Minyak Atsiri Indonesia

Feri Manoi

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN PENGGUNAAN MINYAK NILAM SERTA PEMANFAATAN LIMBAHNYA

Oleh: Feri Manoi;  Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

image fm

Nilam (Pogestemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang penting, baik sebagai sumber devisa negara dan sumber pendapatan petani. Dalam pengelolaannya melibatkan banyak pengrajin serta menyerap ribuan tenaga kerja. Teknologi pengolahan minyak nilam ditingkat petani umumnya masih tradisional hal ini disebabkan oleh faktor sosial ekonomi dan faktor terbatasnya teknologi yang diakses sehingga minyak yang dihasilkan mutunya masih rendah. Pengeringan bahan baku nilam lebih baik tidak langsung pada sinar matahari dan penyimpanan bahan tidak lebih dari 1 minggu karena akan menurunkan produksi minyak nilam. Penyulingan minyak nilam dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu penyulingan dengan cara direbus, dikukus dan uap langsung. Minyak nilam dapat digunakan dalam industri parfum, sabun dan kosmetika serta obat-obatan. Kemajuan industri menyebabkan terjadinya peningkatan permintaan minyak didalam maupun diluar negeri. Ekspor minyak nilam Indonesia keluar negeri mencapai puncak pada tahun 1993, sebesar 2.835 ton dengan nilai devisa US$ 20.691.000. Besarnya penggunaan minyak nilam dalam industri parfum, kosmetika dan sabun karena minyak nilam dapat berfungsi sebagai zat pengikat (fiksatif) dan tidak dapat digantikan dengan zat sintetis lainnya. Selain itu minyak nilam juga dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati. Limbah dari hasil penyulingan minyak nilam yang terdiri dari ampas daun dan batang mempunyai potensi dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan dupa, obat nyamuk bakar, dan pupuk kompos serta sisa air dari hasil penyulingan setelah dipekatkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk aroma terapi. Dengan adanya diversifikasi pemanfaatan limbah pengolahan minyak nilam, diharapkan akan dapat meningkatkan nilai ekonomi usahatani nilam. Kata kunci : Teknologi, penggunaan, minyak nilam, pemanfaatan limbah

PENDAHULUAN

Nilam (Pogestemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang penting, baik sebagai sumber devisa negara maupun sebagai sumber pendapatan petani. Ekspor minyak nilam mencapai puncak tertinggi pada tahun 1993 dimana volume ekspor mencapai 2.835 ton dan pemasukan devisa masingmasing sebesar US$ 20.691.000. Dalam 10 tahun terakhir laju peningkatan ekspor mencapai 6 % pertahun. Pada tahun 2004, volume ekspor minyak nilam telah mencapai 2.074 ton dengan nilai sebesar US$ 27.137.000. Indonesia merupakan produsen minyak nilam terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar 90 %. Minyak nilam memiliki potensi strategis di pasar dunia sebagai bahan pengikat aroma wangi pada parfum dan kosmetika (Ditjen Perkebunan, 2006). Prospek ekspor minyak nilam dimasa datang masih cukup besar sejalan dengan semakin tingginya permintaan terhadap parfum dan kosmetika, trend mode dan belum ber 45 kembangnya materi subsitusi minyak nilam di dalam industri parfum maupun kosmetika.

Nilam berasal dari daerah tropis Asia Tenggara terutama Indonesia dan Philipina, serta India, Amerika selatan dan China (Grieve, 2003). Di Indonesia, sentra produksi nilam di propinsi Nanggroe Aceh Darusalam dan Sumatera Utara. Pada sentra tersebut melibatkan banyak pengrajin serta menyerap ribuan tenaga kerja. Sebagai penghasil minyak nilam terbesar, Propinsi Nanggroe Aceh Darusalam memberikan kontribusi 70 % terhadap produksi nasional (Anonimous, 2003).

Walaupun tanaman nilam telah dibudidayakan selama hampir 100 tahun, di daerah penghasil utama (Aceh dan Sumatera Utara), namun sampai sekarang teknologi pengolahan hasilnya masih tertinggal sehingga mutu minyak yang dihasilkan masih rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor sosial ekonomi petani dan faktor teknologi yang diakses masih terbatas.

Minyak nilam merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang digunakan dalam industri parfum, sabun dan kosmetika disamping itu juga dapat digunakan sebagai bahan pembuatan pestisida nabati. Sedangkan limbah sisa dari hasil penyulingan yang jumlahnya berkisar 40 – 50 % dari bahan baku dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan dupa, obat nyamuk bakar, dan pupuk tanaman atau mulsa. Selanjutnya air sisa hasil penyulingan minyak nilam setelah dipekatkan masih dapat dimanfaatkan sebagai aroma terapi.

Minyak nilam diperoleh dari hasil penyulingan daun, batang dan cabang tanaman nilam. Kadar minyak tertinggi terdapat pada daun dengan kandungan utamanya adalah patchauoly alkohol yang berkisar antara 30 – 50 %. Aromanya segar dan khas dan mempunyai daya fiksasi yang kuat, sulit digantikan oleh bahan sintetis (Rusli, 1991). Negara-negara pengimpor utama adalah Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Jerman, Belanda, Jepang dan Australia.

Saat ini harga minyak nilam Indonesia dipasaran dunia sangat berfluktuasi. Pada tahun 1986 – 1997, harga minyak nilam berkisar antara Rp. 20.500,- – Rp. 40.000,-/kg sedangkan pada tahun 1997 – 1999, pernah mencapai Rp. 1.100.000,- – Rp. 1.400.000,- /kg dan pada tahun 2004 harga minyak nilam menjadi Rp.162.000,-/kg. Hal ini adalah karena produksi minyak nilam Indonesia tidak stabil dan mutunya tidak tetap serta beragam. Tidak stabilnya produksi dan mutu minyak nilam Indonesia disebabkan karena teknologi pengolahannya yang belum berkembang dengan baik.

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN MINYAK NILAM

Minyak nilam dihasilkan melalui proses penyulingan, sebelum proses penyulingan biasanya dilakukan perlakuan pendahuluan terhadap bahan yang akan disuling. Perlakuan tersebut dapat dengan beberapa cara yaitu dengan 46 pengecilan ukuran, pengeringan atau pelayuan dan fermentasi (Ketaren, 1985). Proses tersebut perlu dilakukan karena minyak atsiri di dalam tanaman dikelilingi oleh kelenjar minyak, pembuluh- pembuluh, kantong minyak atau rambut gladular. Apabila bahan dibiarkan utuh, kecepatan pengeluaran minyak hanya tergantung dari proses difusi yang berlangsung sangat lambat (Guenther, 1948).

Pengecilan ukuran bahan biasanya dilakukan dengan pemotongan atau perajangan. Perlakuan ini bertujuan agar kelenjar minyak dapat terbuka sebanyak mungkin sehingga memudahkan pengeluaran minyak dari bahan dan mengurangi sifat kamba bahan tersebut. Namun demikian bahan berupa bunga seperti melati dan daun seperti kayu putih dapat langsung disuling tanpa pengecilan bahan terlebih dahulu karena sifatnya bahannya lebih mudah pengeluaran minyak dari jaringan (Ketaren, 1985).

Pelayuan dan pengeringan bertujuan untuk menguapkan sebagian air dalam bahan sehingga penyulingan berlangsung lebih mudah dan lebih singkat. Selain itu juga untuk menguraikan zat yang tidak berbau wangi menjadi berbau wangi (Ketaren, 1985). Menurut Tan (1962) penyulingan daun segar tidak dapat dibenarkan karena rendemen minyak terlalu rendah. Hal ini disebabkan karena sel-sel yang mengandung minyak sebagian terdapat dipermukaan dan sebagian lagi dibagian dalam dari daun. Pada penyulingan daun segar hanya minyak yang berasal dari permukaan saja yang dapat keluar. Dengan pelayuan atau pengeringan, dinding-dinding sel akan terbuka sehingga lebih mudah ditembus uap.

Pengeringan biasanya langsung dibawah sinar matahari, walaupun cara pengeringan tidak langsung lebih baik hasilnya. Penelitian Nurdjanah dan Ma’mun (1994) menyatakan bahwa daun nilam yang tanpa dijemur atau dianginkan selama 2 minggu menghasilkan produksi lebih tinggi yaitu 29,7 ml/2 kg bahan sedangkan dengan dijemur selama 4 jam di panas matahari menghasilkan minyak nilam 27,0 ml/2 kg bahan. Lebih lanjut dikatakan minyak nilam yang dihasilkan dari daun yang mengalami penjemuran mempunyai bilangan ester yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak mengalami penjemuran. Pengeringan langsung dibawah sinar matahari juga menyebabkan sebagian minyak nilam akan turut menguap, dan pengeringan yang terlalu cepat menyebabkan daun menjadi rapuh dan sulit disuling. Sebaliknya bila penyulingan terlalu lambat daun akan menjadi lembab dan timbul bau yang tidak disenangi akibat adanya kapang, sehingga mutu minyak yang dihasilkan akan menurun. Pengeringan nilam dilakukan dengan dihamparkan diatas tikar dan dibalik dari waktu ke waktu supaya keringnya merata dan terhindar dari proses fermentasi dan harus dihindari penumpukan bahan dalam keadaan basah. Tergantung dari teriknya matahari dan kelembaban udaranya, pengeringan membutuhkan waktu selama 3 – 5 hari. Tanda pengeringan sudah cukup apabila sudah timbulnya bau nilam yang lebih  keras dan khas bila dibandingkan daun segar (Guenther, 1948).

Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai perlakuan sebelum penyulingan antara lain untuk mendapatkan rendemen yang optimum dan mutu yang baik. Irfan (1989) melaporkan bahwa pengering anginan daun nilam dengan menghamparkannya didalam ruang dengan ketebalan 5 – 8 cm selama 3, 6, 9 dan 12 hari. Penyulingan miyaknya dilakukan dengan menggunakan cara penyulingan rebus dan kukus dalam ketel 21 cm, ternyata dengan pengering anginan menyebabkan terjadinya penurunan angka kadar minyak menjadi 31,41 %, bilangan ester 9,6515 %, serta komponen golongan terpen dalam minyak nilam 59,67 %. Sebaliknya bobot jenis menjadi 0,9629; indeks bias 1,5262 dan komponen berat yang polar dalam minyak nilam meningkat dengan semakin lama pengering anginan. Selanjutnya terlihat bahwa lama kering angin tidak berpengaruh terhadap rendemen, bilangan asam, putaran optik dan kelarutan minyak dalam alkohol. Semakin banyak proporsi batang dari daun maka semakin berkurang kadar minyak bahan dan rendemen minyak yang dihasilkan. Sebaliknya bobot jenis, indeks bias, puturan optik kearah levo dan komponen berat yang polar dalam minyak meningkat. Perlakuan perbandingan daun dengan batang tidak berpengaruh terhadap bilangan asam dan bilangan ester minyak serta kelarutan minyak dalam alkohol.

Penelitian penyimpanan kering selama dua minggu telah dilakukan Nurdjanah dan Ma’mun (1994), daun nilam sebagian dikering anginkan di ruang saja dan sebagian lagi dijemur. Ternyata produksi minyak dari daun nilam kering pada 0 minggu ke 1 menaik, kemudian dari minggu 1 sampai minggu ke 2 terjadi penurunan kembali. Untuk itu dianjurkan tidak menyimpan daun nilam kering lebih dari 1 minggu. Setelah penyimpanan 1 minggu terjadi penurunan produksi minyak 21,3 % (Tabel 1).

0t1

Pengolahan minyak nilam dilakukan dengan proses destilasi. Proses destilasi adalah suatu proses perobahan minyak yang terikat di dalam jaringan parenchym cortex daun, batang dan cabang tanaman nilam menjadi uap kemudian didinginkan sehingga berobah kembali menjadi zat cair yaitu minyak nilam. Penyulingan minyak nilam dapat dilakukan dengan menggunakan pipa pendingin yang model belalai gajah atau model bak diam. Pemilihan sistim pipa pendingin ini tergantung di lokasi mana alat akan ditempatkan. Pada daerah-daerah yang airnya sulit atau permukaan air tanahnya rendah, maka model bak diam adalah yang terbaik. Ketel alat suling yang banyak digunakan di tingkat petani adalah dari drum bekas dan pipa pendinginnya dari besi yang dimasukkan kedalam bak atau saluran air. Hal ini menyebabkan mutunya menjadi rendah karena minyak yang dihasilkan berwarna gelap dan mengandung zat besi. Pada temperatur yang tinggi, besi dari drum berada dalam bentuk ion akan terikut dengan uap dan terakumulasi dalam minyak.

Penggunaan peralatan penyulingan dari bahan stainless steel perlu diterapkan dan disosialisasikan di tingkat petani, selain untuk meningkatkan kualitas minyak juga dapat meningkatkan rendemen minyak (Anonimous, 2002).

Dewasa ini juga sudah dikembangkan pula modifikasi penyulingan dengan uap langsung yang disebut penyulingan secara hidrodifusi (Meyer, 1984) Untuk mendapatkan mutu minyak yang baik maka alat suling tersebut harus terbuat dari plat steinless steel. Adapun standar mutu minyak nilam yang dianjurkan sesuai standar SNI dapat dilihat pada Tabel 2.

0t2

Pada penyulingan dengan cara direbus, bahan yang akan disuling kontak langsung dengan air mendidih. Bahan tersebut mengapung di atas air atau terendam secara sempurna. Cara penyulingan ini baik digunakan untuk bahan yang berbentuk tepung dan bunga-bungaan yang mudah menggumpal jika dikenai panas, tetapi kurang baik untuk bahan yang mengandung fraksi sabun atau bahan yang larut dalam air. Penyulingan dengan cara dikukus, bahan diletakkan di atas rak-rak atau saringan berlobang.

Ketel suling di isi air sampai permukaan air berada tidak jauh dari saringan. Ciri khas cara ini adalah uap selalu dalam keadaan basah, jenuh dan tidak terlalu panas dan bahan yang akan disuling hanya berhubungan dengan uap dan tidak dengan air panas. Sedangkan penyulingan dengan cara uap, prinsipnya hampir sama dengan penyulingan kukus, tetapi pada penyulingan uap sumber panas terdapat pada ketel uap yang letaknya terpisah dari ketel suling (Guenther, 1948).

0g1
Gambar 1. Diagram alir proses penyulingan minyak nilam

Untuk instalasi skala kecil penggunaan penyulingan cara direbus dan cara dikukus lebih menguntungkan. Sedangkan untuk instalasi skala besar atau skala industri penerapan cara penyulingan uap lebih menguntungkan (Ketaren, 1985). Penyulingan nilam dalam tangki steinless steel dengan cara uap memberikan rendemen dan kadar ”patchouli alkohol” yang lebih tinggi dibandingkan cara rebus maupun kukus. Makin lama waktu penyulingan, makin tinggi rendemen, bobot jenis, bilangan ester dan kadar ”patchouli alkohol” dari minyak yang dihasilkan. Minyak yang dihasilkan dengan cara ini memenuhi standar SNI. Diagram alir proses penyulingan minyak nilam dapat dilihat pada Gambar 1.

Minyak nilam yang dihasilkan disimpan dalam wujud cairan, dikemas dalam drum bersih, kering, keadaan baik, berat netto 200 kg dengan head space sebesar 5 – 10% dari isi drum. Drum penyimpanan minyak nilam harus terbuat dari alumunium atau plat timah putih atau plat besi yang berlapis timah putih, plat besi yang galvanis atau yang didalamnya dilapisi dengan lapisan yang tahan minyak nilam. Untuk tujuan ekspor, pada bagian luar drum harus diberi keterangan dengan cat yang tidak mudah luntur, yaitu nama barang, negara asal produk, nama perusahaan, berat netto, berat bruto, negara tujuan dan keterangan yang diperlukan.

Perkembangan teknologi pengolahan minyak nilam di negara-negara maju sudah demikian pesatnya, namun Indonesia belum mampu mengikuti perkembangan tersebut. Pemacuan industri minyak nilam sangat diperlukan. Disain peralatan yang memenuhi standar yang lebih baik akan meningkatkan rendemen dan kualitas produk, meskipun harga peralatan relatif lebih mahal, akan tetapi untuk jangka panjang akan lebih murah dan menguntungkan (Harfizal, 2002).

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PENGGUNAAN MINYAK NILAM

Salah satu kendala yang dialami adalah masih terbatasnya sasaran ekspor minyak nilam karena importir yang membeli minyak nilam Indonesia masih minim. Sejak munculnya kompetitor baru seperti Philipina dan China, daya saing minyak nilam di pasaran internasional menjadi lebih ketat. Padahal saat ini banyak sekali produk hilir minyak nilam yang muncul baik sebagai bahan kosmetika, aroma terapi, parfum dan obat-obatan. Selama dua dekade sejak tahun enam puluhan, sebagian besar produk minyak nilam diarahkan sebagai zat pengikat (fiksatif) pada industri parfum. Komponen utama dalam minyak nilam yang dipakai sebagai zat pengikat tersebut hanya ”pachouli alkohol”.

Berdasarkan kenyataan ini, sudah saatnya Indonesia tidak lagi melakukan ekspor minyak nilam mentah, tetapi harus dilakukan peningkatan nilai tambah dari produk minyak nilam tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menyiapkan teknologi pengolahan minyak nilam ditingkat ekportir, sehingga produk yang diekspor kepasaran internasional adalah berupa komponen-komponen minor lainnya yang sesuai dengan perkembangan industri saat ini. Minyak nilam adalah minyak atsiri yang diperoleh dari daun, batang dan cabang nilam dengan cara penyulingan.

Minyak yang dihasilkan terdiri dari komponen bertitik didih tinggi seperti patchouli alkohol, patchoulen, kariofilen dan non patchoulenol yang berfungsi sebagai zat pengikat (fiksatif) (Ketaren, 1985). Jenis minyak nilam bersifat fiksatif, oleh karena itu minyak nilam banyak digunakan oleh industri parfum, sabun dan kosmetika atau obat-obatan bahkan juga sebagai pestisida.

Industri parfum

Perkembangan industri parfum dalam negeri terus berkembang sehingga permintaan akan minyak nilam cukup besar, dan ini akan terus berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi khususnya dalam bidang gaya hidup (style).

Minyak nilam adalah minyak atsiri yang tergolong pada kelompok aroma akhir (end note) dimana aromanya dapat bertahan lama, dan minyak nilam sendiri sebenarnya telah dapat disebut sebagai parfum (Guenther, 1948).

Menurut Ketaren (1985) minyak nilam dapat berfungsi sebagai zat pengikat yang baik jadi sangat penting sebagai bahan pembuatan parfum. Zat pengikat adalah suatu senyawa yang mempunyai daya menguap lebih rendah atau titik uapnya lebih tinggi dari zat pewangi, sehingga kecepatan penguapan zat pewangi dapat dikurangi atau dihambat. Penambahan zat pengikat ini didalam parfum bertujuan untuk mengikat bau wangi dengan mencegah laju penguapan zat pewangi yang terlalu cepat, sehingga bau wangi tidak cepat hilang. Komposisi minyak nilam yang digunakan dalam suatu parfum dapat mencapai 50%.

Dalam industri parfum, minyak nilam tidak dapat digantikan oleh zat sintetik lainnya karena sangat berperan dalam menetukan kekuatan, sifat dan ketahanan wangi. Hal ini disebabkan oleh sifatnya yang dapat mengikat bau wangi dari bahan pewangi lain dan sekaligus dapat membentuk bau yang harmonis dalam suatu campuran parfum (Guenther, 1948).

Industri sabun dan kosmetik

Industri sabun dan kosmetik dalam negeri juga berkembang dengan baik sehingga kebutuhan akan minyak nilam sebagai bahan baku industri terus meningkat.

Fungsi minyak nilam dalam industri sabun dan kosmetik tidak berbeda dengan pada industri parfum yaitu sebagai zat pengikat agar wewangian tidak cepat hilang pada saat pemakaian. Banyaknya industri sabun dan kosmetik menggunakan minyak nilam sebagai pengikat karena sampai saat ini minyak nilam masih yang terbaik sebagai pengikat bahan. Disamping itu juga dapat bermanfaat sebagai antiseptik untuk mengobati gatal-gatal pada kulit.

Pestisida

Daun Tanaman nilam dapat digunakan sebagai bahan baku pestisida, Menurut Dummond (1960) daun nilam digunakan sebagai insektisida terutama untuk mengusir ngengat kain (Thysanura) karena didalam mengandung zat yang tidak disukai oleh serangga tersebut, karena terdapat dalam komponen minyak nilam seperti α pinen dan β pinen. Dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa minyak nilam dapat digunakan sebagai pengendali populasi serangga karena sifatnya sebagai bahan penolak dan penghambat pertumbuhan serangga. Sebagai pengendali hama, minyak nilam mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan sebagai salah satu bahan baku insektisida nabati. Menurut Mardiningsih, dkk (1998) ada beberapa keuntungan menggunakan insektisida nabati antara lain tidak mencemari lingkungan, lebih bersifat spesifik dan hama tidak mudah menjadi resisten.

Mardiningsih, dkk (1998) melaporkan bahwa minyak nilam dapat digunakan  untuk mengendalikan hama, baik hama gudang maupun hama tanaman. Minyak nilam mampu mematikan populasi Stegobium paniceum, yang merupakan hama ketumbar selama penyimpanan. Dengan mengoleskan sedikit minyak nilam disekitar dinding tempat penyimpanan, populasi Stegobium paniceum dapat berkurang sebesar 25 – 42 % setelah penyimpanan 9 hari.

Menurut Grainge dan Ahmed (1987) bagian akar, batang dan daun tanaman nilam dapat membunuh ulat Crocidolomia binotalis dan Spodotera litura yang merupakan hama penting pada tanaman, sedangkan daun dan pucuk nilam dapat membasmi semut (Formicida) dan kecoa (Blattidae) didalam rumah.

Dari hasil penelitian Mardiningsih, dkk (1994) minyak nilam bersifat menolak beberapa jenis serangga seperti ngengat kain (Thysanura lepismatidae), Sitophilus zeamais (kumbang jagung), dan Carpophilus sp. (kumbang buah kering). Menurut Grainge dan Ahmed (1987) minyak nilam juga bersifat menolak Aphid (kutu daun), nyamuk dan Pseudaletia unipuncta.

Pemanfaatan lainnya

Selain sebagai pengikat wangi pada parfum, kosmetika dan sabun serta sebagai pestisida ternyata minyak nilam berkhasiat sebagai antibiotik dan anti radang karena dapat menghambat pertumbuahan jamur dan mikroba. Dapat digunakan untuk deodoran, obat batuk, asma, sakit kepala, sakit perut, bisul dan herpes. Minyak nilam merupakan minyak eksotik yang dapat meningkatkan gairah dan semangat serta mepunyai sifat meningkatkan sensualitas. Biasanya digunakan untuk mengharumkan kamar tidur untuk memberi efek menenangkan dan membuat tidur lebih nyenyak (anti insomia).

Dalam hal psikoemosional, minyak nilam termasuk dalam aroma terapi yang belakangan ini semakin populer sebagai salah satu aspek pengobatan alternatif, karena minyak nilam mempunyai efek sedatif (menenangkan) dapat digunakan untuk menanggulangi gangguan depresi, gelisah, tegang karena kelelahan, stres, kebingungan, lesu dan tidak bergairah serta meredakan kemarahan.

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PEMANFAATAN LIMBAH

Limbah hasil prosesing minyak nilam banyak dijumpai diindustri penyulingan minyak nilam. Besarnya volume limbah nilam seringkali menjadi masalah bagi pihak industri pengolahan itu sendiri maupun lingkungan.

Dengan memanfaatkan limbah tersebut menjadi produk yang berguna merupa kan cara bijak yang harus ditempuh untuk mengatasi masalah. Hasil samping dari penyulingan minyak nilam adalah limbah yang terdiri dari ampas sisa daun dan batang, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuat dupa, obat nyamuk bakar, pupuk kompos dan bahan bakar penyulingan. Sedangkan air sisa penyulingan dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk aromaterapi. Dengan dimanfaatkan limbah menjadi produk yang berguna juga akan meningkatkan nilai ekonomi dan menambah pemasukan pada industri pengolahan minyak nilam.

Dupa

Sisa dari hasil penyulingan minyak nilam masih dapat dimanfaatkan untuk bahan pembuat dupa, karena mempunyai aroma yang khas/harum. Ampas tersebut dijemur kemudian digiling dan siap digunakan sebagai bahan baku pembuat dupa berbentuk lidi (joss stick). Dalam pemrosesannya bubuk halus ampas dicampur dengan bahan perekat (gum Arabic, dan dentrose), tepung onggok, tepung tempurung, pewarna dan pewangi lainnya. Semua bahan tersebut dicampur dibuat adonan dan selanjutnya dicetak berbentuk lidi.

Obat nyamuk bakar

Seperti diketahui bahwa minyak nilam selain mempunyai aroma yang khas juga bersifat menolak serangga. Dewasa ini industri obat nyamuk bakar berkembang pesat di Indonesia dan pemakaiannya mencapai seluruh pelosok ditanah air. Komponen yang terkandung dalam formula obat nyamuk bakar antara lain adalah bahan pengisi (organic filler) dan bahan pewangi.

Bahan pengisi yang biasa digunakan untuk obat nyamuk bakar antara lain serbuk tempurung kelapa atau ampas tebu. Sedangkan pewangi yang biasa digunakan misalnya kenanga dan bunga melati. Dengan menggunakan ampas dari penyulingan minyak nilam sebagai organic filler, maka obat nyamuk bakar akan beraroma harum ketika digunakan. Sebagai bahan pengisi, ampas nilam selain berbau harum juga bersifat menolak nyamuk ketika obat nyamuk tersebut dibakar.

Penggunaan lainnya

Limbah nilam yang berupa daun-daunan dan batang dapat digunakan sebagai pupuk kompos atau mulsa. Ampas nilam yang digunakan sebagai pupuk pada tanaman lada mampu meningkatkan produksi lada. Hal ini disebabkan karena didalam limbah nilam masih terdapat bahan aktif yang dapat bersifat menolak (repellent) serangga Lophobaris piperis yang merupakan salah satu hama tanaman lada (Mardiningsih, dkk, 1998).

Penggunaan limbah nilam sebagai pupuk kompos dapat menghemat pemakaian pupuk Nitrogen sebesar 10 % dan disamping itu juga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Di Bengkulu limbah nilam disamping digunakan sebagai pupuk di sawah, juga berfungsi sebagai penolak hama wereng. Kompos limbah sisa hasil prosesing minyak nilam mempunyai kandungan hara yang cukup tinggi dan potensial bagi sumber pupuk organik alternatif yang bermutuh tinggi (Djazuli, 2002).

Ampas nilam juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk proses penyulingan, sehingga bisa menghemat bahan bakar. Abu sisa dari pembakaran dapat digunakan sebagai pupuk tanaman. Sedangkan sisa air bekas penyulingan nilam menghasilkan aroma cukup wangi, ini dapat dipekatkan sehingga digunakan untuk aroma terapi. Perlakuan aromaterapi dengan menggunakan sisa air bekas penyulingan telah banyak digunakan untuk menenangkan jiwa.

KESIMPULAN

Penyulingan minyak nilam dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu penyulingan dengan direbus, dikukus dan uap langsung, bahan baku nilam sebaiknya tidak dijemur dengan matahari langsung karena akan menurunkan rendemen hasil. Prospek minyak nilam dimasa datang masih cukup besar sejalan dengan semakin tingginya permintaan pasar luar dan dalam negeri.

Penggunaan minyak nilam terus meningkat sejalan dengan perkembangan industri parfum, sabun dan kosmetik, pestisida dan industri lainnya yang menggunakan minyak nilam sebagai bahan dasarnya. Pemanfaatan limbah berupa ampas dari penyulingan minyak nilam berpotensi besar untuk bahan pembuatan dupa, obat nyamuk bakar, dan pupuk tanaman. serta sisa air penyulingan sebagai bahan untuk aroma terapi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 1991. Standar Nasional Indonesia Minyak Nilam (SNI 06- 2385-1991). Dewan Standarisasi Nasional. Jakarta.

Anonimous, 2002. Raw material and processing, WWW. H&rscents. com.

Anonimous, 2003. Data hasil produksi perkebunan Propinsi Nanggroe Aceh Darusalam dalam sepuluh tahun. Dinas Perkebunan Propinsi NAD. Banda Aceh.

Dummond, H.M., 1960. Patchouly oil. Patchouly oil journal of perfumery and essential oil record.

Ditjen Perkebunan, 2006. Statistik Perkebunan Indonesia 2003 – 2005, Nilam (Patchouli). Departemen Pertanian, Jakarta. 19 hal.

Djazuli, M., 2002. Pengaruh aplikasi kompos limbah penyulingan minyak nilam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman nilam (Pogostemon cablin L.) Prosiding Seminar Nasional dan Pameran Pertanian Organik. Jakarta, 2 – 3 Juli 2002. hal 323 – 332.

Grainge, E. and S. Ahmed, 1987. Handbook of plant with pest control properties. A Wiley-Intercience Publication, New York.

Grieve, M., 2003. A modern herbal, patchouli, WWW.botanical.com

Guenther, E., 1948. The essensial oils. Vol.1.D. Van Nostrand Compay. Inc., New York, 367 hal.

Harfizal, 2002. Jurnal saint dan teknologi, WWW.iptek.net.id

Irfan, 1989. Pengaruh lama kering anginan dan perbandingan daun dengan batang terhadap rendemen dan mutu minyak nilam (Pogostemon cablin Bent) Skripsi. Fateta- IPB. Bogor.

Ketaren, S., 1985. Pengantar teknologi minyak atsiri. Balai Pustaka. Jakarta.

Mardiningsih, T.L, Wikardi, E.A, Wiratno dan Ma’mun, 1998. Nilam sebagai bahan baku insektisida nabati. Monograf Nilam. Balittro, Bogor.

Meyer, B., 1984. Natural essential oils. Extraction Processes and Aplication to some Major oils. Perfumer and Flavorist Vol. 9. hal. 93 – 104.

Nurdjannah, N. dan Ma’mun, 1994. Pengeringan bahan dan Penyimpanan daun nilam kering. Pemberitaan Litantri XX (1 – 2) : 11 – 15. Puslitbangtri. Bogor.

Rusli, S., 1991. Pemurnian/peningkatan mutu minyak nilam dan daun cengkeh. Prosiding Pengembangan Tanaman Atsiri di Sumatera, Bukit Tinggi, 4 – 8 – 1991. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. hal. 89 – 96.

Tan Hong Sieng, 1962. Minyak Atsiri. Balai Penelitian Kimia PNPR. Nupika-Yasa Deperindag. Penerbit Kantor dan Penyuluhan Deperindag. Bogor.

Profil

Nama: Ir. Feri Manoi
Unit Kerja: Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika
Pendidikan: S1
Jabatan: Peneliti Muda
Bidang Penelitian: Teknologi Pascapanen
E-mail: fmanoi@yahoo.com, balitro@litbang.deptan.go.id
Komoditas Tanaman ObatIr. Feri Manoi mendapat gelar sarjana pertanian (jurusan Budidaya Pertanian) pada tahun 1986 dari Universitas Sam Ratulangi Manado.

Yang bersangkutan sekarang ini sebagai staf peneliti Pasca Panen pada Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor. Sebelumnya pernah menjadi kepala Instalasi Bengkel dan Peralatan di Sub Balai Penelitian Kelapa Pakuwon (tahun 1994 -1997); Kepala Urusan Kerjasama Penelitian pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Bogor (tahun 1999-2002)

Jenjang fungsional Ajun Peneliti Madya diperoleh tahun 2003, dengan bidang yang dipilih adalah Pasca Panen. Selain itu juga aktif mempublikasikan karya ilmiah dan hasil penelitian sekitar 50 makalah, baik sebagai penulis tunggal atau penulis kedua dan ketiga, yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah, buletin ilmiah, majalah semi ilmiah, prosiding. Disamping itu beberapa kali menjadi redaksi prosiding.

2 Comments »

  1. Pak saya lagi kiut lomba buat kontrol suhu alat destilasi minyak asiri. SAya mau tanya sebenarnya pad asuhu seperti apa minyak asiri yang dihasilkan paling bagus?

    Bagaimana dengan tekanannya pada tabung destilasi apakah juga perlu diatur?

    terima kasih dan mohon bantuannya.

    Comment by asrul — August 22, 2009 @ 4:42 pm

  2. Mohon infonya, Sama seperti penanya terdahulu. untuk penyulingan minyak Nilam , berapa suhu yg ideal dan apa perlu alat kontrol suhu pd ketel destilasi? apa bila suhunya naik turun/ tidak stabil apakah berpengaruh terhadap kwalitas minyak? dan tekanan dalam ketel apakah perlu diatur? Terimakasih.

    Comment by Drs. I Ketut Sumeinaka — May 18, 2012 @ 9:44 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Get a free blog at WordPress.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers

%d bloggers like this: