Minyak Atsiri Indonesia

Yuharmen dkk.

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA MINYAK ATSIRI  DAN EKSTRAK METANOL LENGKUAS (Alpinia galanga)

Yuharmen*, Yum Eryanti, Nurbalatif ; Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Riau. Untuk korespondensi. Telp: (0761) 65381

ABSTRACT

Many kinds of spice plants grow in Indonesia. One of them is Galangale (Alpinia galanga). This spice is used as not only for cooking, but also as traditional medicine. The determination of antimicrobial activity from its essential oil and methanol extracs is described in this report. Galangale essential oil can retain the  growth of the Bacillus subtilis bactery at the consentration of 6% with the inhibition diameter 9 mm. At the concentration of 8% can retain the growth of Bacillus subtilis and Staphylococcus  aureus bacteries with the inhibition diameter 10 mm and 7 mm  respectively. Galangale essential oil gives active respons toward  Neurospora sp and Penicillium sp at the concentration of 8% and  the inhibition diameter 9 mm and 7 mm respectively. On the other hand, its is inactive toward Escherichia coli bactery and  Rhizopus sp. mold. Among eight methanol extract fractions F4  fraction shows the highest activity. The inhibition diameter of F4  fraction toward Escherichia coli, Staphylococcus aureus and Bacillus subtilis bacteries are 13 mm, 11 mm and 12 mm  respectively. Fractions of F1, F2, F3, and F4 are very active toward Rhizopus sp with the inhibition diameter 15 mm, 19 mm,  17 mm and 17 mm respectively. Methanol extract fractions are  inactive toward Penicillium sp. Otherwise, the fraction of F1, F4,  F5, and F6 have lower activities than that of Neurospora sp, except F7 fraction which has an inhibition diameter area of 18 mm.
Keywords: Alpinia galanga, antimicrobial, essential oil, substitution

PENDAHULUAN

Sejak zaman dahulu masyarakat Indonesia sudah mengenal  dan memakai tumbuhan berkhasiat obat sebagai salah satu upaya penanggulangan masalah kesehatan yang dihadapi. Hal ini telah dilakukan jauh sebelum pelayanan kesehatan formal dengan obat-obatan modern menyentuh masyarakat. Pengetahuan tentang tumbuhan obat merupakan warisan  budaya bangsa turun temurun.

Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan ternyata tidak mampu begitu saja menghilangkan arti pengobatan tradisional. Apalagi keadaan perekonomian Indonesia saat ini yang mengakibatkan harga obat-obatan modern menjadi mahal. Oleh karena itu salah satu pengobatan alternatif yang dilakukan adalah meningkatkan penggunaan tumbuhan berkhasiat obat di kalangan masyarakat. Agar peranan  obat tradisional dalam pelayanan kesehatan masyarakat dapat ditingkatkan, perlu dilakukan upaya pengenalan, penelitian, pengujian dan pengembangan khasiat dan keamanan suatu tumbuhan obat.

Minyak atsiri akhir-akhir ini menarik perhatian dunia, hal ini disebabkan minyak atsiri dari beberapa tumbuhan bersifat aktif  biologis sebagai antibakteri dan antijamur sehingga dapat dipergunakan sebagai bahan pengawet pada makanan dan sebagai antibiotik alami (Aureli 1992; Gundidza et al, 1993).

Salah satu tumbuhan yang telah lama dipergunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai bahan obat-obatan adalah lengkuas (Alpinia galanga). Tumbuhan lengkuas sering dipergunakan sebagai obat penyakit perut, kudis, panu, dan menghilangkan bau mulut (Atjung 1990; Itokawa 1993).  Tumbuhan lengkuas juga dipergunakan sebagai bumbu masak untuk menambah aroma dan citarasa pada makanan.

Dari hasil penelitian pendahuluan yang telah dilakukan, ditemukan bahwa tumbuhan lengkuas mengandung golongan senyawa  flavonoid, fenol dan terpenoid.

Golongan senyawa-senyawa ini sering dipergunakan sebagai bahan  dasar obat-obatan modern. Sebagai contoh, senyawa terpenoid asetoksicavikol asetat, merupakan senyawa yang bersifat antitumor  dari tumbuhan lengkuas (Itokawa 1993). Senyawa artemisin bersifat antimalaria dari tumbuhan Artemisia annua (Compositae). Senyawa ini merupakan jenis seskuiterpen dari golongan terpenoid (Colegate  1993). Senyawa fenolik curcumin yang berasal dari kunyit (Curcuma  longa) bersifat antiimflamasi dan antioksidan (Masuda 1994).

Dalam rangka usaha pengembangan dan pemanfaatan obat tradisional yang telah digunakan secara luas oleh masyarakat, maka perlu dilakukan penelitian untuk pendayagunaan potensi sumber daya alam. Oleh karena itu untuk  mengetahui aktivitas biologis dari senyawa terpenoid, fenolik, flavonoid dan minyak atsiri tumbuhan lengkuas, dalam penelitian ini akan diuji aktivitas antimikrobial terhadap beberapa mikroba bakteri gram-negatif, bakteri gram-positif, dan jamur.

BAHAN DAN METODE

Rimpang lengkuas yang masih segar diperoleh di pasar Kodim Kodya Pekanbaru. Rimpang dibersihkan dan dipotong setebal 1 sampai dengan 2 mm kemudian minyak atsirinya diisolasi dengan alat distilasi Clevenger. Minyak atsiri yang diperoleh dibebaskan dari tapak-tapak air dengan menggunakan Na2SO4 anhidrat. Minyak atsiri lengkuas yang diperoleh disimpan dalam botol gelap pada  suhu 5 0C sebelum dipergunakan untuk uji aktivitas antimikroba.

Rimpang lengkuas dibersihkan dan dipotong kecil-kecil kemudian dikeringkan. Setelah kering  dihaluskan sampai menjadi bubuk. Bubuk ini direndam dengan pelarut  metanol beberapa kali sampai diperoleh ekstrak metanol. Ekstrak metanol ini diuapkan pelarutnya dengan rotary evaporator sampai  diperoleh ekstrak kental metanol yang selanjutnya difraksinasi dengan kromatografi kolom.

Ekstrak total metanol dilakukan fraksinasi dengan menggunakan kromatografi kolom. Elusi  pertama menggunakan pelarut  heksana, kemudian kepolaran eluen  ditingkatkan dengan etilasetat dan  metanol. Hasil elusi ditampung  dalam botol kecil (vial) yang telah diberi nomor urut. Kemudian pada  hasil fraksinasi ini dilakukan uji  kromatografi lapis tipis (KLT).  Vial yang mempunyai harga Rf  sama digabung menjadi satu fraksi. Lalu pada fraksi-fraksi yang diperoleh dilakukan uji aktivitas anti mikroba.

Bakteri untuk uji aktivitas  antibakteri adalah Escherichia coli (gram-negatif), Staphylococcus aureus, dan Bacillus subtilis (gram positif). Jamur yang dipergunakan  adalah Rhizopus sp., Penicillium sp. dan Neurospora sp.

Pelaksanaan uji aktivitas antimikroba dilakukan secara aseptik  dengan metode difusi agar. Untuk  uji aktivitas antibakteri, biakan  bakteri yang telah berumur antara  18 dan 24 jam dalam nutrient broth (NB) dituangkan ke cawan petri  dan ditambah dengan 15 ml nutrient agar (NA) pada 45 0 C. Pada uji aktivitas antijamur, spora jamur  disuspensikan dalam media water pepton dan sebanyak 1 ml dimasukan ke dalam petridis kemudian  ditambahkan media potato dextrose agar (PDA) pada 45 0C. Setelah  agar membeku, dimasukkan kertas cakram (diameter 6 mm) yang telah  dibasahi minyak atsiri dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8% dan 10%  dalam etanol absolut. Sebagai  kontrol pada masing-masing cawan  petri dimasukkan kertas cakram yang telah dibasahi dengan etanol  absolut. Cawan petri ini diinkubasi  dengan cara terbalik selama 24 jam pada suhu 35-37 0C. Daerah bening di sekitar kertas cakram menunjukkan uji positif, diameter daerah bening yang diperoleh diukur, dan dibandingkan dengan senyawa  standar ampisilin dan tetrasiklin.

Pada masing-masing fraksi hasil kromatografi kolom dilakukan  uji aktivitas antimikroba sama seperti terhadap minyak atsiri. Setiap  fraksi dari ekstrak metanol dibuat dengan konsentrasi 10% dalam etanol absolut. Sebagai kontrol digunakan kertas cakram yang dibasahi etanol absolut tanpa sampel. Daerah bening yang terbentuk diukur dan dibandingkan dengan antibiotik ampisilin dan tetrasiklin.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Minyak atsiri berwarna bening dengan aroma lengkuas yang  khas diperoleh dari hasil distilasi  uap rimpang lengkuas. Hasil uji aktivitas antibakteri dan antijamur  minyak atsiri dengan konsentrasi  (% v/v) 2, 4, 6, 8 dan 10% dalam etanol absolut dapat dilihat pada  Tabel 1 dan Tabel 2. Tabel 1  menunjukkan bahwa minyak atsiri  pada konsentrasi 2 sampai 4%  belum dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang diuji. Pada  konsentrasi 6% hanya dapat menghambat pertumbuhan B. subtilis dengan diameter daerah hambatan (DDH) 9 mm. Pada konsentrasi 8%  dapat menghambat pertumbuhan B. subtilis dan S. aureus dengan DDH masing-masing 10 mm dan 7 mm. Dari hasil uji aktivitas ini sampai konsentrasi minyak atsiri 10% belum dapat menghambat pertumbuhan E. coli, diduga bahwa minyak atsiri lengkuas tidak aktif terhadap E. coli.

Hasil uji aktivitas minyak atsiri lengkuas terhadap jamur memperlihatkan bahwa minyak atsiri ini pada konsentrasi 8% sudah dapat menghambat pertumbuhan jamur Penicillium sp. dan Neurospora sp. dengan DDH masing-masing 7 mm dan 9 mm.  Namun sampai konsentrasi 10%  masih tidak aktif terhadap jamur  Rhizopus sp. (Tabel 2).

Ekstrak kental methanol sebanyak 54 g didapat dari hasil perkolasi rimpang lengkuas sebanyak 10 kg dengan pelarut metanol. Fraksinasi ekstrak metanol dengan kromatografi kolom didapatkan sebanyak 8 fraksi. Hasil uji aktivitas antibakteri dan anti jamur kedelapan fraksi ini dengan konsentrasi 10% dalam etanol absolut dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4.

t

Aktivitas antimikroba fraksifraksi ekstrak metanol terhadap  bakteri uji cukup tinggi. Aktivitas tertinggi pada fraksi F4, dengan. DDH masing-masing 13 mm untuk E. coli, 11 mm untuk S. aureus, dan 12 mm untuk B. subtilis. Fraksi F8  tidak menunjukkan aktivitas terhadap bakteri yang diuji. Fraksi F4 dan F5 menunjukkan aktivitas terbesar terhadap B. subtilis dengan DDH masing-masing 12 mm (Tabel 3).

Hasil uji aktivitas antijamur ternyata fraksi F1, F2, F3 dan F4sangat aktif terhadap jamur Rhizopus sp. dengan DDH berturut-turut 15 mm, 19 mm, 17 mm dan 17 mm. Fraksi F4, F5 dan F6 memperlihatkan aktivitas kecil terhadap jamur Neurospora sp. kecuali fraksi F7 (Tabel 4). Hampir semua fraksi tidak aktif terhadap jamur Penicilliium sp. kecuali fraksi F4, aktivitasnya rendah dengan DDH 9 mm.

Bila dibandingkan dengan senyawa standar (antibiotik) seperti ampisilin dan tetrasiklin (Tabel 5),  terlihat bahwa minyak atsiri menunjukkan aktivitas yang lebih rendah, hal ini disebabkan banyaknya komponen senyawa yang kurang aktif pada minyak atsiri lengkuas. Minyak atsiri bukanlah senyawa tunggal tetapi gabungan dari  beberapa senyawa dengan gugus fungsi yang berbeda-beda. Pada  umumnya minyak atsiri yang aktif  mengandung gugus fungsi hidroksil  (-OH) dan keton. Fraksi-fraksi ekstrak metanol dengan konsentrasi  10% menunjukkan aktivitas yang lebih rendah dari pada ampisilin  dan tetrasiklin, disebabkan masing-masing fraksi yang diuji belum murni. Fraksi F4 terhadap B. subtilis aktivitasnya hampir menyamai aktivitas ampisilin.

KESIMPULAN

Minyak atsiri lengkuas sampai  konsentrasi 10% tidak aktif terhadap E. coli dan jamur Rhizopus sp.  Namun pada konsentrasi 6 sampai dengan 8% minyak atsiri lengkuas sudah dapat menghambat pertumbuhan B. subtilis dan S. aureus  serta jamur Neurospora sp. dan Penicillium sp.

Fraksi F4 dari ekstrak metanol memiliki aktivitas antibakteri tertinggi dengan DDH 13 mm untukE. coli, 11 mm untuk S. aureus dan 12 mm B. subtilis. Fraksi F4 dan F5 mempunyai aktivitas tertinggi terhadap B. subtilis dengan DDH sebesar 12 mm.

Fraksi F1, F2, F3 dan F4 ekstrak metanol sangat aktif terhadap jamur Rhizopus sp, sedangkan fraksi F4, F5, F6 dan F7 aktif terhadap jamur Neurospora sp. Fraksi F8 dari ekstrak metanol tidak aktif sama sekali terhadap spesies bakteri dan jamur yang diuji.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penelitian ini pada awalnya didanai oleh DP3M melalui Penelitian Dosen Muda. Tetapi karena keterbatasan dana, ketua Lembaga Penelitian UNRI berhasil mendapatkan sumber dana lain. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih  kepada Ketua Lembaga Penelitian UNRI beserta stafnya yang telah berhasil mengatasi permasalahan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Atjung. 1990. Tanaman Obat dan Minuman Segar. Jakarta: Penerbit  Yasaguna.

Aureli, P., Constantini, A. & Zolea, S. 1992. Antimicrobial activity of some Plant essential oils against  Listeria monocytogenes. Journal  of Food Protection 55: 344-384.

Colegate, S.M. & Molyneux, R.J.  1993. Bioactive Natural Products: Detection, Isolation and Structural Determination. Boca Raton: CRC Press.

Gundidza, M., Deans, S.G., Kennedy, A.I., Waterman, P.G. & Gray,  A.I. 1993. The essential oils from Heteropyxis natalensis Haru: Its  antimicrobial  activities  and  phytoconstituents. J. Sci. Food Agric. 63: 361-364.

Itokawa, H. & Takeya, K. 1993. Antitumor subtances from higher  plants. Heterocycles 35: 1467-1501.

Masuda, T. & Jitoe, A. 1994. Antioxidative and antiinflammatory compounds from tropical gingers.  J. Agric. Food Chem. 42: 1850- 1856.Page 8

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers

%d bloggers like this: