Minyak Atsiri Indonesia

Artikel Minyak Nilam

Menguak Harumnya Atsiri Nilam

Sumber: http://pesisiran-kidul.blogspot.com/

nilam

Berapa pun jumlah minyak atsiri nilam pasti diserap pasar. Dipicu oleh misi sosial. Harus terintegrasi, mulai dari pembibitan, penanaman, pascapanen, dan penyulingan.

AROMA harum langsung tercium ketika memasuki lahan pembibitan nilam di Dusun Sambiroto, Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Lahan menghijau di areal persawahan milik Lesto Kusumo itu telah dikembangkan sejak 2004. Ayah satu anak ini mulai terjun pada budidaya nilam tahun 2000 di Bandung. Kini, ia mengembangkan usahanya di Kalasan, Prambanan, dan Magelang.

Ketertarikan Lesto mengembangkan tanaman nilam dipicu oleh misi sosial. Di Jawa, rata-rata petani hanya memiliki lahan seluas 1.000-2.000 meter persegi. Dari perhitungannya, para petani akan lebih diuntungkan membudidayakan tanaman nilam dibanding tanaman lain. “Dari seribu meter persegi, misalnya, dapat ditanami dua ribu bibit. Dengan harga jual Rp 1.000 per kg, setiap empat bulan (masa panen) mendapatkan Rp 2 juta. Dipotong biaya operasional sekitar Rp 350 ribu, maka per siklus petani memperoleh keuntungan Rp 1.650.000,” ujar Lesto.

Itu perolehan pada panen pertama. Kala panen ke empat kalinya, jumlah nilam yang diperoleh meningkat dua kali lipat, dan panen ke delapan meningkat lagi tiga kali lipat,” Lesto menambahkan. Dari kalkulasi tersebut betapa menggiurkan hasilnya.

Pertama kali tanam, Lesto mengambil bibit dari beberapa petani setempat. Ternyata hasilnya tidak memuaskan. Selain hasil panen nilam tidak maksimal, usia bibit juga tidak bertahan lama. Setelah dua kali panen produksi langsung menurun. Dari situ kemudian terpikir oleh Lesto membuat usaha secara terintegrasi, mulai dari pembibitan, penanaman, pascapanen, dan penyulingan.

Jadi dibagi tiga divisi. Divisi yang bertanggung jawab pada pembibitan dan penanaman. Divisi pascapanen bertanggung jawab pada waktu panen, pengeringan dan pemotongan. “Dan, divisi yang bertanggung jawab pada penyulingan, yang menghasilkan minyak atsiri berkualitas, yang bisa diterima oleh pangsa pasar,” ungkap alumni jurusan perminyakan Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta tersebut.

Minyak atsiri nilam produksi Lesto lebih mahal dibanding harga pasar. “Karena kualitas dari penyulingan dijaga kebersihannya, modernisasi perlengkapan dan sebagainya. Itu yang kita tekankan, sehingga bisa masuk kualitas ekspor,” tambah laki-laki kelahiran Bandung, 1972 tersebut. Harga minyak nilam produksinya mampu menembus Rp 50 ribu – 150 ribu di atas harga pasar. Saat ini, per kg minyak nilam dihargai Rp 400 ribu.

Dalam bisnis ini, Lesto bekerja sama dengan perusahaan dari Jepang, Prancis, Swis, dan Singapura untuk ekspor minyak nilamnya. Kapasitas produksinya per bulan mencapai 200 kg. Direncanakan, November 2008 dan Maret 2009 dilakukan peningkatan produksi hingga mencapai target per bulan 400 kg. “Dengan perluasan lahan dan penambahan kapasitas penyulingan,” imbuhnya.

Meski begitu Lesto merasa belum berhasil, sehingga ia pun mengalokasikan anggaran untuk R&D (reseach and development). “Sebagian yang kita dapat, kita putar lagi untuk R&D. Untuk mendapatkan tanaman dan minyak nilam yang berkualitas,” kata Lesto yang juga berprofesi sebagai konsultan di bidang perminyakan dan petrokimia itu.

Dalam usaha nilam, menurut dia, yang paling utama adalah bibit, karena akan menentukan kadar kualitas dan rendemen minyak. Untuk mencapai bibit unggul dia melakukan penelitian bibit selama satu tahun dan berhasil. Bahkan Aceh yang merupakan sumber nilam mengambil bibit darinya. Juga sebagian petani di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Kapasitas produksi bibit per bulan berkisar 100 – 200 ribu bibit. Pesanan terbesar dari luar Jawa. Untuk Sumatera rata-rata per bulan menyerap 50 ribu bibit, begitu pula Kalimantan. “Pernah terima permintaan bibit sampai sejuta buah,” kata Lesto yang berharap tahap research bisa selesai tahun ini, selanjutnya tinggal pengembangan.

Proses pembibitan dilakukan dengan mekanisme standar sesuai pengalaman. Bibit yang dilepas, sebelumnya diujikan di lahan kering dengan pengairan dan pupuk minimal. Dan, ternyata tingkat kematiannya kurang dari 10%. Biasanya yang terjadi tingkat kematian dari perpindahan bibit ke lahan 50%, dan kematian setelah ditanam 50% lagi.

Dalam budidaya nilam ini Lesto melibatkan petani 15 orang di Yogyakarta dengan masing-masing mengelola seribu hingga dua ribu meter persegi lahan. Sedangkan di Magelang sekitar 20 orang dengan total luas lahan sekitar 40 – 48 hektare. “Lahan pertanian dengan sistem kerja sama dengan petani,” katanya. Karena misi pertamanya untuk mengangkat petani setempat. “Jadi kami koordinir para petani dengan lahan mereka masing-masing,” papar lelaki yang juga sebagai koordinator penanggulangan bencana daerah Jateng-DIY Kelompok Balerante 907 tersebut.

Sementara jumlah karyawan dengan sistem penggajian sekitar 25 orang di bagian penyulingan dan laboratorium bibit. Demi misi sosial, area penyulingan dan laboratorium pembibitan (seluas setengah hektare) pun ia sewa dari warga. Selain bibit, Lesto juga meriset sistem produksi dan hasil olahan minyak atsiri nilam. “Hasil olahan ini berupa aroma therapy. Baru mulai membuka pasar, dan permintaan dari luar negeri sudah cukup banyak.” Harga produk tersebut berkisar Rp 90 ribu hingga Rp 160 ribu per kemasan 200 mililiter. Antara lain, berupa Pure Essentiao Oil, Pure Essential Oil Blending, Low Concentration, Body Oil, Body Lotion, dan Massage Oil.

Selain itu dari peralatan penyulingan yang ia rancang juga menghasilkan hidrosol, di luar minyak nilam. “Hidrosol sebagai bahan dasar kosmetik. Lebih murah dibanding menggunakan bahan dasar minyak nilam. Ini bisa menjadi pendapatan tambahan. Di luar negeri pun harganya cukup tinggi. Rp 40 ribu per liter di dalam negeri, sementara di luar negeri sekitar Rp 400 ribu – Rp 500 ribu. Kita mulai mengenalkan pada beberapa industri kosmetik dan mereka sudah mulai mengambil,” paparnya.

Omset dari kapasitas produksi atsiri nilam 200 kg per bulan ditambah produk lain bisa mencapai hampir Rp 200 juta. “Tapi kita alokasikan juga keuntungan untuk R&D bisa dikatakan 30-40%,” ungkapnya. Sementara total aset dari usahanya saat ini, Lesto mengaku Rp 1,8 milyar termasuk untuk research and development.

Asalkan menjaga kualitas, prospek usaha nilam ke depan masih akan bagus. “Minyak nilam ini seperti kacang goreng, laris. Berapa pun yang kita punya pasti habis,” pungkas Lesto yang mengembangkan dua jenis tanaman nilam tapak tuan dan sidi kalang tersebut. –cahpesisiran, telah diedit utk majalah saudagar-

Kalkulasi Bisnis Nilam

bibit_nilam

INVESTASI nilam tidak sedikit biayanya. “Tetapi bila berjalan, banyak masyarakat yang tertolong karena padat karya,” kata Lesto. Bagaimana dengan perhitungan modal?

“Kalau mau memulai usaha nilam secara terintegrasi, diperhitungkan dari alatnya dulu. Direncanakan mau memproduksi berapa banyak minyak nilam per minggu. Setting alatnya. Dari situ kemudian diseting luasan lahan tanaman nilam yang dibutuhkan. Untuk 1 kg bahan kering harus dikalikan empat,” papar Lesto.

Contoh. Untuk kapasitas alat 200 kg dengan dua kali penyulingan sehari, paling tidak membutuhkan lahan 16 hektare. Dan bisa ditambahkan lagi peralatan sampai kapasitas 800 kg, sehingga sehari dapat menyuling 1.600 kg. “Dengan kapasitas 200 kg, minimal dibutuhkan 12 hektare lahan. Kelipatan berikutnya sama. Return dari investasi lahan dan peralatan tidak sampai dua tahun sudah kembali, walaupun harga naik turun,” paparnya.

Untuk sehektare lahan paling tidak biaya investasinya Rp 35-40 juta. Kalau sehektare ditanami 25 ribu bibit, dan rata-rata produksi–dengan penanaman yang baik– 1 kg dari 1 pohon, maka akan menghasilkan 25 ton. Harga 1 kg tanaman nilam Rp 1.000 atau berarti Rp 25 juta. Biaya lahan dan bibit kurang lebih Rp 40 juta. Berarti dua kali panen, sudah kembali modal.

Tapi untuk biaya perawatan dan sebagainya dihitung tiga kali panen atau setahun baru kembali modal. Pada tahun berikutnya sudah murni pendapatan. “Jadi setahun BEP, tapi secara linear kita anggap saja dua tahun BEP,” jelasnya. Demikian juga untuk alat, dengan tiga kali panen atau satu tahun sudah tertutup. Dengan demikian, pada lahan 16 hektare dibutuhkan biaya Rp 30 juta x 16 = Rp 480 juta. Ini anggaran untuk lahannya saja.

Untuk kebutuhan alat, 1 boiler Rp 90 jutaan. Autoklep Rp 60-70 juta. Kalau punya dua autoklep atau alat penyulingan berarti Rp 120 juta + Rp 90 juta = Rp 210 juta. Ditambah instalasi dan lain-lainnya sekitar Rp 40 juta, total Rp 250 juta. Kemudian plus anggaran lahan Rp 480 juta = Rp 700 juta. “Total anggaran tersebut tahun kedua sudah kembali. Tanaman nilam dapat hidup sampai umur tiga tahun. Tahun kedua hingga ketiga murni keuntungan,” ujar Lesto. Menggiurkan bukan? –cahpesisiran, telah diedit utk majalah saudagar

Investasi Nilam

Sumber: http://bisniskediri.blogspot.com/

Omong-omong soal komoditi ekspor nonmigas, minyak atsiri dari nilam salah satu andalan. Bahkan negeri kita tercatat sebagai pengekspor minyak nilam terbesar di dunia. Meski populer di pasar internasional, anehnya minyak atsiri kurang akrab di telinga kita. Apalagi masih sedikit yang mengenal sosok tanaman nilam dengan baik. Padahal ini peluang bisnis di masa krisis.

Nilam sama sekali bukan nila (nama jenis ikan). Ia merupakan salah satu dari 150 – 200 spesies tanaman penghasil minyak atsiri. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 40 – 50 jenis, tetapi baru sekitar 15 spesies yang diusahakan secara komersial.

Minyak atsiri (atau asiri) juga disebut minyak eteris atau minyak terbang (essensial oil atau volatile). Dinamai demikian karena mudah terbang (menguap) pada suhu kamar (25oC) tanpa mengalami dekomposisi. Aroma minyak atsiri umumnya khas, sesuai jenis tanamannya. Bersifat mudah larut dalam pelarut organik, tapi tidak larut air.

Tanaman nilam punya julukan keren Pogostemon patchouli atau Pogostemon cablin Benth, alias Pogostemon mentha. Aslinya dari Filipina, tapi sudah dikembangkan juga di Malaysia, Madagaskar, Paraguay, Brasil, dan Indonesia. Gara-gara banyak ditanam di Aceh, lantas juga dijuluki nilam aceh. Varietas ini banyak dibudidayakan secara komersial.

Sampai saat ini Daerah Istimewa Aceh, terutama Aceh Selatan dan Tenggara, masih menjadi sentra tanaman nilam terluas di Indonesia (Ditjen Perkebunan, 1997). Disusul Sumatra Utara (Nias, Tapanuli Selatan), Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah (Banyumas, Banjarnegara), dan Jawa Timur (Tulungagung). Umumnya, masih didominasi perkebunan rakyat berskala kecil.

Varietas lainnya, Pogostemon heyneanus, berasal dari India. Juga disebut nilam jawa atau nilam hutan karena banyak tumbuh di hutan di Pulau Jawa. Ada lagi Pogostemon hortensis, atau nilam sabun (minyak atsirinya bisa untuk mencuci pakaian). Banyak terdapat di daerah Banten, Jawa Barat, sosok tanamannya menyerupai nilam jawa, tapi tidak berbunga.

Atsiri penyumbang devisa

Sebagai tanaman penghasil minyak atsiri yang bernilai ekonomi tinggi, nilam bisa menjadi alternatif untuk meningkatkan ekspor nonmigas. Terbukti minyak nilam telah tercatat sebagai penyumbang terbesar devisa negara ketimbang minyak atsiri lainnya.

Volume ekspor minyak nilam periode 1995 – 1998 mencapai 800 – 1.500 ton, dengan nilai devisa AS $ 18 – 53 juta. Sementara data terbaru menyebutkan, nilai devisa dari ekspor minyak nilam sebesar AS $ 33 juta, 50% dari total devisa ekspor minyak atsiri Indonesia. Secara keseluruhan Indonesia memasok lebih dari 90% kebutuhan minyak nilam dunia (Nuryani Y., 2001).

Berdasarkan laporan Marlet Study Essential Oils and Oleoresin (ITC), produksi nilam dunia mencapai 500 – 550 ton per tahun. Produksi Indonesia sekitar 450 ton per tahun, kemudian disusul Cina (50 – 80 ton per tahun). Produk atsiri dunia yang didominasi Indonesia, antara lain nilam, serai wangi, minyak daun cengkih, dan kenanga.

Sebelum diekspor, minyak nilam biasanya ditampung oleh agen eksportir. Harga minyak nilam di pasaran lokal (di tingkat agen eksportir) berkisar Rp 200.000,- – Rp 250.000,- per kg (di New York, AS $ 14 – 23,5). Negara tujuan ekspornya meliputi Singapura, India, AS, Inggris, Belanda, Prancis. Juga Jerman, Swis, dan Spanyol.

Adakalanya petani (terutama yang tidak punya alat penyuling) menjual daun nilam dengan harga Rp 2.000,- per kg (kering) atau Rp 400,- per kg (basah). Penampungnya tidak lain petani pemilik ketel penyuling. Dulu, sebelum petani mengenal alat penyuling, yang diekspor adalah daun kering nilam. Alat penyuling mulai dikenal tahun 1920-an.

Minyak nilam Indonesia sangat digemari pasar Amerika dan Eropa. Terutama digunakan untuk bahan baku industri pembuatan minyak wangi (sebagai pengikat bau atau fixative parfum), kosmetik, dll.

Komponen utama minyak nilam (diperoleh dari penyulingan daun nilam) berupa pachoully alcohol (45 – 50%), sebagai penciri utama. Bahan industri kimia penting lain meliputi patchoully camphor, cadinene, benzaldehyde, eugenol, dan cinnamic aldehyde.

Sebuah referensi menyebutkan, minyak nilam bisa untuk bahan antiseptik, antijamur, antijerawat, obat eksem dan kulit pecah-pecah, serta ketombe. Juga bisa mengurangi peradangan. Bahkan dapat juga membantu mengurangi kegelisahan dan depresi, atau membantu penderita insomnia (gangguan susah tidur). Makanya minyak ini sering dipakai untuk bahan terapi aroma. Juga bersifat afrodisiak: meningkatkan gairah seksual.

Bukan cuma minyak nilamnya yang bermanfaat. Di India daun kering nilam juga digunakan sebagai pengharum pakaian dan permadani. Malahan air rebusan atau jus daun nilam, kabarnya, dapat diminum sebagai obat batuk dan asma. Remasan akarnya untuk obat rematik, dengan cara dioleskan pada bagian yang sakit. Bahkan juga manjur untuk obat bisul dan pening kepala. Remasan daun nilam dioleskan pada bagian yang sakit.

Daun muda lebih berminyak

Kadar minyak atsiri nilam bervariasi, tergantung pada varietasnya. Nilam aceh (Pogostemon cablin), karena tidak berbunga, kadar minyaknya tinggi (2,5 – 5%). Begitu pula sifat minyaknya disukai pasar. Nilam jawa (P. heyneanus) karena berbunga, kadar minyaknya rendah (0,5 – 1,5%). Komposisi minyak atsirinya kurang diminati. Sedangkan nilam sabun (P. hortensis), kadar minyaknya 0,5 – 1,5%, dan jenis ini kurang disukai pasar.

Minyak terbang ini terbentuk melalui proses metabolisme di dalam tanaman. Bagi tanaman nilam, minyak atsiri ibarat feromon yang mampu menarik kehadiran serangga penyerbuk. Sekaligus aromanya dapat mengusir serangga perusak tanaman. Yang pasti, ia berfungsi sebagai makanan cadangan bagi tanaman itu.

Pada dasarnya semua bagian tanaman nilam, sejak dari akar, batang, cabang, dan daun, mengandung minyak terbang. Tapi umumnya mutu rendemen dari akar dan batang nilam lebih rendah daripada daunnya. Demi kelangsungan hidup si tanaman, yang lazim dipanen, ya, daunnya.

Mengingat yang dipanen daunnya, pertumbuhan vegetatif tanaman nilam diupayakan seoptimal mungkin. Kuncinya, ada pada pemupukan, baik pupuk organik (kompos) maupun anorganik (buatan). Yang paling banyak menyimpan minyak atsiri lazimnya tiga pasang daun termuda. Nah, untuk memperbanyak pertumbuhan daun-daun muda bisa dengan cara pemangkasan.

Tanaman dianggap matang dan siap panen kalau sudah berumur enam bulan atau 5 – 8 bulan. Bagian yang dipanen, cabang dari tingkat dua ke atas. Sekitar 20 cm di atas tanah. Biasanya disisakan satu cabang di tingkat pertama untuk mempercepat tumbuhnya tunas baru.

Tiga bulan kemudian (bulan ke-9), cabang dan anakan baru dipanen kedua kalinya. Periode panen berikutnya setiap selang tiga bulan. Hasil panen bisa mencapai 3,5 – 4 ton daun nilam kering, kalau kondisi tanaman bagus.

Pemanenan daun nilam sebaiknya dilakukan pagi hari, atau menjelang petang, ketika musim kering. Maksudnya agar daun tetap mengandung minyak atsiri tinggi (2,5 – 5%). Pemetikan siang hari membuat daun kurang elastis dan mudah robek. Juga transpirasi (penguapan air) daun lebih cepat sehingga kadar minyak atsirinya berkurang. Alatnya bisa berupa sabit, gunting, atau parang tajam.

Nilam yang sudah dipanen dipotong-potong 3 – 5 cm, kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama empat jam (pukul 10.00 – 14.00). Setelah itu diangin-anginkan di atas para-para yang teduh, sambil dibolak-balik 2 – 3 kali sehari selama 3 – 4 hari hingga kadar airnya tinggal 15% (ini kondisi siap suling). Pengeringan tidak terlalu cepat atau terlalu lambat. Terlalu cepat membuat daun rapuh dan sulit disuling. Terlambat kering, daun menjadi lembap dan mudah ditumbuhi jamur. Akibatnya, rendemen atau mutu minyak yang dihasilkan menurun.

Tanamannya kurang dikenal

Di mancanegara komoditi olahan nilam (minyak nilam), sangat populer. Dunia mengakui Indonesia (terutama Aceh) sebagai penghasil utama minyak nilam. Tetapi anehnya, tanaman nilam kurang dikenal oleh masyarakat kita.

Ini barangkali karena sosok tanamannya memang tidak menarik. Ditilik dari segi botani tanaman, nilam termasuk tanaman herba semusim. Tumbuh tegak setinggi 0,5 – 1 m. Percabangannya banyak dan bertingkat mengitari batang (ada 3 – 5 cabang tiap tingkat), dan berbulu. Radius cabang melebar sekitar 60 cm.

Batangnya berkayu dan berbentuk segi empat dengan diameter 10 – 20 cm, berwarna keungu-unguan. Sedangkan daunnya hijau tersusun dalam pasangan berlawanan. Berbentuk bulat lonjong, panjang 10 cm, lebar 8 cm, dengan ujung agak meruncing. Tangkai daun sekitar 4 cm berwarna hijau kemerahan.

Nilam bisa tumbuh di mana saja, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi (0 – 1.200 m dpl). Tapi ia akan tumbuh baik pada ketinggian 10 m – 400 m dpl. Nilam tidak haus air, tapi juga tidak tahan kering. Menghendaki suhu 24 – 28oC, tapi lembab (lebih dari 75%). Curah hujan merata sepanjang tahun (2.000 – 3.500 mm per tahun).

Untuk pertumbuhan optimal, nilam perlu cukup sinar matahari. Namun bisa tumbuh baik di tempat yang agak terlindung. Karena itu oke-oke saja ditanam secara tumpang sari dengan tanaman lain. Di lereng kaki Gunung Ceremai (200 – 1.000 m dpl), di daerah Kuningan (Jawa Barat), tanaman nilam ditumpangsarikan dengan tanaman jagung. Juga tidak protes kalau ditanam di sela-sela lamtoro gung, kelapa, atau karet.

Kondisi tanah datar atau miring (lereng) tidak masalah. Yang penting subur dan berdrainase baik. Tanah liat, tanah berpasir, dan berkapur kurang disukai. Tanah tergenang memudahkan tanaman nilam diserang cendawan Phytoptora. Musuh lainnya yakni serangga perusak daun, nematoda, penyakit buduk, busuk batang, luka batang, dan gejala defisiensi. Juga ulat pemakan daun, ulat penggulung daun, dan belalang.

Nilam diperbanyak dengan stek yang diambil dari batang atau cabang cukup tua, berdiameter 0,8 – 1 cm. Panjang stek 15 – 23 cm. Setidaknya berisi 3 – 5 mata tunas atau tiga helai daun. Stek bisa langsung ditanam di kebun. Lebih baik ditanam dulu di tempat pembibitan, baru dipindahkan ke kebun begitu muncul akar dan tunas baru (3 – 4 minggu). Satu lubang tanam diisi 1 – 3 stek (bibit). Jarak tanamnya mulai dari 30 x 100 cm, 50 x 100 cm, hingga 100 x 100 cm, tergantung kesuburan dan jenis tanah. Sebaiknya, dilakukan pada awal musim hujan.

PENAWARAN KERJA SAMA

Kami akan mengembangkan budidaya tanaman nilam & pengolahan minyak nilam. Lokasi perkebunan di lereng G. Wilis perbatasan Kediri – Ponorogo.
Luas lahan dipersiapkan 300 Ha. Lahan 200 Ha ditanami terlebih dulu dengan pola bertahap penanaman 20 Ha perminggu. Sehingga menjamin kontinuitas hasil tanam. Lahan 100 Ha ditanami setelah 200 Ha mengalami 4x panen. Eksportir di Purwokerto & Citeureup siap menampung hasil panen. Kebutuhan modal lk Rp. 3.000.000.000.
Untuk itu kami membuka kesempatan bagi para pemodal untuk bekerja sama dengan minimum investasi Rp. 50 juta. Sistem bagi hasil & jangka waktu sesuai kesepakatan. Informasi lebih lanjut hubungi :

Contact Person :
Dhofir Alwy
HP. 081.556410859 (sms/call)
Telp. 0354-773.247,779.180, 779.181. Faks. 0354 – 771.737
# Referensi : Arfan

23 Comments »

  1. Terimakasih atas tulisannya, sangat membantu kami memberikan edukasi dan informasi mengenai potensi nilam kepada kelompok peminat di sekitar perusahaan kami. Mohon ijin saya menggunakan tulisan ini sebagai referensi.

    Comment by wahyudi kuncoro — July 25, 2009 @ 2:02 am

  2. Salam Kenal
    Merujuk dari analisa anda, apakah ada kriteria-2 khusus untuk tanah garapan/ lahan nilam tersebut?
    Terima kasih.

    Suwandi

    Comment by UD. Gunung Gede — November 3, 2009 @ 6:02 am

  3. Salam kenal pak..

    Melihat kemampuan produksi bpk rasanya sudah memiliki jaringan perdagangan sendiri..
    Kiranya bpk dapat berbagi informasi mengenai harga nilam yg update, dengan periode waktu per bulan ato bahkan bila memungkinkan per minggu..
    Mohon kiranya dapat membantu kami Himpunan Petani Rajapolah Tasikmalaya, Jawa Barat..

    Terima Kasih.

    Comment by Edi — December 16, 2009 @ 8:48 pm

  4. kami cari tempat untuk penjualan nilam. mohon informasi pemasarannya untuk wilayah sul-sel

    Comment by baso sahrir — August 2, 2011 @ 12:30 am

  5. salam kenal pak..

    saya sangat tertarik dgn tulisannya sehingga langsung menarik naluri saya utk mencoba berbisnis tanaman nilam dan minyaknya. mohon sayaa diinformasikan dimana tempat penjualan nilam dan area pemasaran wilayah sulawesi.

    Terima kasih

    Comment by Imran — September 11, 2011 @ 7:01 pm

  6. go nilam kalau bisa cari ahli nya karna minyak dan tanam nilam harus di kelola dengan tangan yg sudah berpengalaman..> harus mendapat kan PA 35/40.rata itu baru bagus ..?

    Comment by yandhie — January 29, 2012 @ 7:02 am

  7. aceh from hubungi sya jika anda ada pertanyan saya siap untuk membantu..?

    Comment by yandhie — January 29, 2012 @ 7:04 am

  8. kami dari”HIKMAH ATSIRI”dapurang,mamuju utara, sulbar,produksi myk nilam&myk atsiri lainnya,mencari pembeli myk nilam dgn cr pembelian kes,klw ada yg minat krj sama cell aja 081355690796.

    Comment by mustika — February 28, 2012 @ 8:43 am

  9. utk pasar myk nilam di sulawesi barat&sulawesi tengah ada ngak?…mhn infonya di 081355690796.

    Comment by MUSTIKA — February 28, 2012 @ 8:29 pm

  10. aku maujual myk nilam di mn yach….????

    Comment by blackhell2207@yahoo.com — March 14, 2012 @ 1:29 am

  11. Saya, asal bengkulu selatan. Pernah mennam nilam, memanen, hingga menyuling. Saat ini tinggal di jogja, tepatnya kawasan bantul. Saya punya lahan persawahan luas +/- 500 mtr. Ingin mencobA mnnam nilam. Apa langkah awal yg hrs saya lkk ?

    Comment by farhan aprizal — August 18, 2012 @ 9:37 am

  12. Tolong infokan harga minyak per Bulan Agustus 2012……………

    Comment by ARJUN REWA — August 21, 2012 @ 5:01 am

  13. saya asal padang/sumbar,,minta tlong info pembeli minyak nilam,,,by zulfardi8@gmail.com

    Comment by zul — August 24, 2012 @ 9:29 pm

  14. orangtua punya mesin penyuling nilam, kami di bekasi dan pernah menyuling nilam namun tidak berhasil kemudian berhenti.
    bila kami akan memulai menyuling lagi, berapa modal minimum untuk menyuling sampai pemasarannya?

    Comment by arik — August 27, 2012 @ 9:06 pm

  15. halo pak.. harga daun nilam kering 1 kg sekarang pasaran brp yach?

    Comment by ferry — September 3, 2012 @ 4:19 am

  16. Untuk wilayah Bantul ( Pajangan ) , kondisi tanahnya cocok untuk nilam apa nggak ? Trm ksh.

    Comment by farhan aprizal — September 5, 2012 @ 8:29 am

  17. aku penyuling sistem boiler/uap PA 30 Up. . . . daerah lumajang hp 08124963221 Pasar/pembeli minyak tak positif .

    Comment by Haenur Rosiyd — September 9, 2012 @ 7:49 am

  18. saya mau usaha tanam nilam di daerah garut jabar….+- 1HA ada yg bisa bantu info trma ksh… 085221464668

    Comment by raciing — October 3, 2012 @ 1:15 am

  19. saya butuh limbah sisa penyulingannya gan..bisa di order tidak??

    Comment by dita — October 24, 2012 @ 5:06 am

  20. di tempat saya banyak petani nilam,,,kalau harganya cocok para pembeli bisa bekerjasama dg saya………..

    Comment by zul — January 2, 2013 @ 3:42 am

    • kira-kira harganya berapa?
      saya tertarik. tapi bisa dikirim untuk daerah pekalongan jawa tengah gak?

      kalo y anda bisa hubungi saya 085214994942

      Comment by desliana novariza — February 7, 2013 @ 2:31 am

  21. saya punya stok minyak nilam ,kalau bisa bertemu langsung
    posisi di aceh kadar 30% 31%,melayani yang serius
    bisa bertemu langsung
    info hp kami 081919669363

    Comment by deka — January 5, 2013 @ 7:07 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: