Minyak Atsiri Indonesia

Endang Hadipoentyanti dan Sukamto

PROSPEK PENGEMBANGAN BEBERAPA TANAMAN PENGHASIL MINYAK ATSIRI BARU DAN POTENSI PASAR

Oleh; Endang Hadipoentyanti dan Sukamto

Program Aromatik, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

PENDAHULUAN

Minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman aromatik merupakan komoditas ekspor non migas yang dibutuhkan diberbagai industri seperti dalam industri parfum, kosmetika, industri farmasi/obat-obatan, industri makanan dan minuman. Dalam dunia perdagangan, komoditas ini dipandang punya peran strategis dalam menghasilkan produk primer maupun sekunder, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor. Komoditas ini masih tetap eksis walaupun selalu terjadi fluktuasi harga, namun baik petani maupun produsen masih diuntungkan.

Di Indonesia penggunaan minyak atsiri ini sangat beragam, dapat digunakan melalui berbagai cara yaitu melalui mulut/dikonsumsi langsung berupa makanan dan minuman seperti jamu yang mengandung minyak atsiri, penyedap/fragrant makanan, flavour es krim, permen, pasta gigi dan lain-lain. Pemakaian luar seperti untuk pemijatan, lulur, lotion, balsam, sabun mandi, shampo, obat luka/memar, pewangi badan (parfum). Melalui pernapasan (inhalasi/aromaterapi) seperti untuk wangi-wangian ruangan, pengharum tissue, pelega pernafasan rasa sejuk dan aroma lain untuk aroma terapi. Pemanfaatan aromaterapi sebagai salah satu pengobatan dan perawatan tubuh yang menjadi trend “back to nature” sangat membutuhkan bahan baku yang beragam dan bermutu dari tanaman aromatik.

Keanekaragaman tanaman aromatik yang menghasilkan minyak atsiri diperkirakan 160-200 jenis yang termasuk dalam famili Labiatae, Compositae, Lauraceae, Graminae, Myrtaceae, Umbiliferae dan lain-lain. Dalam dunia perdagangan telah beredar ± 80 jenis minyak atsiri diantaranya nilam, serai wangi, cengkeh, jahe, pala, fuli, jasmin dan lain-lain, sedang di Indonesia diperkirakan ada 12 jenis minyak atsiri yang diekspor ke pasar dunia. Jenis-jenis minyak atsiri Indonesia yang telah memasuki pasaran internasional diantaranya nilam, serai wangi, akar wangi, kenanga/ylang-ylang, jahe, pala/fuli dan lain-lain.

Sebagian besar minyak atsiri yang diproduksi oleh petani diekspor, pangsa pasar beberapa komoditas aromatik seperti nilam (64%), kenanga (67%), akar wangi (26%), serai wangi (12%), pala (72%), cengkeh (63%), jahe (0,4%) dan lada (0,9%) dari ekspor dunia (Ditjenbun 2004; FAO, 2004). Selain mengekspor, Indonesia juga mengimpor minyak atsiri pada tahun 2002, volume impor mencapai 33.184 ton dengan nilai US$ 564 juta, serta hasil olahannya (derivat, isolat dan formula) yang jumlahnya mencapai US$ 117.199-165.033 juta tiap tahun. Diantara minyak atsiri yang diimpor, terdapat tanaman yang sebenarnya dapat diproduksi di Indonesia seperti menthol (Mentha arvensis) dan minyak anis (Clausena anisata). Oleh sebab itu keanekaragaman minyak atsiri Indonesia yang bertujuan untuk ekspor maupun berfungsi sebagai substitusi impor harus ditingkatkan.

MASALAH DAN PELUANG PENGEMBANGAN

Masalah

Perkembangan minyak atsiri di Indonesia berjalan agak lambat, hal ini disebabkan adanya beberapa faktor yang menjadi masalah yang sangat erat kaitannya satu sama lain. Rendahnya produksi tanaman, sifat usahatani, mutu minyak yang beragam, penyediaan produk yang tidak bermutu, fluktuasi harga, pemasaran, persaingan sesama negara produsen dan adanya produk sintetis.

Diperkirakan 90% tanaman aromatik diusahakan oleh petani atau pengrajin di pedesaan dalam bentuk industri kecil. Pengelolaan usahatani bersifat sambilan dengan modal yang kecil dan teknologi seadanya. Belum semua paket teknologi (varietas/jenis unggul, budidaya dan pengolahan/pasca panen) tersedia untuk beberapa komoditas tanaman aromatik, karena banyak ragamnya dan prioritasnya penelitian masih rendah dibanding dengan tanaman perkebunan lainnya. Dengan skala usahatani yang kecil dan kemampuan teknologi yang terbatas sehingga kadang tidak memenuhi persyaratan teknis baik dari penggunaan bahan tanaman (varietas unggul), peralatan mupun cara pengolahan seringkali produksi dan mutu minyak atsiri yang dihasilkan sangat rendah dan beragam, sehingga penyediaan produk kurang mantap.

Fluktuasi harga minyak atsiri yang cukup besar menjadi masalah yang sulit dikendalikan. Umumnya petani menggarap lahan yang sempit dan terbatas, sehingga fluktuasinya sangat berpengaruh terhadap ketersediaan produk. Petani akan malas mengusahakan produk tersebut dan mengalihkan ke usahatani dengan menanam tanaman lain yang harganya lebih menjanjikan atau menghentikan usahanya sama sekali. Untuk menghadapi fluktuasi harga, usaha yang mungkin dapat ditempuh adalah diversifikasi jenis komoditas, baik secara horizontal maupun vertikal. Secara horizontal yaitu dengan menambah keanekaragaman jenis minyak atsiri, sedang secara vertikal menganekaragamkan produk melalui pengolahan lebih lanjut jenis minyak atsiri (Hobir dan Rusli, 2002).

Pemasaran minyak atsiri tidak begitu mudah, lebih-lebih di pasaran internasional seringkali telah diikat oleh berbagai jaringan pemasaran atau sindikat, sehingga eksportir baru tidak mudah masuk ke pasaran internasional. Hal ini juga terjadi dalam pemasaran dalam negeri, sehingga mata rantai pemasaran menjadi lebih panjang dan petani sering dirugikan.

Persaingan antar negara sesama penghasil minyak atsiri dan adanya produk sintetis juga merupakan hambatan terhadap pengembangan minyak atsiri.

Peluang Pengembangan

Peluang pengembangan minyak atsiri hanya dengan meningkatkan produksi suatu komoditas secara maksimal dengan menambah luas areal pertanaman saja tidak akan banyak berpengaruh terhadap peningkatan nilai ekspor, karena harga akan turun apabila over produksi. Yang memungkinkan dipacu adalah untuk keanekaragaman jenisnya (diversifikasi horizontal). Prospek pengembangan tanaman aromatik sebagai penghasil minyak atsiri sebaiknya perlu didukung seperti data pasar dalam dan luar negeri serta tingkat penawaran dan permintaan pasar yang luas. Hal ini diharapkan mampu memberikan data yang lebih akurat untuk memperkirakan prospek pengembangan di masa datang. Berbagai kemungkinan yang mempengaruhi tingkat penawaran dan permintaan termasuk persaingan diantara negara produsen seharusnya juga dijadikan tolok ukur. Dalam makalah ini akan dikemukakan prospek pengembangan beberapa jenis minyak atsiri baru di Indonesia dari segi pasar dalam dan luar negeri serta potensi keanekaragaman tanaman aromatik yang dimiliki serta pemanfaatannya untuk industri.

1. Potensi pasar dalam dan luar negeri

Telah diketahui bahwa sebagian besar minyak atsiri yang diusahakan oleh petani merupakan komoditas ekspor tradisional non migas. Perkembangan ekspor minyak atsiri terus meningkat, untuk tahun 2003 mengalami sedikit penurunan tetapi meningkat dua kali lipat pada tahun 2004 (Tabel 1). Selain mengekspor Indonesia juga mengimpor minyak atsiri. Dengan berkembangnya berbagai industri di dalam negeri, maka kebutuhan minyak atsiri dan turunannya semakin meningkat baik dari segi jenis minyak atsiri maupun volumenya. Data yang pasti berapa proporsi minyak atsiri yang dihasilkan dan yang digunakan dalam negeri sangat sulit diketahui. Namun diperkirakan jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun, yang dapat dilihat dari nilai impor minyak atsiri (Tabel 2).

Kebutuhan minyak atsiri dalam negeri cukup besar baik dari volume maupun jenisnya makin beragam karena kebutuhan industri juga makin pesat dan berkembang ragamnya seperti akhir-akhir ini banyak dimanfaatkan untuk aromaterapi/spa dan lain sebagainya. Dari segi kebutuhan baik untuk ekspor maupun impor masih akan meningkat terus sehingga peluang pengembangan minyak atsiri baik yang telah berkembang maupun minyak atsiri baru masih terbuka luas.

Menurut Kemala (1999) proyeksi nilai impor minyak atsiri dunia dan nilai ekspor minyak atsiri Indonesia dengan menggunakan persamaan regresi menunjukkan bahwa nilai ekspor minyak atsiri Indonesia semakin jauh dari nilai impor minyak atsiri dunia yang artinya bahwa pangsa pasar Indonesia semakin kecil, pada tahun 2010 pangsa pasar Indonesia hanya 1.7%. Hal ini menunjukkan bahwa peluang pasar minyak atsiri Indonesia di pasaran luar negeri (Internasional) masih terbuka luas dan laju peningkatan ekspor Indonesia saat ini masih dapat dan harus ditingkatkan.

Peluang pasar minyak atsiri dalam maupun luar negeri sangat besar. Hal ini seharusnya dapat dimanfaatkan apabila Indonesia mampu mengembangkan dan meningkatkan produksi dengan memperhatikan permintaan dan penawaran. Pengembangan komoditas minyak atsiri sangat ditentukan oleh potensi sumberdaya yang dimiliki yaitu potensi keanekaragaman tanaman aromatik (penghasil minyak atsiri) dan potensi kesesuaian lahan (lingkungan).

0t1
0t2

2. Potensi keanekaragaman tanaman aromatik (penghasil minyak atsiri)

Indonesia kaya akan keanekaragaman/plasma nutfah tanaman aromatik yang menghasilkan minyak atsiri, diperkirakan 160-200 jenis. Dalam dunia perdagangan telah beredar ± 80 jenis minyak atsiri. Di Indonesia jenis minyak atsiri dapat dikatagorikan menjadi 3 kondisi yaitu sudah berkembang, sedang berkembang dan potensial dikembangkan (Tabel 3).

0t3

Untuk minyak atsiri yang sudah berkembang seperti nilam, akar wangi, serai wangi dan kenanga pengembangannya diarahkan pada peningkatan mutunya dengan menggunakan benih unggul dan cara pengolahan (penanganan bahan tanaman dan penyulingan) yang tepat. Selain itu dukungan teknologi budidaya yang direkomendasikan dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) dan efisiensi usahatani yang tepat akan meningkatkan usahatani minyak atsiri yang pada gilirannya akan meningkatkan daya saing minyak atsiri Indonesia di pasar dunia. Karena penambahan areal pada tanaman minyak atsiri yang sudah berkembang tidak akan banyak berpengaruh pada peningkatan nilai ekspor, karena harga akan turun apabila produksi berlebihan.

Untuk minyak atsiri yang sedang berkembang dan potensi dikembangkan perlu adanya studi kelayakan usahataninya dan celah-celah pemasarannya. Ragam minyak atsiri baru sangat berpeluang untuk dikembangkan mengingat peruntukan penggunaannya masih terbuka luas dengan berkembangnya industri makanan, minuman, obat-obatan, aromaterapi dan lain sebagainya. Dengan demikian dari potensi keanekaragaman tanaman penghasil minyak atsiri, Indonesia mempunyai peluang sangat besar untuk mengembangkan minyak atsiri baru.

3. Potensi kesesuaian lahan (lingkungan)

Potensi keanekaragaman tanaman aromatik penghasil minyak atsiri yang dimiliki Indonesia akan dapat dimanfaatkan apabila ditanam pada lingkungan yang sesuai. Indonesia mempunyai wilayah yang luas dengan ragam tanah dan iklim yang berbedabeda. Hal ini memungkinkan untuk pengembangan suatu komoditas minyak atsiri yang cocok pada suatu daerah tertentu sehingga hasilnya maksimal. Seperti diketahui bahwa ekspresi gen itu akan muncul apabila suatu tanaman ditanam pada lahan yang sesuai, sehingga perlu dibuat pewilayahan untuk komoditas minyak atsiri. Balittro telah melakukan beberapa pewilayahan untuk komoditas minyak atsiri seperti pada nilam, serai wangi, akar wangi, palmarosa, ylang-ylang, mentha dan lain-lain.

PENGEMBANGAN MINYAK ATSIRI BARU

Jenis minyak atsiri yang sedang dan potensi dikembangkan cukup banyak. Dalam makalah ini akan dikemukakan 5 jenis tanaman aromatik penghasil minyak atsiri  yang mungkin dikembangkan untuk keperluan industri kimia dan farmasi bik dalam negeri maupun untuk di ekspor.

1. Minyak Klausena (Anis oil)

Minyak klausena dalam dunia perdagangan disebut dengan Anis oil. Minyak anis yang diperdagangkan di pasar dunia berasal dari biji tanaman Pimpinella anisum dan Illiceum verum. Sedang yang terdapat di Indonesia adalah jenis lain yaitu Clausena anisata yang berasal dari Afrika. Tanaman ini biasa digrafting dengan Clausena excavata yang asli Indonesia sebagai batang bawah. Tanaman ini berbentuk perdu, tumbuh baik di dataran rendah sampai 500 m dpl, dengan curah hujan 1500-4000 mm/th, suhu 18-22°C serta mempunyai bulan kering ± 3 bulan. Kandungan utama minyak klausena/anis adalah anethol 85-92,5% yang terkandung dalam daunnya dan rendemen minyak 1,85%. Di kebun Balittro (Solok, Sumatera Barat) tanaman klausena tumbuh baik pada tanah Latosol Merah Kuning dengan ketinggian 460 m dpl dan suhu 18-22°C. Jarak tanam yang biasa digunakan 1,5×2 m dengan populasi ± 3500 tanaman/ha. Tanaman hasil grafting ini sudah dapat mulai dipangkas daunnya pada umur 1,5 tahun yang menghasilkan daun segar ± 0,98 kg/pohon atau setara dengan ± 70 kg minyak/ha/tahun (2x panen) (Zamarel dan Rusli, 1995). Kalau harga minyaknya US $ 8.01/kg (tahun 2004), maka nilai produksi minyak mencapai US $ 560 atau Rp 5 juta. Produksi daun atau minyak akan meningkat sesuai dengan umur tanaman dan frekuensi panen. Mutu minyak anis yang dihasilkan sangat baik karena kadar anetholnya tinggi (Tabel 6).

0t4

Minyak anis banyak digunakan dalam industri sebagai campuran minuman penyegar, farmasi, kembang gula, permen karet, rokok, parfum, pasta gigi dan lain-lain. Negara penghasil utama minyak anis adalah Rusia, Spanyol dan RRC sedang negara pengimpor minyak anis adalah Perancis dan Philipina dengan kebutuhan sekitar 200 ton/tahun (Hobir dan Rusli, 2002). Dengan keunggulan yang dimiliki minyak anis yang berasal dari tanaman klausena, dapat dikembangkan sebagai penghasil minyak atsiri baru untuk peningkatan pendapatan petani dan devisa negara dari komoditas non migas.

2. Minyak Permen (Cormint oil)

Minyak permen yang dihasilkan dari tanaman Mentha arvensis disebut dengan Cormint oil. Mentha arvensis merupakan tanaman introduksi dari daerah sub tropik. Balittro mempunyai 2 klon harapan yaitu Ryokubi dan Taiwan yang berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia karena tidak memerlukan panjang hari untuk berbunga seperti di daerah asalnya (Hadipoentyanti, 1989; Hadipoentyanti 1996). Tanaman yang berbunga ini merupakan indkator terbaik untuk panen karena kadar mentholnya mencapai maksimal. Menthol merupakan kandungan utama minyak Mentha.

Tanaman ini dapat hidup diketinggian 50-1200 m dpl, tetapi yang optimum 350-800 m dpl kisaran suhu yang dikehendaki 20-30°C dengan curah hujan 2000-4000 mm/th, dengan hari hujan 150-240 hari. Tanah yang baik untuk pertumbuhannya adalah tanah yang gembur dan kaya akan bahan organik, pada tanah liat kurang baik tumbuhnya. Apabila tanahnya subur dan cukup air (irigasi) didukung dengan lingkungan (iklim) yang sesuai, produksi tanaman dapat mencapai 1-2 tahun (3-4 kali panen). Sedang pada tanah tegalan dan tadah hujan masa produksi kurang dari 1 tahun (1-2 kali panen).

0t7

Panen pertama terna (daun dan batang) dilakukan 3-4 bulan setelah tanam, pada saat tanaman 50-75% berbunga, panen selanjutnya dilakukan pada saat tanaman berbunga lagi, ini semua tergantung dari teknik budidayanya. Produksi terna basah rata-rata 20-25 ton/ha dengan rendemen 0,6% (terna basah) dan 0,2% (terna kering angin). Kandungan menthol pada M. Arvensis di Indonesia (67,2-84,2%) tidak berbeda jauh dengan yang dihasilkan India yaitu 80,9% (Hadipoentyanti, 1989; Soetopo, 1990; Hobir, 2002). Produksi minyak rata-rata 120 kg/ha/6 bulan. Dengan harga minyak US $ 10.1/kg (tahun 2004) maka nilai produksi minyak dapat mencapai US $ 2424 atau Rp 23 juta/ha/tahun (2x panen/tahun). Karakteristik minyak permen (Cormint oil) ini dapat dilihat pada Tabel 7.

Walaupun kadar menthol pada minyak permen cukup tinggi, menthol total (± 75%) dan menthol bebas (± 52%) namun hasil ini belum stabil dan agak berbeda rasanya dengan yang dihasilkan oleh negara lain. Minyak permen Indonesia lebih segar dan tajam, tetapi rasanya agak pahit. Hal ini disamping karena pengaruh varietas juga kemungkinan disebabkan oleh berbagai faktor iklim, tanah, irigasi, masa panen, penyulingan dan lain-lain.

Minyak permen banyak digunakan dalam industri farmasi, rokok, makanan antara lain untuk pembuatan pasta gigi, minyak angin, balsam, kembang gula dan lainlain. Negara penghasil minyak permen adalah RRC, Brazilia, Taiwan dan India.

3. Minyak Kemangi (Basil oil)

Minyak kemangi dalam dunia perdagangan disebut dengan basil oil atau sering dkenal dengan Sweet basil oil. Balittro memiliki 5 jenis dengan 7 varietas dari Kemangi (Ocimum spp). Berdasarkan senyawa utama dalam minyaknya apat dikenal beberapa tipe basil yaitu tipe Reunion (methyl chavicol, camphor), tipe Eropa (methyl chavicol, linalool), tipe Methyl cinnamate (methyl chavicol, linaool, methyl cinnamate) dan tipe Eugenol (eugenol). Sweet basil oil yang dihasilkan dari Ocimum basillicum masuk dalam tipe Reunion kandungan utama minyaknya adalah methyl chavicol, jenis ini yang banyak dikembangkan.

Tanaman ini berbentuk herba, tegak dengan tinggi ± 1 m dengan ciri batang dan bunga berwarna ungu, daun berwarna hijau keunguan. Seperti halnya mentha, basil juga dipanen pada saat berbunga (50-75%), masa produksi dapat mencapai 2-2,5 bulan tergantung kondisi tanaman dan musim. Jarak tanam yang digunakan 40×30 cm dengan populasi ± 12.000/ha, produksi terna (batang dan daun) segar ± 0,8 kg/tanaman (± 9 ton/ha). Apabila panen dapat dilakukan 3 kali setahun, maka produksinya ± 27 ton/ha/tahun. Rendemen daun kering angin 0,4% sehingga produksi minyak 108  kg/ha/tahun. Apabila harga minyak US $ 35/kg, maka nilai produksi minyaknya adalah US $ 3.780 atau Rp 34 juta/ha/tahun. Mutu minyak basil Indonesia tidak kalah dengan negara lain dan memenuhi Standar Perdagangan (EDA) seperti pada Tabel 8.

0t8

Kandungan senyawa kimia dalam minyak yang dihasilkan dari beberapa jenis Ocimum (Tabel 9).

0t9

0t10

Minyak basil umumnya digunakan dalam industri farmasi dan makanan. Di supermarket sering dijual dalam bentuk daun kering atau bubuk. Selain itu khasiatnya minyak yang dihasilkan oleh beberapa jenis Ocimum spp adalah sebagai pestisida nabati yang berpotensi untuk pengendalian serangga, antara lain sebagai anti feedant, protectant dan lain-lain. Dalam beberapa ramuan tradisional telah diketahui pemanfaatan tanaman Ocimum spp untuk pengobatan beberapa macam penyakit (Tabel 10).

4. Minyak jeringau (Calamus oil)

Minyak jeringau dalam dunia perdagangan disebut dengan Calamus oil yang dihasilkan dari tanaman Acarus calamus. Tanaman tingginya dapat mencapai lebih dari 1 m, hidup liar di tepi-tepi sungai, danau dan rawa-rawa, dari dataran rendah sampai tinggi. Panjang akarnya 60-70 cm pada umur lebih dari 1 tahun. Bagian tanaman yang digunakan aalah rimpangnya dengan cara disuling. Petani di daerah Rangkasbitung ditanam pada tanah podsolik merah kuning dengan jarak tanam 60×30 cm dan dipanen pada 8 bulan setelah tanam menghasilkan 15 ton/ha dengan rendemen minyak hanya 0,48%. Sedang petani di Karanganyar menanam dari klon terpilih dengan jarak tanam 90×60 cm dan di pupuk kandang 6 ton/ha, dipanen lebih dari 1 tahun dapat meningkatkan hasil 2 kali lipat dengan rendemen minyak lebih dari 0,50% (Pribadi et al., 2002). Di Eropa rendemen minyak 0,94-2,2% dan di Jepang dapat mencapai 4,63-6% (Indo, 1972).

Kandungan kimia dalam minyak atsirinya adalah asoron, glikosida (akorina), akoretina, kholin, kalameona, iso kalamendiol, epi isokalamendiol, siobunona, trimetil, saponin, vitamin C. Khasiatnya sebagai karminaif, spasmolitik dan diaforetik. Manfaatnya untuk membangkitkan nafsu makan, mulas, nifas, penenang, pencernaan, radang lambung, kurap (obat luar).

Negara penghasil minyak jeringau adalah India, Jerman, Amerika. Karakteristik minyak jeringau seperti pada Tabel 11.

0t11

Harga di tingkat petani di Solok Padang, rimpang kering (simplisia) Rp 40.000 – 50.000/kg. Apabila rata-rata produksi 6-10 ton/ha/tahun dengan rendemen 0,50% maka produksi minyak 30-50 kg/ha/tahun. Harga minyak jeringau sangat mahal, tahun 2002 dapat mencapai Rp 360.000/kg. Kalau rata-rata produksi minyak 25 kg/ha/tahun maka nilai produksi minyak Rp 9 juta.

5. Minyak bangle (Bangle oil)

Minyak bangle dalam dunia perdagangan belum banyak dikenal, tetapi tanaman ini cukup banyak pemanfaatannya terutama dalam industri farmasi. Minyak bangle berasal dari tanaman Zingiber cassumunar, nama lain Z. purpureum. Tanaman ini berasal dari India, dapat dibudidayakan dari dataran rendah sampai ketinggian 1300 m dpl. Herba semusim berbentuk rumpun, tinggi mencapai ± 2 m. Bagian tanaman yang digunakan rimpangnya. Rimpang agak besar berwarna kuning, rasa pedas, pahit, rasa tidak enak. Rimpang besar 2,5-5 cm dan akarnya berdaging tebal. Tumbuh baik pada tanah yang subur, gembur dengan cukup sinar matahari. Jarak tanam 40×50 cm. Panen rimpang dilakukan setelah tanaman berumur 1 tahun. Produksi 10-30 ton/ha. Rendemen minyak 0,35% sehingga produksi minyak 35-105 kg/ha/tahun Karakteristik minyak bangle dapat dilihat pada Tabel 12.

0t12

Kandungan kimia bangle yang dilakukan Hernani dalam Winarti et al (1995) sebagai berikut :

0t13

Sifat umum yang mudah dikenal pada bangle dlah rasanya pahit, pedas dan aromanya membuat kepala merasa berat dan menghangatkan. Tanaman ini tidak pernah digunakan sebagai bahan makanan dan digolongkan sebagai tanaman yang memiliki khasiat obat. Kandungan kimia adalah sineol dan pinen (Suseno, 1991), alkohol, keton, fenol, terfene dan gula (Hernani, 1990), resin, flavanoid, zat pati dan tanin (Soedibyo, 1998), sineol dan pinen, terpene (Thomas, 1992). Pemanfaatan minyak atsiri bangle adalah untuk industri farmasi sebagai karminatif, anti inflamasi, analgesik dan antipiretik (Thomas, 1992 dan Soedibyo, 1998).

DAFTAR PUSTAKA

Anon., 1985. Bangle. Tanaman Obat Tradisional Indonesia. Balai Pustaka. h.102.

Anon., 2002. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia. Impor. Biro Statistik, Jakarta.

Anon., 2003. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia. Impor. Biro Statistik, Jakarta.

Anon., 2004. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia. Impor. Biro Statistik, Jakarta.

Anon., 2002. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia. Ekspor. Biro Statistik, Jakarta.

Anon., 2003. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia. Ekspor. Biro Statistik, Jakarta.

Anon., 2004. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia. Ekspor. Biro Statistik, Jakarta.

Darwis, S.N., A.B.D. Madjo Indo dan S. Hasiyah, 1991. Bangle. Tumbuhan Obat. Famili Zingiberaceae 87-89.

Hadipoentyanti, E., 1989. Pendugaan parameter sifat kulitatif hasil dan kadar minyak mentha tanaman mentha (Mentha sp) pada tinggi tempat yang berbeda. Tesis S2. Fakultas Pasca Sarjana. UGM. 128 h.

Hadipoentyanti, E., 1991. Analisis antara karakter morfologi dengan hasil dan kadar minyak mentha. Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat VI (1): 47-54.

Hadipoentyanti, E., 1992. Mentha. Edsus Penelitian Tanaman Rempah dan Obat VIII (2): 65-72.

Hadipoentyanti, E., 1996. Klon harapan mentha yang potensial untuk dikembangkan. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri Vol. II (2): 15-17.

Hadipoentyanti, E. Dan Supriadi, 2000. Potensi Ocimum sebagai sumber bahan baku obat. Buletin Kehutanan dan Perkebunan Vol. I (1): 11-19.

Hernani, R., W. Wijanarko dan E. Hayani, 1990. Identifikasi komponen dari bangle secara khromatografi lapis tipis. Bulettin Littro. Balittro V (2): 111-114.

Heyne, K., 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Sarana Wana Jaya. Jakarta. 568-569.

Hobir dan Sofyan, R., 2002. Diversifikasi ragam dan peningkatan mutu minyak atsiri. Makalah pada ”Workshop Nasional Minyak Atsiri” di Cipayung. Dep. Perindustrian dan Perdagangan. 22h.

Indo, Madjo A.B.D., 1972. Tanaman Jeringau. Bhratara. Jakarta. 68 h.

Kemala, S., C. Indrawanto dan L. Mauludi, 1990. Peluang pasar dan potensi pengembangan minyak atsiri Indonesia. Edsus. Littro Vol. I (1): 5-10.

Pribadi, E.R., Hera N. Dan Sudarto, 2002. Kajian usahatani Bangle di lahan podsolik merah kuning. Rangkasbitung. Pross. Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia. XVII. Surabaya 432.437.

Soetopo, D., S. Sufiani dan A. Hamid, 1990. Tanaman Mentha (Mentha piperita L. dan Mentha arvensis L.). Edsus. Littro Vol. I (1): 38-44.

Soedibyo, B.R.A. Mooryati, 1998. Bangle. Alam, Bumbu Kesehatan. Manfaat dan Kegunaan. Balai Pustaka. h.69.

Thomas A.N.S., 1992. Bangle. Tanaman Obat Tradisional Indonesia 2. Kanisius. h.14.

Soeseno, S., 1991. Bangle sebagai obat penenang. Trubus XXII (255): 75-76.

Winarti, C.T. Mawarti dan S. Yuliani, 1995. Potensi Bangle (Zingiber cassumunar ROXB) sebagai obat tradisional. Pross. Simposium Penelitian bahan Obat Alami. VIII: 255-257.

Zamarel dan Sofyan, R., 1995. Budidaya tanaman Klausena dan peluang agribisnisnya. Makalah pada Seminar dan Temu Lapang Teknologi Konservasi Air Berwawasan Agribisnis pada Ekosistem Wilayah Sumatera Barat, Singkarak. 20h

4 Comments »

  1. kami ingin mengembangkan atau membudidayakan tanaman jeringau tetapi kesulitan cara pengolahan dan pemasarannya kepada yang berkepentingan mohon hubungi kami 08817789173. kami telah siap untuk lahan tanah penanaman .

    Comment by wahid.aabdul — July 21, 2010 @ 4:43 pm

  2. Slmt siang..
    Ibu,bs sy minta contact person ibu,sy ingin berdiskusi mengenai atsiri untuk makalah sy.
    Trm ksh..
    Dito 085228892027

    Comment by dito — March 31, 2012 @ 11:58 pm

  3. Perkenalkan saya Anik Setiyaningsih, mahasiswa Teknologi Industri Pertanian, IPB.
    sebelumnya saya mengucapkan terimakasih atas postingannya.
    informasi yang menarik dan bermanfaat sekali.

    ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan..
    apabila bapak/ibu berkenan bolehkah memberikan alamat emailnya agar kita dapat berdiskusi??
    email : anik.iyash@gmail.com
    08568060467

    terimakasih

    Comment by Anik — October 12, 2012 @ 8:52 pm

  4. mksh atas informasi yg diberikan semoga menambah pengetahuan dan wawasan q “Salam atsiri”

    Comment by mulyo — September 15, 2013 @ 11:21 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers

%d bloggers like this: