalani aroma terapi menggunakan minyak lavender (Guenther, 1952).

Pengobatan aroma terapi memanfaatkan berbagai minyak atsiri. Penyembuhan dengan minyak atsiri dalam aroma terapi bisa dengan cara inhalasi atau dihirup, dimasak atau perendaman tubuh. Aroma melati bisa digunakan untuk mengatasi pegal linu (Harry, 2000). Aromanya dapat merangsang pengaturan aliran kelenjar adrenalin dan menenangkan sistem saraf, sehingga menimbulkan perasan senang, tenang dan dapat menghilangkan shock.

Minyak melati

Species tanaman melati yang digunakan sebagai sumber minyak melati adalah Jasminum grandiflorum, J. officinale (di Perancis), J. grandiflorum L (di Italia) serta J. grandiflorum L, J. auriculatum, J. sambac, J. augustifolium, J. officinale, dan J. pubescens di India.

Peluang industri minyak atsiri berbahan baku bunga cukup besar. Minyak melati merupakan bahan baku parfum berkualitas tinggi. Jumlah kebutuhan minyak melati murni dunia ialah 4000 kg/th dengan harga mencapai US $ 5000/kg (Wuryaningsih, 1995). Harga minyak atsiri melati dipasar internasional tergolong tinggi yakni sekitar 6.000 US $ per liter atau setara dengan 54 juta rupiah (Purba, 2000). Mahalnya harga minyak melati ini disebabkan oleh begitu luasnya pemakaian minyak melati dalam industri sedangkan usaha pengadaan belum dilaksanakan secara intensif. Pada penyulingan dalam skala mini menghasilkan minyak atsiri tiap kg-nya 0,33 cc (Heyne, 1987).

0t2

Minyak melati diperoleh dari bunga melati dengan cara “enfleurage”, atau ekstraksi dengan pelarut menguap. Prabawati et al, (2002) menyatakan bahwa minyak melati yang dihasilkan dari ekstraksi dengan perbandingan bunga dan pelarut 1 : 2 mengandung komponen minyak atsiri yang tinggi (Tabel 2). Minyak melati mengandung benzil ester dari asam asetat asam format dan asam propionat, linalool dan esternya, metil anthranilat, benzil alkohol, geraniol dan paracrenol. Melati kaca piring (cape jasmin) mempunyai bau wangi seperti minyak melati.

Bunga setelah dipetik tetap hidup secara fisiologis dan memproduksi minyak bunga. Produksi minyak bunga tersebut terhenti bila bunga telah mati dan membusuk. Masalah yang ditemui dalam ekstraksi minyak bunga tersebut adalah bagaimana mendapatkan seluruh minyak yang terkandung dalam bunga. Bunga yang dipetik dari pukul 6– 10 pagi menghasilkan minyak bunga dua kali lebih besar dari sore hari atau 1,5 kali lebih besar jika dipanen pada malam hari. Ekstraksi minyak melati kasar dengan etanol murni, menghasilkan 45 – 53 persen biang parfum melati.

KESIMPULAN

  1. Jenis melati yang banyak dikenal di Indonesia adalah Jasminum sambac dan Jasminum officinale, tanaman ini mudah dibudidayakan.
  2. Pemanfaatan tanaman melati selain untuk pengobatan tradisional juga digunakan dalam bidang industri, seni dekorasi dan pengobatan moderen (aroma terapi).
  3. Dengan semakin berkembangnya industri yang membutuhkan tanaman melati, maka tanaman melati membuka peluang investasi dalam agroindustri karena aneka ragam kegunaan dan mempunyai nilai ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, K, T. Sutater, S, Wuryaningsih dan R. D. Komar, 1995. Analisis usaha tani melati potensi kelayakan dan prospeknya. Jurnal Hortikultura Vol. 5 No 2. hal 90 – 99.

Gunther, E., 1955. The Essential Oil. Vol 5. Robert F. Krieger Publishing Co.Inc.Huntington. New York. 777 hal.

Gupta, G. N dan G. Chandra, 1957. Indian jasmine. Economic Botany, Devotet to applied botany and plant utilization.178-182 hal

Harry, S. W., 2000. Jalan penyembuhan bernama aroma terapi. Trubus No. 364. (XXXI).

Heyne, K., 1987. Tumbuhan berguna Indonesia. Jilid III. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Dep. Kehutanan. Jakarta. 1614 hal.

Ketaren, S., 1985. Minyak atsiri. Pengantar Teknologi PN. Balai Pustaka Jakarta 292-298 hal.

Maryam, ABN dan Purbadi, 1997. Uji kemangkusan beberapa bahan insektisida botanik terhadap hama perusak daun melati Palpita unionalis Hubn, Jurnal Hortikultura. Vol. 7. No. 1. hal 550-556.

Prabawati, S, Endang, D. A, Suyati, dan Dondy ASB., 2002. Perbaikan cara ekstraksi untuk meningkatkan rendemen dan mutu minyak melati. Jurnal Hortikultura. Vol. 12. No. 4. hal 270 – 275.

Purba, ESL., 2000. Wangi melati membawa hoki. Komoditas, nomor 17 (11). hal 52 – 53.

Sastrapradja, SD dan Rifai MA, 1997. Mengenal nusantara melalui kekayaan floranya. Komisi Pelestarian Plasma Nutfah Nasional, Puslitbang Bioteknologi LIPI. Bogor. 75 hal.

Soepardi, R., 1964. Apotik hijau. Tumbuhan Obat-Obatan. Purna Warna. Surakarta. 348 hal.

Soedjono, S., 1995. Perbanyakan melati (Jasminum multiflorum dan Jasminum sambac) dengan setek dan zat pengatur tumbuh asam indol butirat. Jurnal Holtikultura Vol 5. No. 2. hal 79-89.

Soedjono, S dan Dedeh, S. D., 1994. Inventarisasi varietas melati (Jasminum sp). Buletin Penelitian Tanaman Hias. Vol 1. No.1. hal 99- 112.

Suhendar, AG., 1990. Melati. Penebar Swadaya, Jakarta. 87 hal. Thomas, A.N.S., 1993. Tanaman obat tradisional 1. Penerbit Kanisius. Yogjakarta.130 hal.

Wuryaningsih, S dan Satsiyati, 1995. Hasil penelitian melati 1993/1994 dan 1994/1995. Prosiding Evaluasi Hasil Penelitian Hortikultura. TA 1993/1994 dan 1994/1995. hal 210 – 221.

Wuryaningsih, S., 1994. Melati dalam Toto Sutater dan Sri Wuryaningsih (ed). Penelitian Tanaman Hias Pelita V. Sub Balai Penelitian Hortikultura. Cipanas. 60 hal

Zhang, Y.O, Liu YQ, Pu XY, Yang, CR., 1995. Tridoidal glycosides fram jasminum sambac. Laboratory of Phytochemestry, Kunning Institu of Botany, Chinese Academy of Sciense, Kunning 650204. China. 899-903 hal.

1 Comment »

  1. Benarkah harga minyak absolute melati setinggi itu? Dimana pembelinya? Jika setinggi itu mengapa masih sedikit produsennya?

    Comment by teguh sugiharto — August 20, 2009 @ 5:37 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: