Minyak Atsiri Indonesia

Gusmaini, dkk.

TEKNOLOGI PERBANYAKAN BENIH SUMBER TEMU MANGGA

Gusmaini, M. Yusron, dan M. Januwati; Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat

(Perkembangan Teknologi TRO VOL. XVI, No. 1, 2004)

ABSTRAK

Temu mangga (Curcuma mangga Val.) famili Zingiberaceae merupakan tanaman asli daerah tersebar dari Indo-China, Taiwan, Thailand, Pasifik hingga Australia Utara. Temu mangga bermanfaat antara lain sebagai anti bakteri, berfungsi membantu masalah yang berhubungan dengan pencernaan, mengatasi sakit perut, membantu proses penyembuhan rahim setelah melahirkan dan menyembuhkan penyakit kanker terutama kanker payudara. Tanaman temu mangga belum banyak dibudidayakan. Untuk mengembangkan tanaman agar berproduksi optimal, diperlukan benih yang bermutu disamping lingkungan yang sesuai. Untuk memproduksi benih sumber diperlukan kondisi lingkungan yang sesuai antara lain ketinggian tempat dari dataran rendah hingga ketinggian 1000 m dpl, curah hujan 1000 – 2000 mm, membutuhkan cahaya yang cukup banyak, tanah yang cukup gembur dan subur. Di dalam pembudidayaannya diperlukan penanganan yang cukup serius mengenai pengolahan tanah, pengaturan air drainase, penanaman, pemupukan, pemeliharaan, dan cara panen serta penyimpanan yang benar sehingga diperoleh benih sumber secara kuantitas maupun kualitasnya baik

PENDAHULUAN

Banyak yang belum mengenal namanya, secara visual kenampakannya mirip dengan tanaman temu lawak, bila diiris secara melintang terlihat warna kuning, dan mengeluarkan aroma seperti mangga. Curcuma mangga Val., itulah nama latinnya lebih dikenal dengan nama temumangga (temu putih), termasuk famili Zingiberaceae. Tanaman ini banyak ditemukan di Benggala India (Darwis, et al., 1991).

Pada masyarakat Sunda disebut juga koneng bodas dan biasanya dimakan sebagai lalapan, namun di daerah Jawa lebih dikenal dengan nama kunir putih. Dinamakan temu mangga karena aroma rimpangnya spesifik seperti aroma mangga, dapat dikonsumsi sebagai simplisia (diiris, dikeringkan dan direbus) instant, asinan, permen/manisan, sirup, selai, lalapan (rimpang segar), dan botokan. Selain itu juga produk olahnya berupa minyak atsiri, sirup, kristal, oleoresin, dan jam (Hernani dan Suhirman, 2001).

Perhatian masyarakat terhadap tanaman ini semakin meningkat dengan berkembangnya keyakinan masyarakat bahwa tanaman ini dapat digunakan dalam pengobatan kanker, serta makin berkembangnya industri obat tradisional, fitofarmaka, dan food suplement. Saat ini tingkat permintaan akan temu mangga semakin meningkat, sedangkan temu mangga belum banyak dibudidayakan, sehingga di pasaran harga temu mangga cukup tinggi. Cara memproduksi benih ini disusun mengacu pada teknik budidaya jenis curcuma yang lain sehingga dapat diperoleh pertanaman dengan produksi  rimpang baik secara kuantitas maupun kualitas.

SYARAT TUMBUH DAN PENYEBARAN

Temu mangga seperti halnya temu-temuan lain dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai pada ketinggian 1000 m di atas permukaan laut (dpl), dan ketinggian optimum 300 – 500 m dpl (Bautistuta dan Aycardo, 1979; PCARR, 1980). Kondisi iklim yang sesuai untuk budidaya temu mangga yaitu dengan curah hujan 1000 – 2000 mm (Purseglove et al., 1981), baik ditanam pada kondisi dengan sedikit naungan (Balittro, 1990) hingga terbuka penuh (Effendi dan Emmyzar, 1997), tumbuh pada berbagai jenis tanah, untuk menghasilkan produksi yang maksimal membutuhkan tanah dengan kondisi yang subur, banyak bahan organik, gembur dan berdrainase baik (tidak tergenang) (Sudiarto et al., 1998).

Temu mangga merupakan tanaman asli daerah Indo-Malesian yaitu di daerah tropis dan subtropis India. Adapun penyebarannya dari Indo-China, Taiwan, Thailand, Pasifik hingga Australia Utara (Ibrahim et al., 1999).

TAKSONOMI DAN MORFOLOGI

Temu mangga merupakan tanaman herba yang termasuk kedalam sistematika tumbuhan dan diklasifikasikan sebagai berikut :

0g1

Gambar 1. Morfologi temu mangga a: rumpun yang berbunga; b: rimpang

  • Kingdom : Plantae
  • Divisi : Spermatophyta
  • Sub divisi : Angiospermae
  • Kelas : Monocotyledonae
  • Ordo : Zingiberales
  • Famili : Zingiberaceae
  • Genus : Curcuma
  • Species : Curcuma mangga Val.

Species lain dari kerabat dekat temu mangga adalah tanaman temu lawak (Curcuma xanthoriza ROXB.), temu ireng (C. aeruginosa ROXB.), temu putih (C. zeodaria ROSC.) dan kunyit (C. domestica) (Rukmana, 1994).

Temu mangga termasuk tanaman tahunan yang berbentuk rumpun, berbatang semu dan memiliki sejumlah anakan. Rimpang temu mangga bercabang, di bagian luar berwarna kekuningan, sedang warna daging rimpang kuning lebih gelap yang dilingkari warna putih. Daun berbentuk elips-oblong yang meruncing di bagian ujung daun, dengan panjang 15 – 95 cm dan lebar 5 – 23 cm, hijau, terdapat a b warna ungu di bagian tangkai daun. Sistem perakaran tanaman termasuk akar serabut. Akar melekat dan keluar dari rimpang induk. Panjang akar sekitar 25 cm dan letaknya tidak beraturan.

KANDUNGAN DAN MANFAAT

Komponen kimia dari temu mangga belum diketahui secara pasti. Untuk komponen utama minyak atsiri temu mangga adalah golongan monoterpen hidrokarbon, dengan komponen utamanya mirsen (78,6%), β-osimen (5,1%), β-pinen (3,7%) dan α-pinen (2,9%) (Wong et al., 1999), dan senyawa yang memberikan aroma seperti mangga adalah δ-3-karen dan (Z)-β-osimen (Hernani dan Suhirman, 2001).

0t1

Seperti halnya dengan jenis curcuma lain, rimpangnya dapat dimanfaatkan sebagai anti bakteri, berfungsi membantu masalah yang berhubungan dengan pencernaan, mengatasi sakit perut, membantu proses penyembuhan rahim setelah melahirkan dan menyembuhkan penyakit kanker terutama kanker payudara. ]

PRODUKSI BENIH DAN SUMBER

Teknik perbanyakan benih

Dalam memproduksi benih sumber, paling sedikit ada dua faktor yang perlu diperhatikan, yaitu varietas unggul dan teknik budidaya yang optimal. Varietas unggul temu mangga sampai saat ini belum tersedia. Dengan demikian untuk penyambungan dapat digunakan bahan yang telah diseleksi dan dievaluasi dan diketahui sifatsifatnya.

Temu mangga dapat diperbanyak secara vegetatif yaitu melalui pemecahan induk maupun anak (cabang) rimpang. Untuk lahan seluas satu hektar diperlukan benih asal rimpang induk sebanyak 1500 – 2000 kg, sedang benih asal rimpang cabang sebanyak 750 – 1000 kg.

Benih rimpang induk

Rimpang yang digunakan dapat berasal dari dua kriteria Hasil panen tua yang langsung disemai dan rimpang berasal yang sudah disimpan. Caranya rimpang dihamparkan (kering angin), setelah kulit kering dapat disimpan untuk beberapa waktu. Penyemaian dilakukan dengan cara ditimbun sedikit tanah atau mulsa (jerami), disiram dengan air 1 – 2 kali sehari, untuk memelihara kelembaban rimpang hingga tumbuh tunas selama 3 – 4 minggu. Pertunasan dianggap cukup, ditandai dengan sebagian besar rimpang sudah bertunas. Benih dipilih dan dipotong-potong 1 – 2 mata tunas dengan berat 20 – 25 g, kemudian bekas sayatan ditaburi abu dapur untuk menghindari terjadinya kontaminasi.

Benih rimpang cabang

Rimpang cabang hasil panen tua disortir kemudian dilakukan penyemaian sama seperti benih induk Rimpang cabang yang telah bertunas segera dipotong-potong, setiap potongan sebaiknya mengandung 2 – 3 mata tunas. Rimpang cabang yang telah bertunas siap dipindahkan ke kebun.

0g2

Gambar 2. Cara penyemaian dengan jerami

0g3

Gambar 3. Cara penyiapan stek benih dari (a). rimpang induk (atas) dan (b). rimpang cabang (bawah)

BUDIDAYA

Pengolahan lahan

Penyiapan lahan harus dilakukan secara sempurna, yakni dicangkul atau dibajak sedalam 30 cm hingga tanah menjadi gembur.

Penanaman

Penanaman dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) sistem baris dan (2) sistem bedeng). Sistem bedeng diterapkan untuk menghindari genangan air. Bedeng dibuat selebar 120 – 200 cm, tinggi 30 cm dan jarak antar bedeng 30 – 40 cm (PCARR, 1980). Penanaman dapat pula dilakukan dalam bentuk petakanpetakan yang hamparannya agak luas. Disekelilingnya dilengkapi dengan saluran drainase, parit-parit pembuangan air sehingga tidak terjadi genangan air.

Pada bedengan dibuat lubang tanam untuk menanam benih yang telah ditunaskan cara ini membutuhkan biaya yang cukup tinggi.

0g4

Gambar 4. Cara mempersiapkan lahan dalam bentuk bedengan (atas) dan petakan (bawah)

Temu mangga pertumbuhannya akan lebih baik bila ditanam di bawah kondisi sedikit ternaungi. Waktu tanam yang tepat adalah pada awal musim hujan. Jarak tanam yang digunakan bila menggunakan sistem bedengan 25 – 40 cm x 50 cm, sedangkan bila menggunakan larikan, dalam baris 25 cm dan antar baris 45 – 65 cm. Benih ditanam dengan kedalaman 7,5 – 10 cm, kemudian ditutup dengan tanah. Mulsa digunakan untuk menjaga kelembaban tanah sehingga dapat mempercepat pertunasan. Hal ini tergantung kondisi tanah jika tanah mudah kering sebaiknya diberikan pada saat tanam dan bila kondisi tanah lembab (kandungan liat cukup tinggi) diberikan 2 bulan setelahnya.

Pemupukan

Sebagai pupuk dasar digunakan pupuk kandang berkisar 10 – 25 ton/ha, diberikan 1 – 2 minggu sebelum tanam. Pupuk buatan; 200 – 400 kg Urea/ha dengan 2 kali pemberian yaitu pada 1 dan 3 bulan setelah tanam, 100 – 150 kg SP-36/ha dan 80 – 100 kg KCl/ha tergantung lokasi dan kondisi kesuburan tanah (Santoso, et al., 1989).

Pemeliharaan

Pemeliharaan yang dilakukan meliputi; penyiraman, penyiangan, perbaikan drainase, penyulaman, pembumbunan serta pemberantasan hama dan penyakit. Penyiraman Penyiraman dilakukan apabila kondisi tanah menunjukkan keadaan kering terutama pada pertumbuhan awal hingga 3 bulan setelah benih ditanam di lapang.

Penyiangan

Penyiangan dilakukan sesuai dengan kebutuhan, dan dijaga jangan sampai mengganggu perakaran tanaman terutama pada pertanaman muda yaitu hingga berumur 3 – 4 bulan.

Perbaikan saluran drainase

Saluran drainase merupakan hal yang penting, karena apabila kurang baik berakibat terjadi genangan air di pertanaman dan dapat menyebabkan pembusukan rimpang. Hal ini perlu dilakukan apabila antar bedengan atau petakan terdapat tumpukan tanah. A. Sistem Bedengan B. Sistem Petakan parit 120 – 200cm 30 cm Lubang tanam Lubang tanam 30 – 40 cm  Penyulaman Penyulaman dilakukan untuk menggantikan tanaman yang mati atau tidak tumbuh dengan menggunakan benih cadangan, dilakukan pada saat tanaman berumur 3 – 4 minggu. Tujuannya agar diperoleh tanaman dengan pertumbuhan seragam dan saat panen dapat dilakukan bersamaan dan populasi tanaman tetap sama.

Pembumbunan

Pembumbunan dilakukan setelah terbentuk rumpun, dengan maksud agar rimpang selalu tertutup tanah (tidak ada bagian rimpang yang nampak di atas permukaan tanah) dan menjaga drainase tanah sekitar bedengan/ guludan agar tidak tergenang.

Pemberantasan hama penyakit

Beberapa penyakit yang ditemukan pada pertanaman temu mangga adalah penyakit layu bakteri (Pseudomonas solanacearum) dan bercak daun, namun tingkat serangan dan penyebarannya di lapang masih jarang ditemukan (belum mengkhawatirkan seperti pada jahe). Tanaman yang terserang penyakit layu bakteri sebaiknya dicabut dan dimusnahkan atau dibakar, agar tidak menular ke pertanaman sekitarnya. Sedangkan hama utama adalah ulat daun. Gejala serangan hama ini terlihat pada daun muda ataupun tua, daun menggulung, permukaan daun akan berlubang-lubang apabila tidak dikendalikan daun akan habis. Akibat serangan hama ini memang dapat menurunkan produksi.

Cara penanggulangan hama ulat daun ini tergantung tingkat serangan, terdapat dua cara penanggulangannya yaitu;

  • Apabila belum meluas (belum banyak) dapat dilakukan secara alami dengan mengambil ulat tersebut.
  • Apabila serangan telah meluas disemprot dengan insektisida. Jika ulat daun terlihat jelas maka menggunakan insektisida kontak tetapi apabila ulat daun tidak terlihat jelas maka menggunakan insektisida sistemik.

Panen

Waktu panen rimpang tergantung dari asal benih rimpang apabila:

a. Benih berasal dari rimpang induk. Untuk dijadikan benih sebaiknya rimpang berasal dari tanaman yang telah cukup tua umurnya ditandai dengan menguningnya daun biasanya berumur 8 – 12 bulan, dari induk rimpang cukup baik untuk dijadikan benih.

b. Benih berasal dari rimpang cabang. Sebaiknya dari penanaman yang dipanen umur 20 – 24 bulan. Tanaman yang telah menguning daunnya tidak langsung dipanen, tapi dibiarkan tumbuh kembali. Setelah mengalami pengguguran daun yang kedua tanaman baru dipanen.

Cara panen yang baik adalah dengan menggunakan garpu agar rimpang tidak rusak. Rimpang dibersihkan dari tanah dan akar setelah dikeringkan beberapa hari. Walaupun umur panen sudah memenuhi persyaratan namun masih ada bagian yang terlalu muda dan tidak baik untuk dijadikan benih yaitu bagian rimpang dari pertumbuhan terakhir. Hal ini dapat dikenali dari rimpang yang sudah mengalami penyimpanan, ditandai dengan berkerutnya kulit rimpang.

Prosesing benih

Cara penyimpanan. Cara penyimpanan yang dianjurkan adalah dengan menghampar benih pada tempat terbuka sedemikian rupa, sehingga hanya kulit rimpang yang menjadi kering tetapi bagian dalam rimpang tetap baik. Tempat penyimpanan yang baik untuk jumlah banyak adalah di atas rak bambu atau kayu, peti kayu yang tidak rapat atau keranjang bambu atau dibungkus karung. Dalam kondisi itu bibit akan berada dalam kondisi kering. Apabila digunakan karung jangan diisi penuh dan terbuka ujung atasnya, dapat pula dihamparkan dalam ruang berkondidi baik tetapi timbunan rimpang tidak melebihi tebal ± 50 cm.

Kondisi yang cukup baik adalah suatu ruangan dengan syarat-syarat antara lain :

  1. Sirkulasi udara baik melalui ventilasi yang cukup.
  2. Kelembaban udara rendah.
  3. Cukup cahaya dalam ruangan
  4. Tidak bocor.
  5. Dalam penyimpanan ini baik juga diberi perlakuan abu dapur (ditaburi) setelah kulit rimpang nampak kering.

Dengan cara ini maka dapat dihindari tumbuhnya jamur atau kapang.

Standar mutu benih. Standar mutu benih temu mangga yaitu dari hasil panen tua yang telah berumur 8 – 12 bulan. Rimpang yang sudah tua dan dapat digunakan untuk benih ditandai dengan

  1. kandungan seratnya tinggi dan kasar
  2. kandungan patinya tinggi
  3. kulit licin dan keras, tidak mudah mengelupas
  4. warna kulit mengkilap menampakkan tanda bernas.

DAFTAR PUSTAKA

Balittro, 1990. Laporan penelitian perakitan teknologi tepat guna tanaman temu-temuan menunjang intensifikasi tanaman obat di Jawa Tengah Balittro-ARM. 36 hal.

Bautista, O.K. and H.B. Aycardo, 1979. Ginger. Its production, handling processing and marketing with emphasis on export.Dept. of Hortic. College of Agric. UPLB, Los Banos, Phillipines. 80 p.

Efendi, D.S, dan Emmyzar, 1997. Pemeliharaan tanaman. Jahe. Monograf. Balittro (3) : 84 – 91.

Darwis, S.N., M.Indo, dan S. Hasiyah, 1991. Tumbuhan obat famili Zingiberaceae. Seri Pengembangan Puslitbangtri. 17 : 53 – 59. Perkembangan Teknologi TRO VOL. XVI, No. 1, 2004 8

Hernani dan Sintha Suhirman, 2001. Diversifikasi hasil tanaman temu mangga (Curcuma mangga Val.). Tidak dipublikasikan. 12 hal.

Ibrahim bin Jantan, A.S. Ahmad, N.A.M. Ali, A.R. Ahmad dan H. Ibrahim, 1999. Chemical composition of the rhizome oils of four Curcuma species from Malaysia. J.Essent.Oil.Res. 11 : 719 – 723.

PCCR, 1980. The Phillipines recommends for ginger. Phillipines council for agric and resources research. Los Banos. Phillipines.

Purseglove, J.W., E.G. Brown, C.L. Green, and S.R.J. Robins, 1981. Spices. Vol. 2. Longman, New York. 813pp.

Rukmana, R., 1994. Temulawak. Tanaman Rempah dan Obat. Penerbit Kanisius.

Sait, S. dan E.H.Lubis, 1989. Pengaruh umur tanaman terhadap komposisi minyak Curcuma mangga Val. Warta IHP. 6 (2) : 24 – 26.

Santoso, D., A.Barus dan Sudiarto, 1989. Pengaruh dosis pemupukan N dan K terhadap pertumbuhan dan produksi jahe. Makalah pada Simposium I. Hasil Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 25 – 27 Juli 1989.

Sudiarto, K.Mulya, Gusmaini, H. Muhammad, N. Maslahah dan Emmyzar, 1998. Studi peranan bahan organik dan pola tanam organik farming untuk kesehatan dan produktivitas jahe. Lap.Tek Balittro 1997/1998 : 51 – 58.

Wong, K.C., T.C. Chong and S.G. Chee, 1999. Essential of Curcuma mangga Val. and Zijp Rhizomes. J.Essent.Oil.Res. dalam Hernani dan Sintha Suhirman. Diversifikasi hasil tanaman temu mangga (Curcuma mangga Val.). Tidak dipublikasikan. 12 hal.

1 Comment »

  1. apa gunanya temu mangga?

    Comment by cecilia — August 7, 2009 @ 3:49 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers

%d bloggers like this: